Running Text - Dr. Rizal Akbar
Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil adalah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai dan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Beliau juga merupakan Doktor Ekonomi Islam terbaik Universitas Trisakti Jakarta tahun 2016 dan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Komite Organisasi, Wilayah dan Komisariat. Anak bungsu dari pasangan H. Akbar Ali (Alm) dan Hj. Aisyah (Almh) ini lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974. Memulai pendidikan di SD Negeri 61 Sungai Alam, SMPN 3 Bengkalis dan SMAN 2 Bengkalis. Sarjan S1 Diselesaikannya di Universitas Riau, Pada Jurusan Matematika FMIPA, Tahun 1998. Menyelesaikan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada tahun 2007 dengan gelar Master Of Philosopy (M. Phil) yang selanjutnya mengantarkan beliau pada program Doktor di Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 2016 dengan kelulusan Cumlaude, dan Doktor Ekonomi terbaik I.

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa tahun 2025

Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara

Rizal Akbar Terima Anugrah Hang Tuah DMDI

Anugrah diserahkan langsung oleh TYT Tun Seri Setia Dr. Hj Mohd Ali Bin Rustam

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat.

Rizal Akbar Ikut Dilantik Menjadi Pengurus DPP IAEI 2025-2030

Ketum IAEI Pusat yang Juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA: Sinergi Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Rizal Akbar Pembicara Pada Seminar Internasional Pesisir Selat Melaka

Bentangkan Rekonstruksi Sejarah Ekonomi Maritim Selat Melaka Pada Forum Seminar Internasional di UiTM Shah Alam Malaysia

Rizal Akbar Terima Anuggrah Darjah Mahkota Muda

Kesultanan Pagaruyung Darur Qarar

Senin, 24 Agustus 2026

Siak Bukan Riau: Jejak Konflik, Identitas, dan Gagasan Provinsi Sri Indrapura dalam Hikayat Siak


Gagasan pembentukan daerah otonomi baru di kawasan pesisir timur Riau selama ini ya diperkenalkan dengan nama Provinsi Riau Pesisir, yang mencakup Kabupaten Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai. Secara geografis, istilah tersebut cukup mudah dipahami karena kelima daerah mempunyai hubungan yang kuat dengan pesisir, sungai, jalur perdagangan, pelabuhan, serta Selat Melaka. Namun ketika wacana pemekaran dibaca kembali melalui sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah nama “Riau” merupakan identitas historis yang paling tepat bagi provinsi baru tersebut?

Pertanyaan itu menjadi menarik ketika kita membaca Hikayat Siak. Dalam teks tersebut, Siak dan Riau tidak selalu tampil sebagai satu ruang politik yang sama, melainkan sebagai dua pusat kekuasaan yang dapat dibedakan dan dalam sejumlah episode justru saling berhadapan. Karena itu judul “Siak Bukan Riau” dalam tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai penolakan terhadap Provinsi Riau modern, apalagi sebagai upaya memutus sejarah masyarakat Siak dari Riau hari ini. Ungkapan tersebut digunakan sebagai tesis historiografis: dalam konteks politik abad ke-18 sebagaimana direpresentasikan dalam Hikayat Siak, Siak mempunyai jalur pembentukan kekuasaan, legitimasi, dan identitas politiknya sendiri yang berbeda dari pusat Johor-Riau.

Perbedaan konteks ini harus ditegaskan sejak awal. Riau dalam Hikayat Siak bukan identik dengan Provinsi Riau yang dikenal sekarang. Istilah Riau pada masa itu lebih berkaitan dengan pusat politik Johor-Riau dan kawasan kepulauan yang menjadi arena berkembangnya kekuasaan Melayu-Bugis. Sementara itu, Siak berkembang di pesisir timur Sumatra sebagai pusat kekuasaan yang dibangun oleh Raja Kecil dan keturunannya. Karena itu, pembacaan sejarah harus menghindari anakronisme dengan memaksakan batas administratif abad ke-21 kepada dunia politik abad ke-18.

Raja Kecil dan Akar Konflik Siak–Riau

Salah satu poros utama Hikayat Siak adalah kisah Raja Kecil, tokoh yang menjadi dasar legitimasi dinasti Siak. Dalam narasi hikayat, Raja Kecil dikonstruksikan sebagai keturunan Sultan Mahmud Syah II dari Johor. Klaim genealogis ini sangat penting karena menjadi dasar bagi tuntutannya atas takhta Johor. Dengan demikian, perjuangan Raja Kecil bukan digambarkan hanya sebagai ekspansi politik seorang penguasa baru, tetapi sebagai usaha mengembalikan hak dinasti yang dianggap sah.

Raja Kecil berhasil menguasai Johor pada 1718 dan memerintah dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Akan tetapi, kekuasaannya kemudian ditantang oleh Tengku Sulaiman, putra Bendahara Abdul Jalil, yang memperoleh dukungan kuat dari kelompok Bugis. Pada 1722, Raja Kecil kehilangan kontrol atas pusat Johor dan kemudian membangun basis kekuasaannya di kawasan Sungai Siak. Dari sinilah terbentuk pusat politik yang kelak berkembang menjadi Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam memahami identitas Siak. Siak tidak lahir sebagai cabang administratif Riau sebagaimana sebuah kabupaten berada dalam provinsi pada masa kini. Sebaliknya, Siak tumbuh dari kontestasi atas warisan politik Johor-Melaka dan kemudian berkembang menjadi pusat kekuasaan tersendiri di Sumatra. Dengan kata lain, pembentukan Kesultanan Siak merupakan proses diferensiasi politik, bukan subordinasi administratif kepada Riau.

“Peperangan Siak–Riau” sebagai Penanda Dua Ruang Politik

Struktur naratif Hikayat Siak memberikan petunjuk penting mengenai hubungan tersebut. Dalam penyusunan dan pembacaan edisi modern hikayat ditemukan bagian-bagian yang secara eksplisit berbicara mengenai “Peperangan Siak-Riau Berterusan”, “Perbalahan Siak dengan Riau”, dan kuatnya pengaruh Bugis dalam politik Johor-Riau.

Ungkapan semacam itu penting secara historiografis. Apabila Siak dan Riau dipahami sebagai satu identitas politik yang sama, istilah “peperangan Siak-Riau” menjadi sulit dimengerti. Justru melalui ungkapan tersebut terlihat bahwa penulis atau tradisi yang melahirkan Hikayat Siak membangun pembedaan yang cukup jelas antara Siak sebagai pusat kekuasaan Raja Kecil dan keturunannya dan Riau sebagai bagian dari pusat kekuasaan Johor-Riau yang kemudian sangat dipengaruhi oleh elite Bugis.

Dalam konteks ini, konflik Siak-Riau bukan sekadar pertikaian lokal. Ia merupakan bagian dari perubahan besar dunia Melayu pada abad ke-18. Setelah pusat Johor-Melaka mengalami krisis dinasti, beberapa kekuatan baru muncul dan berusaha membangun legitimasi masing-masing. Siak berkembang di pesisir timur Sumatra; Johor-Riau berkembang dengan konfigurasi politik Sultan dan Yang Dipertuan Muda Bugis; sementara kekuatan lain seperti Terengganu, Kedah, dan kelompok-kelompok Minangkabau juga memainkan perannya.

Konflik Bukan Hanya Soal Takhta

Pertentangan antara Siak dan Riau juga tidak cukup dijelaskan hanya sebagai perebutan takhta. Di balik konflik dinasti terdapat kepentingan yang lebih luas, terutama penguasaan jalur perdagangan dan ruang maritim Selat Melaka.

Siak mempunyai keunggulan geografis yang sangat penting. Sungai Siak merupakan salah satu jalur yang menghubungkan wilayah pedalaman Sumatra dengan pesisir dan Selat Melaka. Melalui sungai tersebut bergerak komoditas, manusia, informasi, dan kekuasaan. Penguasaan atas kawasan sungai berarti penguasaan terhadap akses hinterland Sumatra.

Sebaliknya, pusat Riau-Johor memiliki posisi strategis di kawasan kepulauan dan jalur pelayaran Selat Melaka. Karena itu, konflik Siak-Riau dapat pula dibaca sebagai persaingan antara dua bentuk geoekonomi: kekuatan sungai dan hinterland di satu sisi, serta kekuatan kepulauan dan jalur maritim di sisi lain.

Pemahaman ini sangat penting karena menunjukkan bahwa identitas politik Siak terbentuk sekaligus dari faktor dinasti dan faktor ruang. Siak bukan hanya nama sebuah kerajaan, tetapi merupakan sebuah sistem sungai, bandar, masyarakat, dan perdagangan yang mempunyai orientasi langsung kepada Selat Melaka.

Hikayat Siak sebagai Politik Ingatan

Namun Hikayat Siak tidak boleh dibaca seperti laporan administrasi modern. Hikayat adalah teks sejarah sekaligus sastra politik. Ia memilih tokoh tertentu, menonjolkan peristiwa tertentu, dan membangun silsilah tertentu untuk menghasilkan legitimasi.

Dalam hal Raja Kecil, fungsi tersebut sangat jelas. Klaim bahwa Raja Kecil merupakan keturunan Sultan Mahmud Syah II mempunyai makna politik yang sangat besar. Melalui genealoginya, dinasti Siak dapat menempatkan dirinya sebagai penerus sah tradisi Melaka-Johor.

