Running Text - Dr. Rizal Akbar
Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil adalah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai dan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Beliau juga merupakan Doktor Ekonomi Islam terbaik Universitas Trisakti Jakarta tahun 2016 dan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Komite Organisasi, Wilayah dan Komisariat. Anak bungsu dari pasangan H. Akbar Ali (Alm) dan Hj. Aisyah (Almh) ini lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974. Memulai pendidikan di SD Negeri 61 Sungai Alam, SMPN 3 Bengkalis dan SMAN 2 Bengkalis. Sarjan S1 Diselesaikannya di Universitas Riau, Pada Jurusan Matematika FMIPA, Tahun 1998. Menyelesaikan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada tahun 2007 dengan gelar Master Of Philosopy (M. Phil) yang selanjutnya mengantarkan beliau pada program Doktor di Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 2016 dengan kelulusan Cumlaude, dan Doktor Ekonomi terbaik I.

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa tahun 2025

Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara

Rizal Akbar Terima Anugrah Hang Tuah DMDI

Anugrah diserahkan langsung oleh TYT Tun Seri Setia Dr. Hj Mohd Ali Bin Rustam

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat.

Rizal Akbar Ikut Dilantik Menjadi Pengurus DPP IAEI 2025-2030

Ketum IAEI Pusat yang Juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA: Sinergi Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Rizal Akbar Pembicara Pada Seminar Internasional Pesisir Selat Melaka

Bentangkan Rekonstruksi Sejarah Ekonomi Maritim Selat Melaka Pada Forum Seminar Internasional di UiTM Shah Alam Malaysia

Rizal Akbar Terima Anuggrah Darjah Mahkota Muda

Kesultanan Pagaruyung Darur Qarar

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa, Tokoh Adat Dan Budaya Nusantar tahun 2025

 

Melaka IAITF. Bertempat di Dewan JKKN Air Keruh Melaka Malaysia Sabtu (8/11), Rektor IAITF Dumai Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil bersama dengan akademisi, budayawan dan penggiat Seni Nusantara, Indonesia dan Malaysia terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara" dengan gelaran "Satria Pujangga Bangsa". Anugrah ini diserahkan langsung oleh Prof. Dr. (HC) Ezlina bte Alias, Pengarah Jabatan Kebudayaan Dan Kesenian Negara Negeri Melaka dan Prof. Dr. Haji R.A. Huzaifah Dato’ Hashim, Pengarah Program merangkap Pengerusi Biro Penyelidikan & Tugas Khas DMDI.

Anugrah ini diberikan sempena Festival Warisan Etnik Nusantara dan Seminar Peradaban DMDI 2025. Tokoh-tokoh yang diberikan penghargaan adalah para penggiat Seni Dan kebudayaan Nusantara yang memiliki dedikasi tinggi dalam hal Adat, Seni Dan kebudayaan, dari kalangan akademisi, guru-guru silat, aktifis sanggar, para seniman bahkan dari kalangan Keraton Dan kesultanan Nusantara.

Berita ditulis Oleh : Lestary

Sabtu, 30 Agustus 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

 



Solo IAITF Dumai, Rektor IAITF Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat Solo (31/8). Gelar Kangjeng Raden Haryo Dwijo Barotodipuro dapat dimaknai sebagai Yang mulia, bangsawan keraton, seorang guru atau cendekiawan yang utama dan bijaksana, serta menjadi bagian dari kemuliaan istana.” Gelar in tentu sangat sesuai dengan aktifitas Rektor IAITF Dumai sebagai seorang cendikiawan bahkan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka.

Penganugrahan itu langsung diberikan oleh Sinoehoen Kangjeng Soesoehoenan Pakoeboewono Sinoehoen Tedjowoelan kepada berbagai kalangan, dari berbagai daerah di Indonesia ,juga beberapa penerima anugrah berasal dari Melaka, Shah Alam dan Terenganu Malaysia.

