Running Text - Dr. Rizal Akbar
Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil adalah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai dan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Beliau juga merupakan Doktor Ekonomi Islam terbaik Universitas Trisakti Jakarta tahun 2016 dan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Komite Organisasi, Wilayah dan Komisariat. Anak bungsu dari pasangan H. Akbar Ali (Alm) dan Hj. Aisyah (Almh) ini lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974. Memulai pendidikan di SD Negeri 61 Sungai Alam, SMPN 3 Bengkalis dan SMAN 2 Bengkalis. Sarjan S1 Diselesaikannya di Universitas Riau, Pada Jurusan Matematika FMIPA, Tahun 1998. Menyelesaikan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada tahun 2007 dengan gelar Master Of Philosopy (M. Phil) yang selanjutnya mengantarkan beliau pada program Doktor di Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 2016 dengan kelulusan Cumlaude, dan Doktor Ekonomi terbaik I.

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa tahun 2025

Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara

Rizal Akbar Terima Anugrah Hang Tuah DMDI

Anugrah diserahkan langsung oleh TYT Tun Seri Setia Dr. Hj Mohd Ali Bin Rustam

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat.

Rizal Akbar Ikut Dilantik Menjadi Pengurus DPP IAEI 2025-2030

Ketum IAEI Pusat yang Juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA: Sinergi Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Rizal Akbar Pembicara Pada Seminar Internasional Pesisir Selat Melaka

Bentangkan Rekonstruksi Sejarah Ekonomi Maritim Selat Melaka Pada Forum Seminar Internasional di UiTM Shah Alam Malaysia

Rizal Akbar Terima Anuggrah Darjah Mahkota Muda

Kesultanan Pagaruyung Darur Qarar

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2026

Siak Bukan Riau: Jejak Konflik, Identitas, dan Gagasan Provinsi Sri Indrapura dalam Hikayat Siak


Gagasan pembentukan daerah otonomi baru di kawasan pesisir timur Riau selama ini ya diperkenalkan dengan nama Provinsi Riau Pesisir, yang mencakup Kabupaten Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai. Secara geografis, istilah tersebut cukup mudah dipahami karena kelima daerah mempunyai hubungan yang kuat dengan pesisir, sungai, jalur perdagangan, pelabuhan, serta Selat Melaka. Namun ketika wacana pemekaran dibaca kembali melalui sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah nama “Riau” merupakan identitas historis yang paling tepat bagi provinsi baru tersebut?

Pertanyaan itu menjadi menarik ketika kita membaca Hikayat Siak. Dalam teks tersebut, Siak dan Riau tidak selalu tampil sebagai satu ruang politik yang sama, melainkan sebagai dua pusat kekuasaan yang dapat dibedakan dan dalam sejumlah episode justru saling berhadapan. Karena itu judul “Siak Bukan Riau” dalam tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai penolakan terhadap Provinsi Riau modern, apalagi sebagai upaya memutus sejarah masyarakat Siak dari Riau hari ini. Ungkapan tersebut digunakan sebagai tesis historiografis: dalam konteks politik abad ke-18 sebagaimana direpresentasikan dalam Hikayat Siak, Siak mempunyai jalur pembentukan kekuasaan, legitimasi, dan identitas politiknya sendiri yang berbeda dari pusat Johor-Riau.

Perbedaan konteks ini harus ditegaskan sejak awal. Riau dalam Hikayat Siak bukan identik dengan Provinsi Riau yang dikenal sekarang. Istilah Riau pada masa itu lebih berkaitan dengan pusat politik Johor-Riau dan kawasan kepulauan yang menjadi arena berkembangnya kekuasaan Melayu-Bugis. Sementara itu, Siak berkembang di pesisir timur Sumatra sebagai pusat kekuasaan yang dibangun oleh Raja Kecil dan keturunannya. Karena itu, pembacaan sejarah harus menghindari anakronisme dengan memaksakan batas administratif abad ke-21 kepada dunia politik abad ke-18.