Karena itu, Hikayat Siak harus dibaca bersama sumber lain, termasuk Tuhfat al-Nafis, Syair Perang Siak, Syair Raja Siak, arsip kolonial, dan dokumen Kesultanan Siak. Masing-masing mempunyai sudut pandang sendiri. Jika Hikayat Siak cenderung menghadirkan pandangan yang memberi tempat penting kepada Raja Kecil dan garis Siak, Tuhfat al-Nafis banyak merepresentasikan dunia politik Melayu-Bugis Riau-Lingga.

Perbedaan tersebut bukan kelemahan. Justru di situlah kekayaan historiografi Melayu. Kita dapat melihat bagaimana kelompok-kelompok politik membangun memori yang berbeda atas peristiwa yang sama.

Bukan Menolak Riau

Penting ditegaskan bahwa gagasan meninggalkan nama “Riau” dalam nomenklatur provinsi baru bukanlah penolakan terhadap Riau. Siak, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti mempunyai sejarah panjang sebagai bagian dari Provinsi Riau modern. Identitas Riau telah menjadi bagian dari kehidupan administratif, sosial, budaya, dan politik masyarakat selama puluhan tahun.

Persoalannya adalah bahwa pembentukan provinsi baru pada hakikatnya merupakan proses membangun identitas politik-administratif baru. Karena itu wajar apabila muncul pertanyaan mengenai nama terbaik yang dapat mewakili seluruh kawasan. Pilihan antara Riau Pesisir dan Sri Indrapura (baca) dengan demikian bukan pilihan antara “menerima” dan “menolak” Riau. Ia merupakan pilihan antara dua cara mendefinisikan wilayah: Riau Pesisir mendefinisikan kawasan berdasarkan hubungan geografisnya dengan provinsi induk. Sri Indrapura mendefinisikan kawasan berdasarkan memori sejarah dan orientasi peradabannya.

Sri Indrapura sebagai Geo-Historical Region

Gagasan ini menjadi lebih kuat apabila calon provinsi dipandang sebagai geo-historical region. Siak, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti memang mempunyai batas administratif modern yang berbeda. Namun secara historis kawasan tersebut dihubungkan oleh sungai, laut, perdagangan, migrasi, jaringan kerajaan, adat Melayu, Islam, serta hubungan dengan Selat Melaka.

Ini bukan berarti seluruh wilayah tersebut pada setiap masa mempunyai batas politik yang sama. Sejarah kerajaan sangat dinamis. Wilayah kekuasaan berubah, pusat pemerintahan berpindah, dan hubungan antara penguasa dengan daerah tidak selalu sama.

ditulis Oleh:

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil (Rektor IAITF Dumai/Sekjen PIPSM)

Rabu, 29 Juli 2026

Rizal Akbar Perkenalkan AFT di Kampus UiTM Shah Alam


SHAH ALAM, MALAYSIA
— Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Rizal Akbar, M.Phil., memperkenalkan Akbar Falah Trajectory (AFT) Model dalam seminar internasional yang diselenggarakan di kampus Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Malaysia, Jumat, 24 Juli 2026.

Rizal Akbar yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) hadir sebagai pembicara utama dalam International Seminar on Ummah Collaboration. Seminar tersebut mengangkat tema “Collaboration Brings Barakah to the Ummah” dan terlaksana melalui kerja sama PIPSM dengan Akademi Pengajian Islam Kontemporari atau Academy of Contemporary Islamic Studies (ACIS) UiTM Shah Alam.

Kedatangan rombongan IAITF Dumai di kampus UiTM Shah Alam disambut oleh Dekan ACIS UiTM, Prof. Dr. Salahudin Suyurno, bersama jajaran pimpinan fakultas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik, pertukaran pemikiran, serta kolaborasi kelembagaan antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia.

Dalam forum tersebut, Rizal Akbar menyampaikan materi bertajuk “Akbar Falah Trajectory Model: Paradigma Baru Kehidupan Muslim—Integrasi Spiritualitas, Perilaku Ekonomi, dan Outcome Falah.” Model ini dikembangkan sebagai pendekatan ilmiah untuk menjelaskan perjalanan kehidupan seorang muslim melalui keterkaitan antara keimanan, pilihan ekonomi, amal, waktu kehidupan, dan konsekuensi akhir yang disebut sebagai falah.

AFT Model menawarkan pengembangan baru dalam kajian ekonomi Islam karena tidak hanya menjelaskan perilaku manusia secara konseptual dan kualitatif, tetapi juga berusaha merumuskannya melalui pendekatan matematis. Melalui formulasi tersebut, keputusan ekonomi seorang muslim dipandang tidak semata-mata didorong oleh kepuasan material, tetapi juga oleh orientasi spiritual dan utilitas ukhrawi.

Rizal Akbar menjelaskan bahwa teori ekonomi modern pada umumnya cukup kuat dalam menerangkan perilaku konsumsi, produksi, investasi, pendapatan, dan kesejahteraan material. Namun, teori tersebut belum sepenuhnya mampu menjelaskan berbagai tindakan ekonomi yang berlandaskan keimanan, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, meninggalkan riba, dan kesediaan mengorbankan keuntungan material untuk memperoleh nilai ibadah.

Dalam perspektif AFT, manusia tidak hanya menjalani kehidupan dalam satu dimensi waktu. Perjalanan manusia dipahami melalui tiga tingkatan, yaitu kehidupan dunia, batas eskatologis berupa kematian, serta kehidupan akhirat yang bersifat abadi. Ketiga dimensi tersebut membentuk sebuah lintasan kehidupan yang menunjukkan hubungan antara keputusan manusia di dunia dan konsekuensi yang diterimanya pada masa mendatang.

AFT Model juga memperkenalkan konsep dual-domain utility, yaitu utilitas yang berasal dari dua ranah sekaligus: utilitas duniawi dan utilitas ukhrawi. Utilitas duniawi mencakup manfaat material seperti pendapatan, konsumsi, kekayaan, dan kenyamanan hidup, sedangkan utilitas ukhrawi berkaitan dengan nilai ibadah, amal kebajikan, keberkahan, dan harapan memperoleh keridaan Allah.

Melalui konsep tersebut, kesejahteraan manusia tidak cukup diukur berdasarkan peningkatan pendapatan atau pemenuhan kebutuhan material. Kesejahteraan yang utuh harus memperhitungkan keseimbangan antara kebutuhan dunia dan tujuan akhirat. Keseimbangan inilah yang menjadi dasar perjalanan manusia menuju falah, yakni kebahagiaan dan keberhasilan yang mencakup kehidupan dunia sekaligus akhirat.

Rizal Akbar turut memperkenalkan peta navigasi empat kuadran perjalanan kehidupan muslim. Kuadran tersebut menggambarkan posisi manusia berdasarkan kualitas keimanan, perilaku ekonomi, amal, dan konsekuensi kehidupannya. Empat posisi itu meliputi kuadran takwa, lalai, ingkar, dan kuadran yang mengarahkan manusia kepada kerugian akhirat.

Peta perjalanan tersebut menunjukkan bahwa setiap keputusan manusia memiliki arah dan konsekuensi. Peningkatan kekayaan yang tidak disertai keimanan dan amal sosial dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang semakin berorientasi dunia. Sebaliknya, pengelolaan kekayaan yang disertai zakat, sedekah, wakaf, kepedulian sosial, dan ketaatan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan dunia sekaligus mencapai kebahagiaan akhirat.

“AFT Model merupakan ikhtiar untuk membawa Islamisasi ilmu ke tahap yang lebih maju. Hubungan antara iman, amal, ekonomi, dan akhirat yang selama ini banyak dijelaskan secara naratif, melalui pendekatan matematis dapat dipetakan, dianalisis, dan dikembangkan menjadi model ilmiah yang lebih komprehensif,” jelas Rizal Akbar dalam pemaparannya.

Menurutnya, pembangunan ekonomi Islam tidak boleh berhenti pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan, atau kesejahteraan material semata. Pembangunan harus diarahkan kepada terbentuknya peradaban makrospiritual yang mengintegrasikan kemajuan ekonomi, kekuatan keimanan, keadilan sosial, keberkahan, dan orientasi akhirat.

Pemaparan mengenai AFT Model mendapat perhatian dari para akademisi dan peserta seminar. Model ini dinilai membuka ruang pengembangan kajian ekonomi Islam yang lebih sistematis, terukur, dan multidisipliner, khususnya dalam menghubungkan ilmu ekonomi, matematika, perilaku manusia, spiritualitas, serta studi tentang kesejahteraan dan pembangunan.

Seminar juga menghadirkan Prof. Dr. Salahudin Suyurno yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dalam pendidikan tinggi. Dalam paparannya, pengembangan teknologi ditekankan agar tetap berlandaskan nilai keberkahan sehingga kemajuan teknologi tidak kehilangan orientasi etika, kemanusiaan, dan spiritualitas.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan ACIS UiTM Shah Alam, di antaranya Prof. Madya Dr. Mohd Syahiran Abdul Latif, Ustaz Hj. Zawawi Temyati, serta Dr. Mohd Sirajuddin Siswadi Putera Mohamed Shith. Dari IAITF Dumai turut hadir Ketua Yayasan Tafaqquh Fiddin H. Hambali, S.Sy., Ketua SPI Hj. Lestary Fitriany, M.E., Direktur Pascasarjana sekaligus Ketua LPM Dr. (Cand.) Dawami, S.Sos., M.I.Kom., Ketua LP2M Muhammad Farid Firdaus, M.H., Dekan Fakultas Tarbiyah Dr. Deni Suryanto, M.Pd., serta dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa IAITF Dumai.

Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat, pertukaran cendera mata, dan foto bersama. Kegiatan tersebut menjadi simbol semakin eratnya kerja sama antara IAITF Dumai, PIPSM, dan UiTM Malaysia dalam pengembangan pendidikan, penelitian, pertukaran gagasan, dan pembangunan peradaban Islam di kawasan Pesisir Selat Melaka.

Kehadiran AFT Model di forum internasional ini sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam dari Kota Dumai mampu melahirkan gagasan teoritis yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan global. Dari Pesisir Selat Melaka, sebuah model baru diperkenalkan untuk mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak kekayaan yang diperoleh, tetapi juga tentang ke mana perjalanan kehidupan manusia diarahkan.

Sertifikat Penghargaan klik

ditulis oleh : Lestary

Selasa, 10 Februari 2026

Rizal Akbar Jadi Pembicara Bersama UAS Bahas Jaringan Kesultanan Islam di Nusantara


Iaitfdumai.ac.id
- PEKANBARU — Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai, Assoc. Prof. Dr. HM Rizal Akbar, M.Phil., menjadi pembicara dalam diskusi bertema Jaringan Kesultanan Islam di Nusantara yang digelar di Pondok Kopi Professor, Pekanbaru, Selasa (10/2/2026) pagi.

Diskusi ini menghadirkan puluhan tokoh dan akademisi, di antaranya Prof. Dr. KH. Abdul Somad, Lc., M.A., Prof. Dr. H. Alaiddin Koto, M.A., Prof Afrizal, Prof Sudirman, Mambang Mit, serta tokoh masyarakat lainnya. Acara dibuka langsung oleh Ketua Lembaga Pengkajian Islam dan Peradaban, Prof Dr H Alaiddin Koto.



Dalam paparannya, Assoc. Prof. Dr. HM Rizal Akbar menegaskan bahwa pembahasan jaringan kesultanan Islam tidak bisa dilepaskan dari kajian tentang ulama dan jalur masuknya Islam ke Nusantara.

Diskusi ini menjadi sangat menarik karena kita tidak hanya membahas kerajaan, tetapi juga jaringan ulama. Ketika kita menelusuri tokoh seperti Syekh Jumadil Kubro, Walisongo, hingga kesultanan-kesultanan Islam, maka terlihat bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui jaringan yang kuat dan saling terhubung,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kajian tentang jaringan kesultanan dan ulama menjadi penting untuk memahami identitas sejarah Islam di kawasan Nusantara, baik dari sisi perdagangan dan kajian tasauf. Banyak pertanyaan yang masih harus ditelaah dari abad 17-18 sedangkan bagaimana dengan kurun abad ke 4 hingga abad 16.

Diskusi yang dipandu atau dimoderator Wakil Rektor III UIN Suska Riau, Haris Simaremare Ph.D mempersilakan pembicara Prof. Dr. KH. Abdul Somad, Lc., M.A. Dalam penyampaiannya Prof Abdul Somad menegaskan posisi strategis kawasan Melayu yang berada di antara dua peradaban besar yakni India dan Cina.

Diapit oleh dua peradaban besar, India dan Cina, maka orang Melayu di Kepulauan Nusantara ini bukan orang sembarangan. Sebelum Nabi Muhammad lahir, negeri ini sudah memiliki peradaban dan kerajaan,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah kerajaan yang mengalami proses islamisasi, seperti Indragiri yang awalnya bercorak Hindu, kemudian berubah menjadi kesultanan Islam.

Kalau diurut dari utara, ada Lamuri, kemudian Pasai, lalu Aceh. Di kawasan Melayu lainnya ada Langkat, Pagaruyung, Tambusai, Pinang Awan, Negeri Sembilan, Siak, hingga ke wilayah Johor, Riau-Lingga, Makassar, Bone, bahkan sampai Mindanao dan Manila,” paparnya.

Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pertanyaan kritis dari para tokoh yang hadir. Prof. Afrizal mempertanyakan sejauh mana jaringan kesultanan Islam itu terhubung secara politik dan bukan hanya secara keagamaan.

“Apakah jaringan kesultanan ini benar-benar membentuk satu kekuatan politik bersama, ataukah hanya terhubung dalam jaringan ulama dan perdagangan?” tanyanya.

Sementara itu, Prof. Sudirman menyoroti posisi Melayu dalam konteks kebangsaan Indonesia modern. “Apakah Melayu bisa menjadi identitas kultural yang mempersatukan Indonesia, atau justru hanya menjadi identitas regional di kawasan tertentu saja?” ujarnya.

Tokoh masyarakat Mambang Mit juga mengangkat pertanyaan tentang kesinambungan sejarah kesultanan dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Kalau jaringan kesultanan dahulu begitu kuat, mengapa warisan itu hari ini tidak tampak dalam kekuatan ekonomi dan politik umat Islam di kawasan pesisir?” katanya.

Pertanyaan lain muncul mengenai tokoh-tokoh ulama awal, khususnya tentang Syekh Jumadil Kubro. Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, para pembicara sepakat bahwa jaringan kesultanan Islam di Nusantara tidak hanya berbentuk struktur politik, tetapi juga jaringan perdagangan, pendidikan, ulama, dan budaya yang saling terhubung lintas wilayah.

Prof. Sudirman dalam penutup diskusi menegaskan pentingnya identitas Melayu dalam merawat persatuan bangsa.
“Melayu harus menjadi identitas kultural yang memperkuat persatuan Indonesia. Nilai Islam yang dibawa oleh tradisi Melayu menjadi perekat perdamaian di kepulauan Nusantara
,” ujarnya.

Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh pertukaran gagasan, memperlihatkan bahwa kajian tentang jaringan kesultanan Islam masih menjadi topik penting dalam memahami sejarah, identitas, dan masa depan masyarakat Nusantara. *

Penulis: Dawami Bukitbatu

Jumat, 06 Februari 2026

Rizal Akbar Terima Anuggrah Darjah Mahkota Muda Kesultanan Pagaruyung Darur Qarar


Ditetapkan di Istana Selindung Bulan Kesultanan Pagaruyung Darul Qarar, Penganugrahan Mahkota Mudo Darjah Mahkota Mudo diberikan kepada Rektor IAITF Dumai, Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil dengan gelar "Rangkayo Maulana". Prosesi penganugrahan dilakukan di Hotel 101 Urban Haritage Hotel Jogja (4/02/26), langsung oleh Haji Sutan Muhammad Yusuf Tuanku Mudo Rajo Disambah. Selain Rektor, Anugrah diberikan juga kepada beberapa orang Datuk dari negeri jiran Malaysia.



Dalama beberapa referensi dinaytakan bahwa, Gelar "Rangkayo Maulana" dalam tradisi Kesultanan Pagaruyung Darul Qarar merupakan simbol kehormatan tertinggi yang mencerminkan perpaduan antara kedaulatan adat Minangkabau dan otoritas religius Islam. Gelar ini disematkan kepada figur bangsawan atau pemangku adat utama yang memiliki kedudukan strategis dalam menjaga keseimbangan antara adat dan syarak, sejalan dengan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Sebagai representasi legitimasi moral, politik, dan spiritual, Rangkayo Maulana tidak hanya berfungsi sebagai penanda status kebangsawanan, tetapi juga sebagai simbol stabilitas, kebijaksanaan, dan kesinambungan nilai-nilai kepemimpinan dalam tatanan Kesultanan Pagaruyung sebagai pusat peradaban Minangkabau.

Dalam sambutannya, Tuanku Muhammad Yusuf menyatkan bahwa penganugrahan ini diberikan bukan tanpa alasan, namun melalu sebuah proses panjang, terutama bagi para yang mulia yang berasal dari negeri jiran Malaysia yang nantinya akan tergabung kedalam Persatuan Pagaruyung Malaysia. Menurutnya penganugrahan ini adalah proses berbagi kemuliaan dan menjalin silaturrahmi kekerabatan Pagaruyung di ranah dan rantau, tegasnya

Jumat, 23 Januari 2026

Filsafat Ilmu & Logika

 


Perkuliahan ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana manusia membangun pengetahuan melalui tiga jalur besar: sains, filsafat, dan mistik, dalam lanskap dunia yang juga “diwarnai” oleh dua kekuatan besar: agama dan filsafat. Mahasiswa dikenalkan pada pengertian filsafat sebagai upaya berpikir mendalam, sungguh-sungguh, dan radikal hingga mencapai hakikat persoalan. Dampaknya bukan cuma “jadi pintar debat”, tetapi melatih berpikir serius, memahami cara kerja filsafat, dan membentuk tanggung jawab intelektual sebagai warga yang baik.

Secara metodologis, perkuliahan menekankan tiga cara belajar filsafat: metode sistematis, historis, dan kritis. Pondasi logika diletakkan lewat pembedaan logis (masuk akal) dan rasional (logis tetapi dibatasi hukum alam). Setelah itu, mahasiswa diajak “membedah” setiap jenis pengetahuan dengan kerangka ontologi–epistemologi–aksiologi:

·       Sains: objeknya empiris, kebenarannya dituntut rasional dan perlu verifikasi empiris, serta berguna sebagai alat eksplanasi, peramalan, dan pengontrolan dalam pemecahan masalah.