Dengan penganugrahan gelar kepada Rektor IAITF ini memberikan penguatan peran IAITF dalam pengembangan komitmen kebudayaan serta pelestarian Khazanah adat istiadat nusantra.

 

ditulis oleh : Tary

Sabtu, 27 Mei 2023

Fakta Tentang Batin Alam dan Awang Mahmuda




Kronik Sungai Alam terkuak sudah. Sebuah Kampung lama yang ada di pulau Bengkalis itu menyimpan misteri nama serta mitos yang selalu dikisahkan kepada setiap generasi. Dalam penuturannya maka hadirnya sosok Batin Alam, Mak Sikancing serta Awang Mahmuda yang menjadi legenda dalam kisah asal usul desa Sungai Alam itu yang selama ini belumdapat terungkap melalui sebuahn fakta sejarah. Meskipun baik Hikayat Siak maupun catatatan sejarah lainnya sempat menyebut adanya Bathin dipulau Bengkalis pada kurun Abat ke 15 sd 18 tersebut.

Pulau yang setrategis diera niaga pra kolonialis itu, didiami oleh orang selat demikian hikayat Melayu dan Siak menuturkan. Masyarakat dipulau itu dikepalai oleh beberapa orang Bathin. Alkisah tersebutlah seorang Batin di pulau ini dengan sebutan Batin Alam, mitos dan legenda kesaktiannya dikabarkan dari generasi kegenerasi sebagai seorang tokoh hebat yang tinggal dikampung yang terhubung oleh sebatang sungai menuju kelaut. Sangking populernya tokoh tersebut sehingga sungai itu dinamakan Sungai Alam. Kisah legenda keperkasaan Batin Alam ini, sudah lama menjadi cerita dari mulut kemulut yang belum memiliki fakta sejarah yang dapat mengokohkannya. 

Sampailah pada beberapa waktu yang lalau disaat penulis menekuni kajian "sejarah perdagangan awal selat Melaka". kajian kesejarahan serta fakta-faktar tentang eksistensi pulau-pulau sepannjang garis pantai  Selat Melaka menjadi menarik untuk diamati terutama pulau Bengkalis dan Rupat. Dalam proses pengumpulan data, tiba-tiba penulis menemukan sebuah dokumen lama berupa kliping koran yang diterbitkan di Belanda berkisar tahun Sept 1867 sebagaimana gabar dibawah ini:

Pada paragraf 2 sebelah kanan artikel ini menyebutkan tentang Batin, jika ditulis kembali maka dapat dituliskan sebagai berikut :

Naarmate zij wies, nam de toeloop van volk toe inzonderheid daar Marlimou, en wel zoodanig, dai Batin Alam zich weldra genoodzaakt zag daar tij delijk een bandar (sjahbandar) aan te stellen. Daartoe werd aangewesen een bit Pagoeroejoeng geboortig, doch te Merbau woonachtig persoon, wien de gelar Werd toegekend van : Bandar Sendrak.” Deze zou de cerste Bandar van Bengkalis zijn geweeet.

Met de toename van het aantal immigranten steeg ook de urgentie tot aanstolling van meerdero Batins, waartoe, naa verluidi, Intje Timah. later meer be kend onder de gelar van Djandjang Radja (de eerste hantoe troeboek), den stoot zou hobben gegeven. Mij werd terzaker het volgende verhaal gedaan:

 Sialang Laoet was een man die er behagen in vond kandoeris (offermaalfeestan) te geven. Zoo gebeurde 't dat door hem een kandoeris werd geor ganiseerd, die twee maanden had geduurd. enwaaraan vale menschen  doelaamen. Gedurende dit offerfeest nu, at plaats vond In een bovon het wateroppervlak van de Brouwerstraat, aan de koewala der Soengei Alam, gebonwde bangsal

yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia;

Seiring pertumbuhannya, masuknya orang meningkat, terutama di Marlimou, dan sedemikian rupa sehingga Batin Alam segera terpaksa menunjuk sementara seorang bandar (shahbandar) di sana. Untuk itu, lahirlah seorang Pagoeroejoeng kecil yang tinggal di Merbau, yang dianugerahi gelar: Bandar Sendrak.” Ini akan menjadi Bandar Bengkalis pertama.