Raja Kecil dan Akar Konflik Siak–Riau

Salah satu poros utama Hikayat Siak adalah kisah Raja Kecil, tokoh yang menjadi dasar legitimasi dinasti Siak. Dalam narasi hikayat, Raja Kecil dikonstruksikan sebagai keturunan Sultan Mahmud Syah II dari Johor. Klaim genealogis ini sangat penting karena menjadi dasar bagi tuntutannya atas takhta Johor. Dengan demikian, perjuangan Raja Kecil bukan digambarkan hanya sebagai ekspansi politik seorang penguasa baru, tetapi sebagai usaha mengembalikan hak dinasti yang dianggap sah.

Raja Kecil berhasil menguasai Johor pada 1718 dan memerintah dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Akan tetapi, kekuasaannya kemudian ditantang oleh Tengku Sulaiman, putra Bendahara Abdul Jalil, yang memperoleh dukungan kuat dari kelompok Bugis. Pada 1722, Raja Kecil kehilangan kontrol atas pusat Johor dan kemudian membangun basis kekuasaannya di kawasan Sungai Siak. Dari sinilah terbentuk pusat politik yang kelak berkembang menjadi Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam memahami identitas Siak. Siak tidak lahir sebagai cabang administratif Riau sebagaimana sebuah kabupaten berada dalam provinsi pada masa kini. Sebaliknya, Siak tumbuh dari kontestasi atas warisan politik Johor-Melaka dan kemudian berkembang menjadi pusat kekuasaan tersendiri di Sumatra. Dengan kata lain, pembentukan Kesultanan Siak merupakan proses diferensiasi politik, bukan subordinasi administratif kepada Riau.

“Peperangan Siak–Riau” sebagai Penanda Dua Ruang Politik

Struktur naratif Hikayat Siak memberikan petunjuk penting mengenai hubungan tersebut. Dalam penyusunan dan pembacaan edisi modern hikayat ditemukan bagian-bagian yang secara eksplisit berbicara mengenai “Peperangan Siak-Riau Berterusan”, “Perbalahan Siak dengan Riau”, dan kuatnya pengaruh Bugis dalam politik Johor-Riau.

Ungkapan semacam itu penting secara historiografis. Apabila Siak dan Riau dipahami sebagai satu identitas politik yang sama, istilah “peperangan Siak-Riau” menjadi sulit dimengerti. Justru melalui ungkapan tersebut terlihat bahwa penulis atau tradisi yang melahirkan Hikayat Siak membangun pembedaan yang cukup jelas antara Siak sebagai pusat kekuasaan Raja Kecil dan keturunannya dan Riau sebagai bagian dari pusat kekuasaan Johor-Riau yang kemudian sangat dipengaruhi oleh elite Bugis.

Dalam konteks ini, konflik Siak-Riau bukan sekadar pertikaian lokal. Ia merupakan bagian dari perubahan besar dunia Melayu pada abad ke-18. Setelah pusat Johor-Melaka mengalami krisis dinasti, beberapa kekuatan baru muncul dan berusaha membangun legitimasi masing-masing. Siak berkembang di pesisir timur Sumatra; Johor-Riau berkembang dengan konfigurasi politik Sultan dan Yang Dipertuan Muda Bugis; sementara kekuatan lain seperti Terengganu, Kedah, dan kelompok-kelompok Minangkabau juga memainkan perannya.

Konflik Bukan Hanya Soal Takhta

Pertentangan antara Siak dan Riau juga tidak cukup dijelaskan hanya sebagai perebutan takhta. Di balik konflik dinasti terdapat kepentingan yang lebih luas, terutama penguasaan jalur perdagangan dan ruang maritim Selat Melaka.

Siak mempunyai keunggulan geografis yang sangat penting. Sungai Siak merupakan salah satu jalur yang menghubungkan wilayah pedalaman Sumatra dengan pesisir dan Selat Melaka. Melalui sungai tersebut bergerak komoditas, manusia, informasi, dan kekuasaan. Penguasaan atas kawasan sungai berarti penguasaan terhadap akses hinterland Sumatra.

Sebaliknya, pusat Riau-Johor memiliki posisi strategis di kawasan kepulauan dan jalur pelayaran Selat Melaka. Karena itu, konflik Siak-Riau dapat pula dibaca sebagai persaingan antara dua bentuk geoekonomi: kekuatan sungai dan hinterland di satu sisi, serta kekuatan kepulauan dan jalur maritim di sisi lain.