·       Filsafat: objeknya mencakup “yang ada dan mungkin ada”, ditempuh lewat rasional-abstrak, argumentasi dan pemikiran mendalam; ukuran benarnya terutama logis (benar/salah), dan berfungsi sebagai teori, pemecahan masalah, sekaligus pandangan hidup yang bersifat mendalam dan universal.

·       Mistik: menyentuh wilayah supra-rasional (tak sepenuhnya dipahami secara rasional), diperoleh lewat “rasa (hati)”; ukuran kebenarannya bisa merujuk pada teks suci (bila bersumber dari Tuhan) dan kadang diklaim empiris secara situasional, dengan manfaat yang sangat subjektif (mis. ketenteraman jiwa dalam tasawuf).

Kalau diringkas: mata kuliah ini melatih mahasiswa supaya tidak asal yakin, tapi tahu mengapa sebuah pengetahuan dianggap benar, bagaimana cara memperolehnya, dan untuk apa ia dipakai—biar nalar tidak gampang “dibajak” oleh klaim yang terdengar meyakinkan (apalagi yang capslock-nya lebih kuat daripada argumennya).

Rabu, 17 Desember 2025

Transformasi Sosial-Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Ibn Khaldun: Sebuah Analisis Generasional

 


Perubahan sosial-ekonomi suatu bangsa tidak berlangsung secara acak atau sepenuhnya linear, melainkan mengikuti pola historis tertentu yang dibentuk oleh interaksi nilai moral, solidaritas sosial, institusi, dan kekuasaan politik. Banyak teori pembangunan modern memandang perubahan sebagai proses progresif dari keterbelakangan menuju kemajuan melalui pertumbuhan ekonomi dan modernisasi. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kemajuan material tidak selalu sejalan dengan stabilitas sosial, keadilan distributif, maupun keberlanjutan institusional. Dalam konteks inilah, pemikiran Ibn Khaldun menawarkan kerangka analitis alternatif yang memandang perubahan sosial sebagai proses dinamis dan generasional.

Dalam al-Muqaddimah, Ibn Khaldun menjelaskan bahwa transformasi masyarakat berlangsung secara siklis, dipandu oleh kekuatan ʿasabiyyah—solidaritas sosial yang menopang pembentukan kekuasaan politik, tata kelola negara, dan aktivitas ekonomi. Ketika ʿasabiyyah kuat, masyarakat mampu membangun tatanan sosial yang stabil meskipun dengan keterbatasan sumber daya material. Sebaliknya, ketika kemakmuran berkembang tanpa pengendalian moral dan institusional, solidaritas sosial melemah dan membuka jalan bagi erosi legitimasi serta krisis struktural. Pandangan ini menempatkan perubahan sosial bukan sebagai kemajuan yang pasti, melainkan sebagai proses yang selalu mengandung potensi keberlanjutan maupun kemunduran.

Esai ini mengambil tahun 1905 sebagai titik awal analisis, bukan semata-mata karena pertimbangan kronologis, melainkan karena tahun tersebut merepresentasikan fase awal formasi ʿasabiyyah modern di Indonesia. Munculnya organisasi pergerakan dan kesadaran nasional pada periode ini menandai transformasi solidaritas sosial dari ikatan lokal dan kultural menuju solidaritas ideologis dan nasional. Dengan demikian, 1905 dipahami sebagai momen historis ketika fondasi moral dan kolektif bagi perubahan sosial-ekonomi dan politik Indonesia mulai terbangun secara sistematis.

Selanjutnya, esai ini menggunakan rentang waktu sekitar empat puluh tahun sebagai satu periode atau generasi analitis, mengikuti observasi Ibn Khaldun bahwa pergantian generasi merupakan faktor kunci perubahan sosial. Satu generasi dipahami sebagai masa kematangan nilai, orientasi kepemimpinan, dan praktik institusional suatu masyarakat. Rentang empat puluh tahun ini tidak dimaknai secara kaku, melainkan sebagai pendekatan sosiologis untuk menangkap pergeseran ʿasabiyyah, hubungan negara dan masyarakat, serta dinamika ekonomi dalam jangka menengah-panjang.

Berdasarkan pendekatan generasional tersebut, pengalaman Indonesia direkonstruksi ke dalam empat fase utama. Fase pertama (1905–1945) merupakan fase formasi dan penguatan solidaritas ideologis. Pada periode ini, meskipun kondisi ekonomi sangat terbatas akibat kolonialisme, kekuatan moral, pengorbanan, dan kesadaran kolektif menjadi motor utama perubahan. Dalam perspektif Ibn Khaldun, fase ini mencerminkan tahap awal peradaban, ketika ʿasabiyyah yang kuat mampu mengimbangi keterbatasan material dan mempersiapkan lahirnya tatanan politik baru.

Fase kedua (1945–1985) adalah fase konsolidasi negara dan pembangunan. Negara tampil sebagai aktor utama dalam menjaga stabilitas politik dan mengelola pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dan penguatan institusi birokrasi mencerminkan tahap kematangan peradaban dalam kerangka Khaldunian. Namun, pada fase ini pula terjadi pergeseran ʿasabiyyah dari solidaritas horizontal yang partisipatif menuju loyalitas vertikal terhadap negara dan elite penguasa, menandai awal pelemahan kontrol moral terhadap kekuasaan.

Fase ketiga (1985–2025) ditandai oleh kemakmuran material, liberalisasi ekonomi, dan meningkatnya kompleksitas institusional. Integrasi ke dalam ekonomi global dan ekspansi kelas menengah menciptakan kesan keberhasilan pembangunan yang kuat. Namun, sebagaimana diingatkan Ibn Khaldun, kemakmuran membawa konsekuensi ambivalen. Solidaritas sosial melemah, fragmentasi dan polarisasi meningkat, serta institusi semakin prosedural tetapi kehilangan daya ikat etis. Pembangunan tetap berlangsung, tetapi keberlanjutannya menjadi rapuh karena ketidakseimbangan antara kemajuan material dan ketahanan moral-institusional.

Memasuki periode pasca-2025, Indonesia menghadapi indikasi awal fase keempat dalam siklus Khaldunian. Tekanan fiskal, tantangan tata kelola, serta perubahan struktur ekonomi global memperbesar risiko krisis legitimasi jika tidak diimbangi oleh pembaruan solidaritas sosial dan etika publik. Namun, mengikuti pembacaan non-fatalistik yang dikembangkan Umar Chapra, fase ini tidak harus berujung pada kemunduran yang tak terelakkan. Reformasi institusional, kepemimpinan yang berorientasi pada keadilan, dan revitalisasi nilai moral dapat memperlambat atau bahkan membalikkan kecenderungan kemunduran tersebut.

Dengan demikian, transformasi sosial-ekonomi Indonesia dapat dipahami sebagai perjalanan generasional yang memperlihatkan hubungan erat antara ʿasabiyyah, kemajuan material, dan kualitas institusi. Tantangan pembangunan kontemporer bukan semata-mata persoalan pertumbuhan ekonomi atau teknologi, melainkan krisis kohesi sosial dan legitimasi moral. Melalui lensa Ibn Khaldun, esai ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pembangunan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dan negara dalam menjaga keseimbangan antara kemakmuran material dan solidaritas sosial.

Pada akhirnya, fase yang dihadapi Indonesia saat ini merupakan fase persimpangan. Sejarah, dalam pandangan Ibn Khaldun, tidak sekadar berulang, tetapi memberikan pelajaran bagi mereka yang mampu membacanya secara kritis. Apakah Indonesia akan memasuki fase kemunduran atau justru menemukan momentum pembaruan sangat ditentukan oleh pilihan kolektif dalam merawat nilai moral, memperkuat institusi, dan membangun kembali ʿasabiyyah yang sesuai dengan tantangan negara-bangsa modern.

Rizalakbar_IAITFDumai,18/12/25

Jumat, 28 November 2025

Rizal Akbar Ikut Dilantik Menjadi Pengurus DPP IAEI 2025-2030, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA: Sinergi Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia


Iaitfdumai.ac.id
-- Rektor IAITF Dumai, Assoc Prof Dr HM Rizal Akbar M.Phil ikut dilantik menjadi pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) periode 2025-2030 oleh Ketua Umum yang juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA. Hadir mendampingi Ketua Umum diantaranya Dewan Pertimbangan, Dewan Penasehat, Dewan Ekonomi dan Pendiri IAEI serta sejumlah tokoh ekonomi Islam. Pelantikan Pengurus dan Rapat Kerja Nasional Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (DPP IAEI) 2025-2030 dengan tema sinergi untuk mewujudkan Indonesia menjadi pusat Ekonomi Islam Dunia dilaksanakan di Hotel The Ritz Carlton, Jakarta, 27-28 November 2025.

Rektor IAITF Dumai, Assoc Prof Dr HM Rizal Akbar M.Phi usai pelantikan mengatakan, pelantikan ini semoga menjadi tonggak terus tumbuh dan berkembang ekonomi syariah untuk kemajuan dan kemandirian kedaulatan ekonomi negara Republik Indonesia (RI) sehingga mempercepat melahirkan Indonesia Emas 2045.

"Alhamdulilah, berkesempatan dan ikut diberi amanah sebagai pengurus DPP IAEI. Melalui peran ini semoga bisa memberikan manfaat untuk terus tumbuh dan berkembangnya IAEI," ungkapnya.

Ketua Umum yang juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA dalam sambutannya mengatakan mari bersama sinergi wujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi Islam dunia.