Dengan bertambahnya jumlah pendatang, urgensi untuk memantapkan beberapa Batin juga meningkat, salah satunya menurut laporan Intje Timah. kemudian lebih dikenal dengan gelar Djandjang Radja (hantu trouboek pertama), pukulan akan diberikan. Kisah berikut diceritakan kepada saya:

Sialang Laut adalah orang yang senang memberikan kanduris (pesta kurban). Kebetulan dia mengorganisir kanduery yang berlangsung selama dua bulan. dan yang disebut pria pucat. Sekarang selama pesta kurban ini, yang berlangsung di bagian atas permukaan air Brouwerstraat, di kuwala Alam Soengei, bangsal dibangun

Paling tidak catatan diatas menjelaskan bahwa Batin Alam bukan dongen, bahkan beliaulah yang menunjuk datuk Bandar pertama di Pulau Bengkalis serta hadirnya sosok peria pucat yang disebut "Sialang Laut" yang sangat dermawan yang melaksanakan kenduri di kuala Sungai Alam selama dua bulan penuh boleh jadi pemuda inilai yang banyak dituturkan pada sasra lisan disebut sebagai Awang Mahmuda. kisah ini tentu memerlukan analisis serta memerlukan dukungan fakta lainnya atau kronik-kronik sejarah yang mendukung fakta tersebut. Namun apa yang pasti bahwa sebagai sebuah kampung lama Sungai Alam merupakan wujud dari sejarah atas pulau yang pernah diperebuatkan oleh berbagai kekuatan diera niaga selat Melaka.

Catatan, HM.Rizal Akbar 28/05/2023


Senin, 20 Maret 2023

Berjalan Menuju Pangkal

Ahad, 19 Maret 2023, bertepatan 26 Syaban 1444 H. Kami melakukan perjalanan untuk menuju "pangkal jalan". Perjalanan di mulai dari Dumai menuju Siak dengan hajat berziarah ke Makam Raja Kecil atau Sultan Abdul Jalil Syah, atau Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I di Buantan Langkai Siak dan direncakan dilanjutkan ke Makam Andanya Tengku Buang Asmara atau Sultan Mahmud Abdul Jalil Musyafar Syah di Mempura. 
Ziarah ini merupakan bagian dari perjalanan spritual dan napak tilas ketamaddunan Melayu yang pernah jaya dimasa Silam, yang diinpirasi dari membaca "Hikayat Siak". 

Menggunakan transportasi Mobil Inova, bergerak dari pukul 7,30 wib dan pada pukul 10,27 singgah di Suangai Pakning Untuk Istirahat dan ngopi di kedai Kopi 99 jalan lintas Sungai Pakning Siak. 

Kami sampai di Makam Marhum Buantan Raja Kecil sekitar pukul 12,30 ternyata disana sudah banyak rombongan penziarah. Kami sempat sempat menyapa rombongan penziarah yang mengaku dari  LAZISNU Ukui Kabupaten Pelalawan serta Rombongan salah satu Pasantren NU di Siak Kecil Kabupaten Bengkalis. 

Makam Raja Kecil terawat dengan baik, dengan kondisi sana-sini bersih. Terdapat pula Dua makam lain disisi kiri makam tersebut yang boleh jadi salah satu dari makam itu adalah makam Istri tercinta baginda yakni Tun Kamariah putri bungsu dari Datuk Bendahara.

Raja Kecil yang merupakan Sultan ke 12 yang memerintah Kerajaan Johor dan Sultan Pertama Siak sejak tahun 1723 sd 1746 itu adalah seorang Raja yang gagah berani, tangguh dan selalu memimpin perperangan baik sebelum maupun setelah dinobatkan sebagai Raja. Titisan Darah Iskandar Zulkarnain sebagaimna dikisahkan dalam Hikayat Siak dan Tufat Annafis, benar-benar menyatu dalam jiwa kepatriotisme belaiau maupun anak keturunannya dimasa berikutnya.