Pemahaman ini sangat penting karena menunjukkan bahwa identitas politik Siak terbentuk sekaligus dari faktor dinasti dan faktor ruang. Siak bukan hanya nama sebuah kerajaan, tetapi merupakan sebuah sistem sungai, bandar, masyarakat, dan perdagangan yang mempunyai orientasi langsung kepada Selat Melaka.

Hikayat Siak sebagai Politik Ingatan

Namun Hikayat Siak tidak boleh dibaca seperti laporan administrasi modern. Hikayat adalah teks sejarah sekaligus sastra politik. Ia memilih tokoh tertentu, menonjolkan peristiwa tertentu, dan membangun silsilah tertentu untuk menghasilkan legitimasi.

Dalam hal Raja Kecil, fungsi tersebut sangat jelas. Klaim bahwa Raja Kecil merupakan keturunan Sultan Mahmud Syah II mempunyai makna politik yang sangat besar. Melalui genealoginya, dinasti Siak dapat menempatkan dirinya sebagai penerus sah tradisi Melaka-Johor.

Karena itu, Hikayat Siak harus dibaca bersama sumber lain, termasuk Tuhfat al-Nafis, Syair Perang Siak, Syair Raja Siak, arsip kolonial, dan dokumen Kesultanan Siak. Masing-masing mempunyai sudut pandang sendiri. Jika Hikayat Siak cenderung menghadirkan pandangan yang memberi tempat penting kepada Raja Kecil dan garis Siak, Tuhfat al-Nafis banyak merepresentasikan dunia politik Melayu-Bugis Riau-Lingga.

Perbedaan tersebut bukan kelemahan. Justru di situlah kekayaan historiografi Melayu. Kita dapat melihat bagaimana kelompok-kelompok politik membangun memori yang berbeda atas peristiwa yang sama.

Bukan Menolak Riau

Penting ditegaskan bahwa gagasan meninggalkan nama “Riau” dalam nomenklatur provinsi baru bukanlah penolakan terhadap Riau. Siak, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti mempunyai sejarah panjang sebagai bagian dari Provinsi Riau modern. Identitas Riau telah menjadi bagian dari kehidupan administratif, sosial, budaya, dan politik masyarakat selama puluhan tahun.

Persoalannya adalah bahwa pembentukan provinsi baru pada hakikatnya merupakan proses membangun identitas politik-administratif baru. Karena itu wajar apabila muncul pertanyaan mengenai nama terbaik yang dapat mewakili seluruh kawasan. Pilihan antara Riau Pesisir dan Sri Indrapura (baca) dengan demikian bukan pilihan antara “menerima” dan “menolak” Riau. Ia merupakan pilihan antara dua cara mendefinisikan wilayah: Riau Pesisir mendefinisikan kawasan berdasarkan hubungan geografisnya dengan provinsi induk. Sri Indrapura mendefinisikan kawasan berdasarkan memori sejarah dan orientasi peradabannya.

Sri Indrapura sebagai Geo-Historical Region

Gagasan ini menjadi lebih kuat apabila calon provinsi dipandang sebagai geo-historical region. Siak, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, dan Kepulauan Meranti memang mempunyai batas administratif modern yang berbeda. Namun secara historis kawasan tersebut dihubungkan oleh sungai, laut, perdagangan, migrasi, jaringan kerajaan, adat Melayu, Islam, serta hubungan dengan Selat Melaka.

Ini bukan berarti seluruh wilayah tersebut pada setiap masa mempunyai batas politik yang sama. Sejarah kerajaan sangat dinamis. Wilayah kekuasaan berubah, pusat pemerintahan berpindah, dan hubungan antara penguasa dengan daerah tidak selalu sama.

ditulis Oleh:

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil (Rektor IAITF Dumai/Sekjen PIPSM)

Jumat, 07 November 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa, Tokoh Adat Dan Budaya Nusantar tahun 2025

 

Melaka IAITF. Bertempat di Dewan JKKN Air Keruh Melaka Malaysia Sabtu (8/11), Rektor IAITF Dumai Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil bersama dengan akademisi, budayawan dan penggiat Seni Nusantara, Indonesia dan Malaysia terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara" dengan gelaran "Satria Pujangga Bangsa". Anugrah ini diserahkan langsung oleh Prof. Dr. (HC) Ezlina bte Alias, Pengarah Jabatan Kebudayaan Dan Kesenian Negara Negeri Melaka dan Prof. Dr. Haji R.A. Huzaifah Dato’ Hashim, Pengarah Program merangkap Pengerusi Biro Penyelidikan & Tugas Khas DMDI.