"Ini menjadi tantangan kita sebagai pengurus untuk selalu bersinergi dan ini bagian dari pengabdian ibadah. Amanah ini adalah tugas kita bersama untuk memperjuangkan visa dan misi organisasi. Disinilah kita bersama membangun wajah dunia Islam dan kita harus menjadi pusat Ekonomi dunia Islam dengan konsep Indonesia sendiri," ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Tim Formatur, Dr Mustafa Edwin Nasution juga mengajak pengurus yang dilantik untuk bersama ketua umum bergandeng bahu mewujudkan sinergi bersama mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi Islam dunia.

Ketua Dewan Pertimbangan, Drs H Yusuf Kalla, dalam sambutannya mengatakan yang tak boleh adalah yang dilarang agama . Selain itu, mari bersama kembangkan.

"Dorong untuk maju dan jangan dibatasi-batasi. Sebab semuanya akan terus berkembang. Dan mari kita bicarakan kedepan dan jangan katakan tidak adil. Kalau sebenarnya kitalah yang tak mau maju dan berkembang," pesannya kepada seluruh pengurus.***

Jumat, 07 November 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa, Tokoh Adat Dan Budaya Nusantar tahun 2025

 

Melaka IAITF. Bertempat di Dewan JKKN Air Keruh Melaka Malaysia Sabtu (8/11), Rektor IAITF Dumai Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil bersama dengan akademisi, budayawan dan penggiat Seni Nusantara, Indonesia dan Malaysia terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara" dengan gelaran "Satria Pujangga Bangsa". Anugrah ini diserahkan langsung oleh Prof. Dr. (HC) Ezlina bte Alias, Pengarah Jabatan Kebudayaan Dan Kesenian Negara Negeri Melaka dan Prof. Dr. Haji R.A. Huzaifah Dato’ Hashim, Pengarah Program merangkap Pengerusi Biro Penyelidikan & Tugas Khas DMDI.

Anugrah ini diberikan sempena Festival Warisan Etnik Nusantara dan Seminar Peradaban DMDI 2025. Tokoh-tokoh yang diberikan penghargaan adalah para penggiat Seni Dan kebudayaan Nusantara yang memiliki dedikasi tinggi dalam hal Adat, Seni Dan kebudayaan, dari kalangan akademisi, guru-guru silat, aktifis sanggar, para seniman bahkan dari kalangan Keraton Dan kesultanan Nusantara.

Berita ditulis Oleh : Lestary

Sabtu, 25 Oktober 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah Hang Tuah DMDI Dari Yang di Pertua Negeri Melaka Dan Presiden Dunia Melayu Dunia Islam

 


Jakarta IAITF Dumai, Pada Konvensyen ke 23 Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang diselengarakan di Hotel Brobudur Jakarta pada tanggal 23 - 26 Okteber 2025, Rektor IAITF Dumai Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil sekali lagi mendapat anugrah kehormatan berupa "Anugrah Hang Tuah DMDI (AHTD)" yang diserahkan langsung oleh TYT Tun Seri Setia Dr. Hj Mohd Ali Bin Rustam, yang merupakan Dipertua Negeri Melaka Dan Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) pada serimony peremian Konvensyen, Jumat (24/10) di Hotel Brobudur Jakarta.

 Anugrah yang  diterima oleh Rektor IAITF itu merupakan penghargaan DMDI Kepada beliau sebagai AJK Biro Penyelidikan dan Tugas-Tugas Khas DMDI Pusat. Menurut Rizal, anugrah ini diberikan berkat  Usulan Pengerusi Biro Penyelidikan & Tugas-Tugas Khas yakni Datuk Prof. Dr. Huzaifah Bin Hasyim, SE. Bersama Datuk Huzaifah, Selamat ini kami banyak melaksanakan aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan Penyelidikan terutama terkait jaringan Ulama Pesisir Selat Melaka. Menyusri Manuskrip, Dakwah Ulama hingga ke Kedah, Patani Thailan, Muzium Cheng Ho hingga Pulau Jawa. Ungkap Rizal

Selain itu, pada Komvensyen 23 DMDI Kali ini Biro Penyelidikan dan Tugas-Tugas Khas berhasil Pula meletakan batu pertama dalam penerbitan Journal Ilmiah Malay & Islamic Civilization, yang menjadi journal Ilmiah DMDI untuk Kali pertama sejak ditubuhkannya DMDI, yang merupakan kerja kolaboratif Tim di Biro Penyelidikan & Tugas-Tugas Khas DMDI, dimana Rizal aktif dalam aktifitas tersebut bersama Tim Lainnya, Datuk Huzaifah, Prof, Dr Muhaizi, Ustad Rahimin Dan yang lainnya.

Ditulis Oleh; Lestary

Sabtu, 30 Agustus 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

 



Solo IAITF Dumai, Rektor IAITF Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat Solo (31/8). Gelar Kangjeng Raden Haryo Dwijo Barotodipuro dapat dimaknai sebagai Yang mulia, bangsawan keraton, seorang guru atau cendekiawan yang utama dan bijaksana, serta menjadi bagian dari kemuliaan istana.” Gelar in tentu sangat sesuai dengan aktifitas Rektor IAITF Dumai sebagai seorang cendikiawan bahkan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka.

Penganugrahan itu langsung diberikan oleh Sinoehoen Kangjeng Soesoehoenan Pakoeboewono Sinoehoen Tedjowoelan kepada berbagai kalangan, dari berbagai daerah di Indonesia ,juga beberapa penerima anugrah berasal dari Melaka, Shah Alam dan Terenganu Malaysia.

Dengan penganugrahan gelar kepada Rektor IAITF ini memberikan penguatan peran IAITF dalam pengembangan komitmen kebudayaan serta pelestarian Khazanah adat istiadat nusantra.

 

ditulis oleh : Tary

Rabu, 30 Juli 2025

Rizal Akbar Bentangkan Rekonstruksi Sejarah Ekonomi Maritim Selat Melaka Pada Forum Seminar Internasional di UiTM Shah Alam Malaysia

 

Iaitfdumai.ac.id - SHAH ALAM – Rabu, 30 Juli 2025 menjadi momen penting dalam penguatan jejaring keilmuan kawasan Asia Tenggara melalui Seminar Internasional Selat Melaka sebagai Aset Strategik Perdagangan dan Pemacu Ekonomi Dunia Islam yang digelar oleh Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM) bekerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam. Kegiatan ini menghadirkan deretan narasumber dari Indonesia dan Malaysia, termasuk para akademisi, praktisi logistik, serta pakar sejarah dan ekonomi maritim.

Keynote speech disampaikan oleh Prof. Dr. S. Salahudin Suyurno selaku Presiden PIPSM. Seminar kemudian menghadirkan lima narasumber utama: Assoc. Prof. Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si., M.Phil., Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) Dumai dan Sekjen PIPSM; Mahmuzin Taher, MM, seorang pengusaha logistik dari Indonesia; Dr. Zulkefli Aini dari Universiti Kebangsaan Malaysia; dan Dr. Norazlina Mamat dari ACIS UiTM Shah Alam.

Dalam pemaparannya, Dr. Rizal Akbar menekankan pentingnya merekonstruksi sejarah ekonomi maritim Melayu dengan pendekatan dekolonial dan multidisipliner. Ia menyampaikan gagasannya melalui kerangka “Rekonstruksi Ekonomi Maritim Melayu: Membaca Ulang Sejarah Pesisir Selat Melaka” berdasarkan hasil kajiannya terhadap literatur Anthony Reid dan Leonard Andaya. Menurutnya, pelabuhan-pelabuhan Melayu bukanlah entitas pasif dalam sejarah kolonial, tetapi merupakan simpul kosmopolitan dalam jaringan dagang global antara 1450–1680.

Pelabuhan Melayu merupakan ruang ekonomi, sosial, dan spiritual. Dalam ruang ini, syahbandar, saudagar perempuan, dan komunitas dagang asing berinteraksi dalam jejaring etika Islam dan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Sayangnya, intervensi kolonial seperti VOC dan EIC menjadikan pelabuhan-pelabuhan tersebut terpinggirkan akibat sistem monopoli,” jelas Rizal.

Seminar ini juga menjadi ruang refleksi bersama atas upaya membangkitkan kembali khazanah ekonomi Islam pesisir dengan menekankan pentingnya literasi sejarah lokal sebagai pilar kekuatan identitas dan pembangunan kawasan. Dialog lintas-batas ini mengukuhkan misi PIPSM sebagai forum yang mengintegrasikan pemikiran ilmuwan pesisir dari Indonesia dan Malaysia dalam membangun peradaban Islam berbasis warisan maritim.

Acara yang berlangsung di Kampus UiTM Shah Alam ini turut dihadiri oleh akademisi dan mahasiswa dari IAITF Dumai, STAI Ar-Ridho Bagan Siapi-Api Rokan Hilir, Universitas Lancang Kuning, serta para ilmuwan dan praktisi dari Malaysia. Seminar ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga panggung kebangkitan identitas ekonomi Melayu dalam lanskap global Islam.