Setelah membacakan tahtim, tahlil dan Doa di Makam tersebut perjalanan dilanjutkan dengan Istirahat Sholat dan makan siang. Masih disekitar Desa Lankai pada sebuah belokan jalan litas Siak ada sebuah Masjid terbuka yang didirikan pada tahun 2007 bernama Baitulrahman yang selalu ramai dengan para Musafir yang singgah untuk istirahat dan Sholat. Disanalah rombongan melaksanakan Sholat Zuhur yang dijamakkan dengan Asyar. Selesai melaksankan Sholat, makan siang di Kedai Sop Fauzan yang hanya 100 Meter dari masjid tersebut kearah menuju Bunga Raya. 

Meski dipandu Google Map, perjalanan menuju Makam  Tengku Buang Asmara atau Sultan Mahmud Abdul Jalil Musyaffar Syah yang merupakan sulatan kedua Siak tahun  1746-1760 tidak mudah ditemui. Rupanya makam tersebut berada di Desa Wisata Kampung Melayu Mempura seberang Istana melalui jambatan Siak Tengku Agung Sultanah Latifah yang megah membentang menghubungkan antara kawasan Istana Asserayah Asyimiah dengan Mempura, dua kawasan yang penting dikota Ini. 

Sepanjang jalan dan jembatan berjejer boleho berukuran besar dan kecil yang bergambarkan sketsa wajah Tengku Buang Asmara dengan narasi mohon doa dan Dukungannya Tengku Buang Asmara Sultan Siak Ke 2 sebagai pahlawan Nasional dari Riau.

Sebagaimana dikabarkan bahwa pemerintah kabupaten Siak telah mengusulkan Tengku Buang Asmara sebagai pahlawan Nasional yang telah diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten siak dan Provinsi Riau pada awal  2023 Silam, dan proses pengalian sejarahnya dilakuka  sejak tahun 2019 oleh pemerintah Kabupaten Siak. 

Kami tiba dimakam Tengku Buang Asmara sekitar pukul 14,20 Wib. Suasana makam sudah terawat dengan baik namun makam Tengku tidak semegah Ayahandanya Raja Kecil di Langkai. Makam Tengku Buang Asmara di Mempura sepertinya masih perlu penataan dari pemerintah supaya terkesan nyaman untuk dikunjungi dan diziarahi oleh para pengunjung. Seperti halnya makam marhum Buantan, makam Tengku Buang Asmara juga tidak memiliki banyak informasi dan literasi yang dapat memahamkan generasi pada tokoh yang ada. 

Setelah melantunkan Doa dipusara Marhum Mempura dengan mengharap kepada Allah SWT kiranya perjuangan untuk menjadikan marhum Mempura sebagai Pahlawan Nasional dimudahkan oleh Allah SWT, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan kuliner dipinggir sungai siak dikawasan Istana. Disini kami ditemani rekan Iskandar. Seorang pengiat kebudayaan dan kesejarahan Siak. 

Dalam bualan santai Iskandar menyampaikan berbagai hal terkait  kesejarahan dan perjuangannya dalam mengali sejarah dan kebudayaan di Siak. Banyak hal dalam kesejarahan siak yang beliau kemukakan namun yang menarik dari apa yang disampaikannya adalah terkait dengan Kerjaan "Gasib". Iskandar mengungkapkan bahwa kerajaan ininpunya sangkut paut yang erat dengan kisah Sultan Mahmud Mangkat di Julang yang dibunuh oleh Megat Sri Rama. Dia mengaitkan Megat Sri Rama dengan Megat Kudu yang dikisahlan sebagai Raja terakhir Kerajaan Gasib. Bahkan menurutnya kerajaan Perak Memiliki silsilah dekat dengan kerajaan Gasib ini. Wallohu a'lam bissawab. 