Anugrah ini diberikan sempena Festival Warisan Etnik Nusantara dan Seminar Peradaban DMDI 2025. Tokoh-tokoh yang diberikan penghargaan adalah para penggiat Seni Dan kebudayaan Nusantara yang memiliki dedikasi tinggi dalam hal Adat, Seni Dan kebudayaan, dari kalangan akademisi, guru-guru silat, aktifis sanggar, para seniman bahkan dari kalangan Keraton Dan kesultanan Nusantara.

Berita ditulis Oleh : Lestary

Sabtu, 30 Agustus 2025

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

 



Solo IAITF Dumai, Rektor IAITF Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat Solo (31/8). Gelar Kangjeng Raden Haryo Dwijo Barotodipuro dapat dimaknai sebagai Yang mulia, bangsawan keraton, seorang guru atau cendekiawan yang utama dan bijaksana, serta menjadi bagian dari kemuliaan istana.” Gelar in tentu sangat sesuai dengan aktifitas Rektor IAITF Dumai sebagai seorang cendikiawan bahkan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka.

Penganugrahan itu langsung diberikan oleh Sinoehoen Kangjeng Soesoehoenan Pakoeboewono Sinoehoen Tedjowoelan kepada berbagai kalangan, dari berbagai daerah di Indonesia ,juga beberapa penerima anugrah berasal dari Melaka, Shah Alam dan Terenganu Malaysia.

Dengan penganugrahan gelar kepada Rektor IAITF ini memberikan penguatan peran IAITF dalam pengembangan komitmen kebudayaan serta pelestarian Khazanah adat istiadat nusantra.

 

ditulis oleh : Tary

Sabtu, 27 Mei 2023

Fakta Tentang Batin Alam dan Awang Mahmuda




Kronik Sungai Alam terkuak sudah. Sebuah Kampung lama yang ada di pulau Bengkalis itu menyimpan misteri nama serta mitos yang selalu dikisahkan kepada setiap generasi. Dalam penuturannya maka hadirnya sosok Batin Alam, Mak Sikancing serta Awang Mahmuda yang menjadi legenda dalam kisah asal usul desa Sungai Alam itu yang selama ini belumdapat terungkap melalui sebuahn fakta sejarah. Meskipun baik Hikayat Siak maupun catatatan sejarah lainnya sempat menyebut adanya Bathin dipulau Bengkalis pada kurun Abat ke 15 sd 18 tersebut.

Pulau yang setrategis diera niaga pra kolonialis itu, didiami oleh orang selat demikian hikayat Melayu dan Siak menuturkan. Masyarakat dipulau itu dikepalai oleh beberapa orang Bathin. Alkisah tersebutlah seorang Batin di pulau ini dengan sebutan Batin Alam, mitos dan legenda kesaktiannya dikabarkan dari generasi kegenerasi sebagai seorang tokoh hebat yang tinggal dikampung yang terhubung oleh sebatang sungai menuju kelaut. Sangking populernya tokoh tersebut sehingga sungai itu dinamakan Sungai Alam. Kisah legenda keperkasaan Batin Alam ini, sudah lama menjadi cerita dari mulut kemulut yang belum memiliki fakta sejarah yang dapat mengokohkannya. 