Selasa, 01 Juli 2025

Serahkan Dua Buku, Rizal Akbar Ajak FKPMR Kolaborasi dalam Mempotensikan Pesisir Selat Melaka

IAITF Dumai. Pada Rapat Koordinasi Persiapan pengukuhan Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), Selasa (1/07) diruang Medium DPRD Provinsi Riau Pekanbaru, Assoc Prof Dt. H. M. Rizal Akbar, M. Phil sebagai salah satu dari 99 orang yang tergabung dalam Majelis Tokoh Masyarakat Riau yang direkomendasikan oleh tim formatur Kongres FKPMR III, mengambil kesempatan menyerahkan dua buku kepada Dr. Chaidir Ketua Umum FKPMR.

Adapun kedua buku yang diserabkannya itu adala buku dengan judul"Selat Melaka dari berbagai Perspektif" Karyanya sendiri. Dan buku dengan judul " Masjid Kampung Hulu, Khazanah Islam Pesisir Selat Melaka" Karya tim KKN-KIPSM 2024.

Pada kkesempatan itu, Rizal mengajak FKPMR bersama-sama memikirkan tentang nasib pesisir selat Melaka sebagai bagian terluar Provinsi Riau dan Indoneaia. Penyerahan buku ini menyimbolkan bahwa IAITF sebagai perguruan tinggi yang menjadikan kajian pesisir selat Melaka sebagai diatingsinya, tidak hanya terhenti pada lefel wacana pemikiran namun juga diperluka dukunga politik dan kebijakan.

Ditulis oleh : Tary

Selasa, 04 Maret 2025

Teori Ekonomi Kebahagiaan Sejak Easterlin Paradox


Teori ekonomi kebahagiaan pertama kali mendapat perhatian luas setelah Richard Easterlin mengemukakan Easterlin Paradox pada tahun 1974. Easterlin menemukan bahwa meskipun pendapatan suatu negara meningkat dalam jangka panjang, tingkat kebahagiaan subjektif masyarakatnya tidak selalu ikut naik. Paradoks ini bertentangan dengan asumsi dasar dalam ekonomi neoklasik yang menyatakan bahwa peningkatan pendapatan akan selalu membawa peningkatan kesejahteraan.

Easterlin menjelaskan bahwa kebahagiaan individu tidak hanya bergantung pada pendapatan absolut tetapi juga pada pendapatan relatif. Ketika seseorang melihat orang lain memiliki pendapatan lebih tinggi, kepuasan mereka terhadap pendapatannya sendiri bisa berkurang. Fenomena ini dikenal sebagai efek perbandingan sosial, yang menjadi salah satu konsep utama dalam studi ekonomi kebahagiaan.

Perkembangan teori ekonomi kebahagiaan semakin meluas dengan penelitian yang dilakukan oleh Daniel Kahneman dan Angus Deaton pada tahun 2010. Mereka menemukan bahwa pendapatan memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan emosional hingga batas tertentu, yaitu sekitar 75.000 USD per tahun. Setelah melewati batas ini, peningkatan pendapatan tidak lagi memberikan dampak signifikan terhadap kebahagiaan harian seseorang.

Bruno Frey dan Alois Stutzer (2002) memperkenalkan perspektif ekonomi kebahagiaan dengan pendekatan yang lebih luas. Mereka menekankan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan tetapi juga oleh faktor-faktor seperti kebebasan politik, partisipasi dalam proses demokrasi, dan kualitas institusi sosial. Penelitian mereka menegaskan bahwa kebahagiaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebijakan pemerintah.

Layard (2005), dalam bukunya Happiness: Lessons from a New Science, menyoroti pentingnya faktor sosial dan psikologis dalam ekonomi kebahagiaan. Ia menekankan bahwa kebahagiaan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga dengan kesehatan mental, hubungan sosial, dan rasa aman. Layard juga mengusulkan bahwa kebijakan ekonomi seharusnya mempertimbangkan aspek-aspek psikologis masyarakat agar lebih efektif dalam meningkatkan kesejahteraan.

Sen (1999), dalam teori Capability Approach, mengkritik pendekatan ekonomi tradisional yang hanya berfokus pada pendapatan sebagai ukuran kesejahteraan. Ia berpendapat bahwa kesejahteraan lebih baik diukur berdasarkan kemampuan individu untuk menjalani kehidupan yang mereka anggap bermakna. Konsep ini memperluas studi ekonomi kebahagiaan dengan menekankan pentingnya kebebasan dan akses terhadap sumber daya yang memungkinkan individu mencapai potensi mereka.

Stiglitz, Sen, dan Fitoussi (2009), dalam laporan mereka untuk OECD, juga menegaskan bahwa PDB bukan satu-satunya indikator kesejahteraan. Mereka mengusulkan agar kebijakan ekonomi lebih menitikberatkan pada indikator kesejahteraan subjektif dan kualitas hidup, bukan hanya pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini membuka jalan bagi pengukuran kesejahteraan yang lebih komprehensif.

Diener et al. (2010) mengembangkan konsep Subjective Well-Being (SWB) yang menekankan aspek emosional dan kognitif dalam menilai kebahagiaan individu. Menurut mereka, kesejahteraan subjektif seseorang terdiri dari kepuasan hidup, pengalaman emosi positif, serta rendahnya tingkat stres dan kecemasan. Konsep ini menjadi salah satu fondasi dalam pengukuran kebahagiaan modern.

Helliwell, Layard, dan Sachs (2012), dalam laporan World Happiness Report pertama, memperkenalkan indeks kebahagiaan dunia. Laporan ini mengukur kebahagiaan berdasarkan berbagai indikator, termasuk pendapatan, kesehatan, dukungan sosial, kebebasan dalam mengambil keputusan hidup, dan tingkat korupsi. Laporan ini menjadi rujukan utama bagi berbagai negara dalam mengevaluasi kebijakan kesejahteraan mereka.

Stevenson dan Wolfers (2008) mengkritik Easterlin Paradox dengan menunjukkan bahwa hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan tetap positif meskipun dalam jangka panjang. Mereka berpendapat bahwa Easterlin Paradox tidak berlaku secara universal, dan ada bukti bahwa di beberapa negara peningkatan pendapatan tetap meningkatkan kebahagiaan.

Clark, Frijters, dan Shields (2008) membahas efek habituasi dalam kebahagiaan. Mereka menemukan bahwa individu sering kali beradaptasi dengan peningkatan pendapatan sehingga manfaat kebahagiaan dari pendapatan tambahan bersifat sementara. Temuan ini memperkuat argumen bahwa kebijakan ekonomi harus lebih berfokus pada faktor sosial dan psikologis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kroll dan Delhey (2013) meneliti hubungan antara kebahagiaan dan keadilan sosial. Mereka menemukan bahwa negara dengan tingkat ketimpangan ekonomi yang rendah cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi kekayaan yang lebih merata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Graham (2017), dalam studinya mengenai kebahagiaan dan ketidaksetaraan, menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi dapat berdampak negatif terhadap kebahagiaan, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Ia juga menyoroti bahwa ketidakpastian ekonomi yang tinggi dapat menyebabkan stres dan menurunkan kesejahteraan subjektif.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian ekonomi kebahagiaan semakin berkembang dengan mengintegrasikan aspek kesejahteraan digital dan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Dengan meningkatnya kerja jarak jauh dan kemajuan teknologi, peneliti seperti Brynjolfsson dan McAfee (2020) mulai mengeksplorasi bagaimana transformasi digital memengaruhi kebahagiaan dan produktivitas.

Pandemi COVID-19 membawa dimensi baru dalam ekonomi kebahagiaan. Studi yang dilakukan oleh De Neve dan Krekel (2021) menunjukkan bahwa keterhubungan sosial dan jaminan kesehatan menjadi semakin krusial dalam menentukan kesejahteraan individu. Ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi pasca-pandemi harus lebih menekankan pada dukungan kesehatan mental dan kohesi sosial.

Dolan et al. (2022) menyoroti peran makna dan tujuan hidup dalam ekonomi kebahagiaan. Penelitian mereka menemukan bahwa individu yang terlibat dalam pekerjaan yang bermakna serta kegiatan sosial dan keagamaan melaporkan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, terlepas dari tingkat pendapatan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mulai mengadopsi metrik berbasis kebahagiaan dalam kebijakan mereka. Indeks Kebahagiaan Nasional Bruto (GNH) Bhutan, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970-an, kembali mendapat perhatian sebagai alternatif terhadap model pembangunan yang hanya berfokus pada PDB. Pendekatan serupa telah diterapkan di negara seperti Selandia Baru, yang memperkenalkan Wellbeing Budget sebagai bagian dari kebijakan ekonomi mereka.

Integrasi ekonomi Islam dalam penelitian kebahagiaan juga mulai berkembang. Chapra (2016) dan Nasr (2020) berpendapat bahwa prinsip-prinsip ekonomi Islam, yang menekankan keadilan, zakat, dan kesejahteraan sosial, sangat selaras dengan konsep ekonomi kebahagiaan. Mereka berargumen bahwa penerapan nilai-nilai etika dan spiritual dalam kebijakan ekonomi dapat menghasilkan kesejahteraan yang lebih holistik.

Penelitian masa depan dalam ekonomi kebahagiaan diperkirakan akan mengeksplorasi dampak kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan iklim terhadap kesejahteraan global. Seligman (2021) berpendapat bahwa psikologi positif akan memainkan peran yang semakin penting dalam merancang kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kebahagiaan manusia.

Perkembangan ekonomi kebahagiaan menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara faktor ekonomi, sosial, dan psikologis. Meskipun pendapatan tetap menjadi faktor penting, semakin banyak penelitian yang mendukung pandangan bahwa kebahagiaan yang berkelanjutan bergantung pada aspek yang lebih luas, seperti kesehatan, hubungan sosial, dan makna hidup.

