Running Text - Dr. Rizal Akbar
Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil adalah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai dan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Beliau juga merupakan Doktor Ekonomi Islam terbaik Universitas Trisakti Jakarta tahun 2016 dan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Komite Organisasi, Wilayah dan Komisariat. Anak bungsu dari pasangan H. Akbar Ali (Alm) dan Hj. Aisyah (Almh) ini lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974. Memulai pendidikan di SD Negeri 61 Sungai Alam, SMPN 3 Bengkalis dan SMAN 2 Bengkalis. Sarjan S1 Diselesaikannya di Universitas Riau, Pada Jurusan Matematika FMIPA, Tahun 1998. Menyelesaikan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada tahun 2007 dengan gelar Master Of Philosopy (M. Phil) yang selanjutnya mengantarkan beliau pada program Doktor di Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 2016 dengan kelulusan Cumlaude, dan Doktor Ekonomi terbaik I.

Jumat, 23 Januari 2026

Filsafat Ilmu & Logika

 


Perkuliahan ini mengajak mahasiswa memahami bagaimana manusia membangun pengetahuan melalui tiga jalur besar: sains, filsafat, dan mistik, dalam lanskap dunia yang juga “diwarnai” oleh dua kekuatan besar: agama dan filsafat. Mahasiswa dikenalkan pada pengertian filsafat sebagai upaya berpikir mendalam, sungguh-sungguh, dan radikal hingga mencapai hakikat persoalan. Dampaknya bukan cuma “jadi pintar debat”, tetapi melatih berpikir serius, memahami cara kerja filsafat, dan membentuk tanggung jawab intelektual sebagai warga yang baik.

Secara metodologis, perkuliahan menekankan tiga cara belajar filsafat: metode sistematis, historis, dan kritis. Pondasi logika diletakkan lewat pembedaan logis (masuk akal) dan rasional (logis tetapi dibatasi hukum alam). Setelah itu, mahasiswa diajak “membedah” setiap jenis pengetahuan dengan kerangka ontologi–epistemologi–aksiologi:

·       Sains: objeknya empiris, kebenarannya dituntut rasional dan perlu verifikasi empiris, serta berguna sebagai alat eksplanasi, peramalan, dan pengontrolan dalam pemecahan masalah.

·       Filsafat: objeknya mencakup “yang ada dan mungkin ada”, ditempuh lewat rasional-abstrak, argumentasi dan pemikiran mendalam; ukuran benarnya terutama logis (benar/salah), dan berfungsi sebagai teori, pemecahan masalah, sekaligus pandangan hidup yang bersifat mendalam dan universal.

·       Mistik: menyentuh wilayah supra-rasional (tak sepenuhnya dipahami secara rasional), diperoleh lewat “rasa (hati)”; ukuran kebenarannya bisa merujuk pada teks suci (bila bersumber dari Tuhan) dan kadang diklaim empiris secara situasional, dengan manfaat yang sangat subjektif (mis. ketenteraman jiwa dalam tasawuf).

Kalau diringkas: mata kuliah ini melatih mahasiswa supaya tidak asal yakin, tapi tahu mengapa sebuah pengetahuan dianggap benar, bagaimana cara memperolehnya, dan untuk apa ia dipakai—biar nalar tidak gampang “dibajak” oleh klaim yang terdengar meyakinkan (apalagi yang capslock-nya lebih kuat daripada argumennya).