Sampailah pada beberapa waktu yang lalau disaat penulis menekuni kajian "sejarah perdagangan awal selat Melaka". kajian kesejarahan serta fakta-faktar tentang eksistensi pulau-pulau sepannjang garis pantai  Selat Melaka menjadi menarik untuk diamati terutama pulau Bengkalis dan Rupat. Dalam proses pengumpulan data, tiba-tiba penulis menemukan sebuah dokumen lama berupa kliping koran yang diterbitkan di Belanda berkisar tahun Sept 1867 sebagaimana gabar dibawah ini:

Pada paragraf 2 sebelah kanan artikel ini menyebutkan tentang Batin, jika ditulis kembali maka dapat dituliskan sebagai berikut :

Naarmate zij wies, nam de toeloop van volk toe inzonderheid daar Marlimou, en wel zoodanig, dai Batin Alam zich weldra genoodzaakt zag daar tij delijk een bandar (sjahbandar) aan te stellen. Daartoe werd aangewesen een bit Pagoeroejoeng geboortig, doch te Merbau woonachtig persoon, wien de gelar Werd toegekend van : Bandar Sendrak.” Deze zou de cerste Bandar van Bengkalis zijn geweeet.

Met de toename van het aantal immigranten steeg ook de urgentie tot aanstolling van meerdero Batins, waartoe, naa verluidi, Intje Timah. later meer be kend onder de gelar van Djandjang Radja (de eerste hantoe troeboek), den stoot zou hobben gegeven. Mij werd terzaker het volgende verhaal gedaan:

 Sialang Laoet was een man die er behagen in vond kandoeris (offermaalfeestan) te geven. Zoo gebeurde 't dat door hem een kandoeris werd geor ganiseerd, die twee maanden had geduurd. enwaaraan vale menschen  doelaamen. Gedurende dit offerfeest nu, at plaats vond In een bovon het wateroppervlak van de Brouwerstraat, aan de koewala der Soengei Alam, gebonwde bangsal

yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia;

Seiring pertumbuhannya, masuknya orang meningkat, terutama di Marlimou, dan sedemikian rupa sehingga Batin Alam segera terpaksa menunjuk sementara seorang bandar (shahbandar) di sana. Untuk itu, lahirlah seorang Pagoeroejoeng kecil yang tinggal di Merbau, yang dianugerahi gelar: Bandar Sendrak.” Ini akan menjadi Bandar Bengkalis pertama.

Dengan bertambahnya jumlah pendatang, urgensi untuk memantapkan beberapa Batin juga meningkat, salah satunya menurut laporan Intje Timah. kemudian lebih dikenal dengan gelar Djandjang Radja (hantu trouboek pertama), pukulan akan diberikan. Kisah berikut diceritakan kepada saya:

Sialang Laut adalah orang yang senang memberikan kanduris (pesta kurban). Kebetulan dia mengorganisir kanduery yang berlangsung selama dua bulan. dan yang disebut pria pucat. Sekarang selama pesta kurban ini, yang berlangsung di bagian atas permukaan air Brouwerstraat, di kuwala Alam Soengei, bangsal dibangun

Paling tidak catatan diatas menjelaskan bahwa Batin Alam bukan dongen, bahkan beliaulah yang menunjuk datuk Bandar pertama di Pulau Bengkalis serta hadirnya sosok peria pucat yang disebut "Sialang Laut" yang sangat dermawan yang melaksanakan kenduri di kuala Sungai Alam selama dua bulan penuh boleh jadi pemuda inilai yang banyak dituturkan pada sasra lisan disebut sebagai Awang Mahmuda. kisah ini tentu memerlukan analisis serta memerlukan dukungan fakta lainnya atau kronik-kronik sejarah yang mendukung fakta tersebut. Namun apa yang pasti bahwa sebagai sebuah kampung lama Sungai Alam merupakan wujud dari sejarah atas pulau yang pernah diperebuatkan oleh berbagai kekuatan diera niaga selat Melaka.

Catatan, HM.Rizal Akbar 28/05/2023


Senin, 20 Maret 2023

Berjalan Menuju Pangkal

Ahad, 19 Maret 2023, bertepatan 26 Syaban 1444 H. Kami melakukan perjalanan untuk menuju "pangkal jalan". Perjalanan di mulai dari Dumai menuju Siak dengan hajat berziarah ke Makam Raja Kecil atau Sultan Abdul Jalil Syah, atau Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I di Buantan Langkai Siak dan direncakan dilanjutkan ke Makam Andanya Tengku Buang Asmara atau Sultan Mahmud Abdul Jalil Musyafar Syah di Mempura. 
Ziarah ini merupakan bagian dari perjalanan spritual dan napak tilas ketamaddunan Melayu yang pernah jaya dimasa Silam, yang diinpirasi dari membaca "Hikayat Siak". 