Ditulis Oleh : Dr. H. M. Rizal Akbar, M. Phil



Minggu, 04 April 2021

Warisan Keulamaan H. Zainal Abidin Sungai Alam (Sebuah Catatan Awal)

Sebuah penelusuran awal trah keulamaan dan perjuangan dakwah Islam yang dijalankan oleh silsilah keturunan H. Zainal Abidin yang bermukim di desa Sungai Alam Bengkalis. 

Dituturkan oleh para keturunannya bahwa H. Zainal Abidin adalah seorang ulama yang tekun mendakwahkan Islam di Bengkalis dimasa penjajahan Belanda. Memang belum ditemukan fakta yang saheh tentang sejarah perjuangan beliau, namun jika ditelisik dari generaai-generasi penerus keturan ini dapat dipastikan bahwa kisah tentang keulamaan dan perjuangan dakwah beliau tidak dapat disangkal. 

Beliau memiliki tiga orang anak perempuan dan seorang laki-laki, yakni Hj. Zainab, Hj. Rumnah, Hj. Zaleha dan Abdul Wahab. dari garis keturunan keempat anaknya tersebut mayoritas menjalankan aktifitas dalam bidang dakwah dan keagamaan. Baik sebagai guru agama, imam masjid, ketua MUI, hakim agama, khori dan pengajar Al-quran, bahkan membangun perguruan tinggi Islam serta Ilmuan dalam bidang keislaman. 

Semua keturunan beliau itu tersebar di kawasan provinsi Riau terutama kawasan pesisir, Bengkalis, Dumai, Selat Panjang, Rokan Hilir, Siak dan Pekanbaru. 


Rabu, 25 Desember 2019

Peradaban itu Berawal dari Arus Sungai Hingga Arus Informasi

Pradaban besar dunia pada masa awal sangat ditentukan oleh Sungai. Lihatlah peradaban Cina yang berawal dari sungai Kuning atau Hwang Ho, peradaban Eropa pula ditentukan oleh dua sungai yakni Eufrad dan Tigris. Begitu pula dengan peradaban awal bangsa-bangsa lainya. Di Riau ada empat sungai yang mengilhami perabannya yakni, Siak, Kampar, Rokan dan Indragiri.

Titik balik peradaban yang menandai lahirnya dunia baru yang dicirikan dengan cara berproduksi ditandai dengan revolusi induatri di inggris yang terjadi pada priode 1750-1850. Dari perubahan itu, dunia terus berkembang dan kini sudah sampai pula pada priode Revolusi Induatri (RI) 4.0, yang ditandai dengan jaringan internet sebagai kebutuhan utama dan menyokong kemajuan disegala sektor.

Baik pradaban kono yang di ilhami oleh Sungai mahupun peradaban modern yang diilhami oleh revolusi induatri, sesungguhnya perubahan peradaban itu dipengaruhi oleh "arus". Mulai dari arus sungai yang membawa lumpur kesuburan, meyebabkan munculnya masyarakat menetap dari sebelumnya nomaden dimasa peradaban kono seperti lembah nil di Mesir. 

Arus pelayaran niaga pada masa marcantilisme, dimana negara-negara Eropa sibuk dengan upaya ekspansi perdagangan maka lahirlah syarikat pelayaran dagang seperti VOC dari Belanda yang berdagang rempah-rempah, di Indonesia syarikat dagang ini kemudian di defenisikan dengan "penjajah".

Munculnya Arus Modal yang mendefenisikan pemilik modal diera revolusi industri di Inggris 1750-1850. Arus modal yang begitu pesat guna membangun induatri-industri pada RI 1.0 ini mengakibatkan pradaban baru dengan faktor Modal dan Tenaga kerja sebagai hal yang utama.

Arus listrik pula mengokohkan perubahan struktur pemilik modal itu, dengan menggantikan tenaga uap yang padat karya dengan listrik yang lebih hemat tenaga kerja, namun dengan produksi yang bersifat masal inilah yang menandai wujudnya RI 2.0.