Daftar Pustaka

  • Brynjolfsson, E., & McAfee, A. (2020). The Second Machine Age: Work, Progress, and Prosperity in a Time of Brilliant Technologies. W. W. Norton & Company.
  • Chapra, M. U. (2016). Islam and the Economic Challenge. Islamic Foundation.
  • Clark, A. E., Frijters, P., & Shields, M. A. (2008). "Relative Income, Happiness, and Utility: An Explanation for the Easterlin Paradox and Other Puzzles." Journal of Economic Literature, 46(1), 95–144.
  • De Neve, J. E., & Krekel, C. (2021). "The Science of Well-being and COVID-19: A Review." World Happiness Report 2021.
  • Diener, E., Lucas, R. E., & Scollon, C. N. (2006). "Beyond the Hedonic Treadmill: Revising the Adaptation Theory of Well-Being." American Psychologist, 61(4), 305–314.
  • Diener, E., Oishi, S., & Tay, L. (2018). Happiness: The Science of Subjective Well-Being. Guilford Publications.
  • Dolan, P., Peasgood, T., & White, M. (2022). Happiness by Design: Change What You Do, Not How You Think. Penguin Books.
  • Easterlin, R. A. (1974). "Does Economic Growth Improve the Human Lot? Some Empirical Evidence." In P. A. David & M. W. Reder (Eds.), Nations and Households in Economic Growth: Essays in Honor of Moses Abramovitz (pp. 89–125). Academic Press.
  • Frey, B. S., & Stutzer, A. (2002). Happiness and Economics: How the Economy and Institutions Affect Human Well-Being. Princeton University Press.
  • Graham, C. (2017). Happiness for All? Unequal Hopes and Lives in Pursuit of the American Dream. Princeton University Press.
  • Helliwell, J. F., Layard, R., & Sachs, J. (2012). World Happiness Report 2012. Earth Institute, Columbia University.
  • Kahneman, D., & Deaton, A. (2010). "High Income Improves Evaluation of Life but Not Emotional Well-Being." Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(38), 16489–16493.
  • Kroll, C., & Delhey, J. (2013). "A Happy Nation? Opportunities and Challenges of Using Subjective Indicators in Policymaking." Social Indicators Research, 114(1), 13–28.
  • Layard, R. (2005). Happiness: Lessons from a New Science. Penguin Books.
  • Nasr, S. H. (2020). The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity. HarperOne.
  • Seligman, M. E. P. (2021). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. Atria Books.
  • Sen, A. (1999). Development as Freedom. Oxford University Press.
  • Stevenson, B., & Wolfers, J. (2008). "Economic Growth and Subjective Well-Being: Reassessing the Easterlin Paradox." Brookings Papers on Economic Activity, 2008(1), 1–87.
  • Stiglitz, J. E., Sen, A., & Fitoussi, J. P. (2009). Report by the Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress. Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress.

Jumat, 04 Oktober 2024

Literasi Digital dalam P4GN: Strategi Cerdas Pencegahan Narkoba di Era Masyarakat Digital

Materi disampaikan pada: bimbingan teknis untuk para pegiat P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba) BNN Dumai 4 Oktober 2024

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat berkomunikasi, belajar, dan membangun jejaring sosial. Di satu sisi, digitalisasi membuka peluang besar untuk pendidikan dan pemberdayaan. Namun di sisi lain, ruang digital juga dimanfaatkan oleh jaringan narkoba untuk memperluas pengaruh dan peredaran. Dalam konteks inilah literasi digital menjadi elemen kunci dalam upaya Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Literasi digital tidak lagi sekadar keterampilan teknis, melainkan kompetensi strategis bagi para penggiat P4GN agar mampu hadir secara efektif di ruang digital yang menjadi medan baru pertarungan nilai dan informasi.

Literasi Digital sebagai Modal Utama Penggiat P4GN

Literasi digital dalam P4GN bertujuan membekali para penggiat dengan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif, kritis, dan bertanggung jawab. Penggiat P4GN dituntut tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga memahami, mengevaluasi, serta menyebarkannya secara tepat melalui berbagai platform digital.

Dengan literasi digital yang baik, penggiat P4GN dapat mengoptimalkan media sosial dan perangkat digital untuk:

  • mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkoba,

  • menyebarkan informasi yang benar dan terpercaya,

  • serta membangun jejaring dukungan dalam kampanye pencegahan narkoba


Sekilas P4GN dan Peran Penggiat

P4GN merupakan pendekatan komprehensif yang mencakup pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba. Penggiat P4GN adalah individu yang memiliki semangat, kemauan, dan komitmen kuat untuk berperan aktif di lingkungannya sesuai ketentuan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Karakter penggiat P4GN yang ditekankan dalam materi ini mencakup kemauan kuat, semangat tinggi, dan komitmen berkelanjutan, disertai persyaratan moral dan sosial seperti rekam jejak bersih dari narkoba, kesehatan jasmani dan rohani, serta keterlibatan aktif dalam organisasi atau komunitas

Strategi P4GN di Era Digital

Materi presentasi menegaskan bahwa P4GN memerlukan pendekatan yang berlapis dan adaptif. Empat strategi utama P4GN diperkenalkan, yaitu:

  1. Soft Power Approach, melalui rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, dan pencegahan;

  2. Hard Power Approach, melalui penegakan hukum;

  3. Smart Power Approach, dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi;

  4. Co-operation, melalui kerja sama lintas sektor dan lintas komunitas.

Dalam konteks era digital, smart power approach menjadi semakin relevan karena memungkinkan kampanye P4GN menjangkau masyarakat luas secara cepat, murah, dan interaktif

Media Sosial sebagai Instrumen Pencegahan

Media sosial merupakan ruang strategis dalam P4GN. Platform seperti Facebook, Instagram, YouTube, Twitter, dan TikTok memungkinkan penyebaran pesan edukatif secara masif dan real-time. Media sosial juga berfungsi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperluas jaringan relawan, serta mendukung promosi kampanye anti-narkoba.

Namun, pemanfaatan media sosial menuntut kecakapan literasi digital agar pesan yang disampaikan tidak sekadar viral, tetapi juga akurat, etis, dan berdampak positif.

Optimalisasi Perangkat Digital dalam P4GN

Optimalisasi perangkat digital menjadi langkah penting untuk meningkatkan efektivitas P4GN. Materi ini menekankan beberapa langkah konkret, antara lain:

  • pemanfaatan media sosial secara terencana,

  • penggunaan aplikasi dan platform khusus untuk edukasi dan pelaporan,

  • monitoring dan evaluasi kegiatan secara daring,

  • penggunaan media presentasi dan konten edukasi digital,

  • serta kampanye digital terpadu yang berkesinambungan.

Pendekatan ini memungkinkan penggiat P4GN bekerja lebih efisien, terkoordinasi, dan terukur dalam menyampaikan pesan pencegahan narkoba kepada masyarakat luas


Dari Pengikut Menjadi Penggiat

Salah satu pesan kunci dalam presentasi ini adalah bahwa penggiat P4GN tidak bertujuan menciptakan pengikut, melainkan melahirkan lebih banyak penggiat. Literasi digital berperan sebagai alat replikasi nilai, di mana satu individu yang melek digital dapat menginspirasi dan memberdayakan banyak orang untuk terlibat aktif dalam gerakan P4GN.

Dengan demikian, P4GN tidak bergantung pada figur tertentu, tetapi tumbuh sebagai gerakan sosial berbasis kesadaran kolektif.

Penutup

Literasi digital merupakan fondasi strategis dalam penguatan P4GN di era masyarakat digital. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan narkoba yang semakin kompleks, penggiat P4GN dituntut adaptif, cerdas, dan berintegritas. Melalui pemanfaatan teknologi digital yang tepat, P4GN dapat berkembang sebagai gerakan pencegahan yang edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan—melindungi generasi muda sekaligus memperkuat ketahanan sosial bangsa.

Dokumen : PPT  Dokumentasi

Jumat, 20 September 2024

Kepemimpinan dan Organisasi Pemuda di Era Disrupsi: Dari Agen Perubahan Menuju Penentu Masa Depan Bangsa

Meteri disampaikan pada : Program Bakti Pemuda Antara Daerah se Kabupaten Bengkalis yang disrlengarakan oleh Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan olahraga Kabupaten Bengkalis, 19 September 2024

Pemuda selalu menempati posisi strategis dalam perjalanan sejarah bangsa. Dalam berbagai fase perubahan sosial, politik, dan ekonomi, pemuda hadir bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai agen perubahan yang mendorong lahirnya pembaruan. Dalam konteks kekinian, peran tersebut semakin krusial seiring dengan kompleksitas tantangan global, disrupsi teknologi, dan dinamika kebangsaan yang terus berubah.

Organisasi pemuda menjadi ruang penting bagi aktualisasi peran tersebut. Melalui organisasi, pemuda tidak hanya berhimpun, tetapi belajar memimpin, bekerja sama, dan membangun karakter. Organisasi pemuda berfungsi sebagai laboratorium kepemimpinan sosial, tempat nilai, gagasan, dan tindakan diuji dalam praktik nyata.