Arus pemasaran global, telahpula memaksa perubahan peradaban itu dari sebelumnya bersifat manual dan analog menjadi otomasi berbasis komputer. Produksi massal harus memenuhi standar kualitas tertentu supaya bisa diterima oleh pasar untuk itu diperlukan sistem otomasi yang mampu berproduksi standar. Fenomena ini menandakan perubahan baru yang bergeaer kepada RI 3.0.

Arus komunikasi pula meluncur dengan begitu pesatnya, mengakibatkan nyaris tidak ada lagi batasan diantara dunia satu dengan yang laimnya. Teknologi informasi berbasis jaringan internet berkembang pesat sehingga peradaban bergeser lagi tidak hanya sebatas mengejar efektif dan efisien dalam berproduksi guna mencapai keunggulan dalam bersaing, kini diera yang serba terbuka menyebabkan keunggulan tidak bisa bertahan lama, karena setiap orang dapat memproduksi barang atau jasa dengan kualitas sama pada tempat yang berbeda akibat nyaris homogennya pengetahuan dan teknologi disetiap bagian dunia akibat pesatnya arus informasi, diera ini orang dipacu untuk berinovasi guna bertahan dalam pertarungan global. Era ini menandakan pase baru dalam peradaban manusia yakni era RI 4.0.

Demikianlah perubahan itu seaungguhnya tentang "arus'. Pilihanya mampu mengikuti arus dan memiliki pengetahuan cukup dalam arus itu, atau hanyut oleh arus dan terombang-ambing dalam ketidak pastian atau hanya sibuk melawan arus sehingga keletihan dalam mendefenisikan kehidupan yang terasa lain dari apa yang diharapkan...


Kayangan, akhir tahun 2019


Rabu, 27 Desember 2017

"Terjajah Lagi"

sumber gambar http://berkahkampung.blogspot.co.id
Markantilisme adalah faham yang memotivasi munculnya kolonialisme klasik yang mulai berkembang diabad ke-15. Pahaman yang hanya mempertimbangkan kepentingan sepihak dalam mengumpul kekayaan dan emas itu, berdampak luas pada keteraniayaan negara-negara terjajah atau dunia ketiga. Kekayaan alam dikuras tanpa memperdulikan aspek apapun selain keuntungan bagi negara penjajah.

Sejarah mengungkapkan para penjajah hadir tidak alih-alih, namun selalu saja kehadirannya dipicu oleh kepentingan politik dalaman yang tidak stabil disebabkan ambisi serta keserakahan. Konflik politik itu merupakan pintu masuk yang sangat dominan bagi para penjajah. Perbutan kekuasaan penguasa-penguasa politik para raja-raja bahkan urusan remeh-temeh seperti ketersingungan yang dianggap merendahkan kewibawaan antar keluarga feodal raja-raja tersebut selalu menjadi punca konflik dan ketegangan yang dimanfaatkan oleh para penjajah untuk menanamkan kukunya di negara jajahannyà.

Pasca perang dunia kedua semuanya sadar bahwa penjajahan itu bertentangan dengan hak asasi manusia dan kemerdekaan harus segera diwujudkan. Namun masa hiporia kemerdekaan yang melahirkan negara bangsa pasca kolonialisme di pertengahan abad ke-20 itu disambut pula dengan perang dingin atas nama idiologi. Paling tidak saat itu dunia terbelah menjadi dua, yakni belok timur yang sosialis dan barat dengan idiologi kapitalis. 

Dapatkan segera Karya terbaru DR. H. M. Rizal Akbar 
Negara-negara sosialis/komunis  percaya bahwa keadilan itu hanya akan terwujud  melalui campur tangan negara pada semua aspek kehidupan terutama menyangkut urusan ekonomi masyarakat. Sehingga tidak boleh ada satupun faktor produksi yang dikuasai oleh swasta. Berbeda dengan itu, kaum kapitalis percaya bahwa pasar adalah segala-galanya, keadilan ada disana. Negara tidak mungkin bisa adil dalam menentukan harga dan upah karena hanya pasar melalui prinsip kebebasan, akan melahirkan keadilan.

Kedua pemahaman ini  saling bercanggah dan bersaing untuk menanam pengaruhnya di dunia, dan target utamanya tidak lain adalah negara-negara dunia  ketiga yang baru saja merdeka. Lama sekali perang dingin itu terjadi, dengan memakan koran sangat besar serta pertumpahan darah dimana-mana, baik  akibat perang maupun embargo ekonomi. Pertikaian itu muali mereda sejak  tahun 1989 ketika negara-negara Eropa Timur dengan idiologi sosialis itu berjatuhan yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet pada 26 Desember 1991. Fenomena itu dinyatakan oleh Danel Bell dan Francis Fukuyama dalam bukunya the end of ideology, pertarungan ideologi dunia itu telah berakhir yang dimenangkan oleh barat yang libral dan kapitalis. Nyaris semua negara mengadopsi sistem tersebut, sekalipun Cina yang meskipun mempertahankan komunis namun secara ekonomi mereka sudah mulai membuka diri.

Kebebasan pasar sebagai kemenangan sistem kapitalis itu pada awalnya menampakkan kesan yang positif terhadap perekonomian dunia. Banyak negara bangkit mengeliat dengan pertumbuhan tinggi dan mencerahkan pembangunan nasional. Namun itu tidak lama. Indonesia yang sudah sampai pada tingkat tinggal landas dengan pertumbuhan  7%, dengan cadangan devisa yang memadai, bahkan digelar "macan asia", akhirnya terjungkal ketanah akibat sapuan krisis ekonomi ditahun 1998. Bukan hanya Indonesia, banyak negara mengalami hal serupa. Goncangan ekonomi yang dahsyat itu menyebabkan kisruh politik dalam negri yang tak terelakkan. Suharto jatuh dari kursi kepresidenan Indonesia setelah berkuasa selama 35 tahun.

Kiprah libralisme ekonomi kembali dipersoalkan, ternyata kebebasan itu tidak serta-merta membuat negara bangsa yang baru keluar dari kungkungan penjajahan itu benar-benar merdeka. Pasar bebas yang dipandang adil karena ada tangan tersembunyi yang mengatur harga sebagaimana pandangan Adam Smith, atau perdangan luar negeri yang saling menguntungkan karena prisip keunggulan komparatif sebagaimana pandangan Devid Ricardo, pada gilirannya membawa kembali prisnsip markantilisme dalam wajah baru yang oleh Ian Bremmer dalam bukunya yang berjudul the and of the free market dengan "kapitalisme negara". 

Mengacu pada pemikiran Huttington (dalam Wildan: 2014) bahwa akhir perang dingin tidak berarti akhir persaingan ideologi, diplomatik, ekonomi, teknologi, atau bahkan militer diantara negara-negara. Hal ini tidak berarti akhir dari perebutan kekuasaan dan pengaruh. Kapitalisme negara yang berlangsung saat ini lebih menakutkan ketimbang markantilisme VOC Belanda pada masa lalu. Isu-isu proyek-proyek yang dibiayai oleh negara Cina dengan seperangkat aturan yang mengikat ditambah dengan eksodus jutaan tenaga kerja dari negara tersebut, tidak lekang dari pemberitaan dimedia-media masa dan media sosial di Indonesia. Bila dulu para raja-raja itu berebut kekuasan sehingga VOC mengambil kesempatan dalam konflik tersebut, namun agaknya kini percaturan politik demokrasi yang tidak sehat, dengan biaya politik yang amat mahal menyebabkan para elit politik harus memenuhkan pundi-pundi keuangan pribadi dan politiknya dengan membangun kemitraan bersama penjajah. Dan akhirnya kita "terjajah lagi".