Organisasi Pemuda sebagai Ruang Pembentukan Karakter

Berorganisasi memberikan manfaat strategis bagi pengembangan diri pemuda. Disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang dalam dinamika organisasi. Selain itu, organisasi melatih keterampilan penting abad ke-21 seperti komunikasi, manajemen waktu, dan kepemimpinan.

Lebih dari itu, organisasi menjadi wadah kreativitas dan inovasi. Ide-ide pemuda menemukan salurannya melalui kegiatan sosial, advokasi, dan program pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks ini, organisasi pemuda tidak hanya berfungsi internal, tetapi juga berkontribusi langsung pada pembangunan sosial.

Kepemimpinan Pemuda: Inovatif, Kolaboratif, dan Visioner

Kepemimpinan pemuda memiliki karakter khas. Pemimpin muda cenderung inovatif, responsif terhadap perubahan, dan terbuka terhadap kolaborasi. Dalam presentasi ini, kepemimpinan dipahami sebagai kemampuan memotivasi dan mengarahkan anggota menuju tujuan bersama, bukan sekadar posisi struktural.

Tiga model kepemimpinan pemuda menjadi sorotan. Pertama, kepemimpinan partisipatif, yang melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan. Kedua, kepemimpinan transformasional, yang menginspirasi perubahan dan fokus pada pengembangan anggota. Ketiga, servant leadership, di mana pemimpin hadir untuk melayani dan memenuhi kebutuhan anggota terlebih dahulu. Ketiganya relevan dalam membangun organisasi pemuda yang sehat dan berkelanjutan.

Tantangan Pemimpin Muda dan Organisasi Kepemudaan

Di balik potensi besar tersebut, pemimpin muda menghadapi berbagai tantangan. Kurangnya pengalaman, tekanan eksternal, serta konflik internal organisasi sering menjadi hambatan serius. Organisasi Kepemudaan (OKP) juga dihadapkan pada persoalan klasik, seperti konflik internal, orientasi proyek semata, kecenderungan praktis politik, hingga aktivitas yang stagnan.

Namun, tantangan tersebut tidak bersifat deterministik. Presentasi ini menekankan pentingnya transformasi OKP melalui penguatan kapasitas, peningkatan wawasan, pengembangan sumber daya manusia, serta kemandirian ekonomi. Moderasi menjadi kata kunci untuk menghindari ekstremisme—baik kiri maupun kanan—dalam gerakan kepemudaan.

Pemuda, Kebangsaan, dan Tanggung Jawab Sejarah

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa pemuda selalu berada di garis depan perubahan besar. Sumpah Pemuda 1928 menegaskan kesadaran kolektif tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Proklamasi Kemerdekaan 1945 dan peristiwa heroik 10 November menjadi bukti bahwa semangat kepemudaan adalah fondasi kebangsaan.

Semangat ini harus terus dirawat dan dimaknai ulang dalam konteks zaman. Kepemudaan bukan sekadar fase usia, tetapi sikap mental kebangsaan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok sempit.

OKP di Era Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 membawa disrupsi besar dalam teknologi, ekonomi, pendidikan, dan bahkan praktik keagamaan. Artificial intelligence, e-commerce, transportasi digital, pembelajaran daring, dan media sosial mengubah cara pemuda berinteraksi dan berorganisasi.

Dalam situasi ini, OKP dituntut adaptif. Pemuda harus memiliki keterampilan abad ke-21: kolaborasi, komunikasi efektif, berpikir kritis untuk memilah fakta dan hoaks, serta kreativitas dalam menghadirkan solusi inovatif. Tanpa kapasitas tersebut, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban sosial.

Bonus Demografi dan Indonesia Emas 2045

Periode 2020–2030 menjadi fase penting dengan hadirnya bonus demografi, di mana mayoritas penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Jika dikelola dengan baik, kondisi ini menjadi modal besar menuju Indonesia Emas 2045—sebuah visi menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Tanpa kualitas sumber daya manusia, ia dapat berubah menjadi bencana. Di sinilah peran strategis pemuda dan organisasi kepemudaan: memastikan bahwa generasi produktif adalah generasi yang berpendidikan, berkarakter, dan beretika.

Pemuda, Etika, dan Literasi Digital

Di era digital, tantangan etika semakin kompleks. Perpaduan antara nilai agama, budaya, globalisasi, dan teknologi informasi menuntut pemuda memiliki literasi digital yang kuat. Etika digital—termasuk netiket, tanggung jawab bermedia, dan kesadaran sosial—menjadi bagian penting dari kepemimpinan pemuda lintas generasi.

Pemuda dituntut tidak hanya aktif, tetapi juga mampu mengedukasi, membimbing, dan mengayomi masyarakat dalam ruang digital yang semakin luas.

Penutup

Kepemimpinan dan organisasi pemuda adalah pilar strategis pembangunan bangsa. Di tengah disrupsi dan perubahan cepat, pemuda tidak cukup hanya hadir, tetapi harus siap memimpin dengan karakter, kapasitas, dan visi kebangsaan. Organisasi pemuda yang adaptif, moderat, dan berorientasi pada pengembangan manusia menjadi kunci agar bonus demografi benar-benar bermuara pada Indonesia Emas 2045

Dokumen : PPT Dokumentasi

Jumat, 21 Juni 2024

Belia Islam dan Liberalisme: Antara Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Peradaban

Disampaikan pada 22 Juni 2024, Seminar Antarabangsa Islam Sebagai Ad-Din yang diadakan di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Pahang, Kampus Raub

Di tengah arus globalisasi dan derasnya pertukaran gagasan lintas batas, liberalisme menjadi salah satu ideologi yang paling kuat memengaruhi cara berpikir masyarakat modern, termasuk generasi muda Muslim. Ide tentang kebebasan individu, hak asasi manusia, dan otonomi berpikir kini hadir bukan hanya dalam wacana politik dan ekonomi, tetapi juga merasuk ke ruang budaya, pendidikan, dan bahkan tafsir keagamaan.

Dalam situasi ini, belia Islam berada di garis depan. Mereka adalah kelompok yang paling akrab dengan dunia digital, paling terbuka pada gagasan baru, sekaligus paling menentukan arah masa depan umat. Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah liberalisme akan berpengaruh, melainkan bagaimana belia Islam menyikapinya.

Liberalisme memiliki sejarah panjang dalam tradisi pemikiran Barat. Sejak John Locke, Montesquieu, hingga Adam Smith, liberalisme berkembang sebagai respons atas absolutisme kekuasaan dan ketimpangan sosial. Dalam konteks tertentu, gagasan ini melahirkan kemajuan politik dan ekonomi. Namun, ketika liberalisme dipahami sebagai ideologi yang melepaskan kebebasan dari nilai dan batas moral, ia berpotensi bertabrakan dengan prinsip dasar ajaran Islam.

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika muncul istilah “Islam liberal”. Sebagian melihatnya sebagai upaya pembaruan pemikiran Islam agar relevan dengan zaman, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai infiltrasi nilai liberalisme Barat ke dalam tubuh Islam. Di sinilah pentingnya kejernihan berpikir. Islam liberal perlu dibedakan antara ideologi dan proses.

Jika Islam liberal diposisikan sebagai ideologi yang menjadikan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi tanpa rujukan wahyu, maka hal itu problematik. Namun jika ia dipahami sebagai proses ijtihad, sebagai ikhtiar intelektual untuk membaca teks dan konteks secara bertanggung jawab, maka proses tersebut justru merupakan kebutuhan setiap zaman. Ijtihad, bagaimanapun, tidak pernah bebas nilai; ia harus selalu berpijak pada Al-Qur’an, Sunnah, dan tujuan kemaslahatan umat.

Di sinilah tanggung jawab belia Islam menjadi krusial. Belia Islam tidak cukup hanya menjadi generasi yang toleran dan terbuka, tetapi juga harus tafāqquh fī al-dīn—memiliki pemahaman agama yang mendalam, kritis, dan utuh. Tanpa fondasi ini, keterbukaan mudah berubah menjadi kebingungan, dan kebebasan mudah tergelincir menjadi relativisme.

Belia Islam juga dituntut memiliki wawasan moderasi (wasaṭiyyah). Moderasi bukan sikap setengah-setengah, melainkan kemampuan menempatkan diri secara adil di antara ekstremisme dan liberalisme tanpa batas. Dalam konteks masyarakat majemuk, sikap ini memungkinkan Islam hadir sebagai kekuatan moral yang komunikatif, humanis, dan membangun peradaban.

Selain itu, belia Islam perlu berakar pada kearifan lokal. Islam tidak hidup di ruang hampa; ia selalu berdialog dengan budaya dan sejarah masyarakat. Pendekatan seperti Islam Nusantara, Islam Madani, atau Islam Hadari menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat tumbuh serasi dengan konteks sosial tanpa kehilangan prinsip dasarnya.

Pada akhirnya, liberalisme adalah realitas zaman yang tidak dapat dihindari, tetapi tidak harus diterima tanpa kritik. Belia Islam bukan sekadar objek pengaruh, melainkan subjek peradaban. Dengan kedalaman ilmu, kejernihan berpikir, dan kematangan spiritual, belia Islam dapat mengawal perubahan, menyaring ide, dan memastikan bahwa modernitas tidak menjauhkan umat dari nilai, tetapi justru memperkuat makna Islam sebagai ad-dīn yang membimbing dan membebaskan.

Dokumen : PPT Dokumentasi

```

Galeri Kegiatan Rektor IAITF

Dokumentasi kegiatan Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai

Memuat galeri kegiatan...
```