Menggunakan transportasi Mobil Inova, bergerak dari pukul 7,30 wib dan pada pukul 10,27 singgah di Suangai Pakning Untuk Istirahat dan ngopi di kedai Kopi 99 jalan lintas Sungai Pakning Siak. 

Kami sampai di Makam Marhum Buantan Raja Kecil sekitar pukul 12,30 ternyata disana sudah banyak rombongan penziarah. Kami sempat sempat menyapa rombongan penziarah yang mengaku dari  LAZISNU Ukui Kabupaten Pelalawan serta Rombongan salah satu Pasantren NU di Siak Kecil Kabupaten Bengkalis. 

Makam Raja Kecil terawat dengan baik, dengan kondisi sana-sini bersih. Terdapat pula Dua makam lain disisi kiri makam tersebut yang boleh jadi salah satu dari makam itu adalah makam Istri tercinta baginda yakni Tun Kamariah putri bungsu dari Datuk Bendahara.

Raja Kecil yang merupakan Sultan ke 12 yang memerintah Kerajaan Johor dan Sultan Pertama Siak sejak tahun 1723 sd 1746 itu adalah seorang Raja yang gagah berani, tangguh dan selalu memimpin perperangan baik sebelum maupun setelah dinobatkan sebagai Raja. Titisan Darah Iskandar Zulkarnain sebagaimna dikisahkan dalam Hikayat Siak dan Tufat Annafis, benar-benar menyatu dalam jiwa kepatriotisme belaiau maupun anak keturunannya dimasa berikutnya.

Setelah membacakan tahtim, tahlil dan Doa di Makam tersebut perjalanan dilanjutkan dengan Istirahat Sholat dan makan siang. Masih disekitar Desa Lankai pada sebuah belokan jalan litas Siak ada sebuah Masjid terbuka yang didirikan pada tahun 2007 bernama Baitulrahman yang selalu ramai dengan para Musafir yang singgah untuk istirahat dan Sholat. Disanalah rombongan melaksanakan Sholat Zuhur yang dijamakkan dengan Asyar. Selesai melaksankan Sholat, makan siang di Kedai Sop Fauzan yang hanya 100 Meter dari masjid tersebut kearah menuju Bunga Raya. 

Meski dipandu Google Map, perjalanan menuju Makam  Tengku Buang Asmara atau Sultan Mahmud Abdul Jalil Musyaffar Syah yang merupakan sulatan kedua Siak tahun  1746-1760 tidak mudah ditemui. Rupanya makam tersebut berada di Desa Wisata Kampung Melayu Mempura seberang Istana melalui jambatan Siak Tengku Agung Sultanah Latifah yang megah membentang menghubungkan antara kawasan Istana Asserayah Asyimiah dengan Mempura, dua kawasan yang penting dikota Ini. 

Sepanjang jalan dan jembatan berjejer boleho berukuran besar dan kecil yang bergambarkan sketsa wajah Tengku Buang Asmara dengan narasi mohon doa dan Dukungannya Tengku Buang Asmara Sultan Siak Ke 2 sebagai pahlawan Nasional dari Riau.

Sebagaimana dikabarkan bahwa pemerintah kabupaten Siak telah mengusulkan Tengku Buang Asmara sebagai pahlawan Nasional yang telah diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten siak dan Provinsi Riau pada awal  2023 Silam, dan proses pengalian sejarahnya dilakuka  sejak tahun 2019 oleh pemerintah Kabupaten Siak. 

Kami tiba dimakam Tengku Buang Asmara sekitar pukul 14,20 Wib. Suasana makam sudah terawat dengan baik namun makam Tengku tidak semegah Ayahandanya Raja Kecil di Langkai. Makam Tengku Buang Asmara di Mempura sepertinya masih perlu penataan dari pemerintah supaya terkesan nyaman untuk dikunjungi dan diziarahi oleh para pengunjung. Seperti halnya makam marhum Buantan, makam Tengku Buang Asmara juga tidak memiliki banyak informasi dan literasi yang dapat memahamkan generasi pada tokoh yang ada. 

Setelah melantunkan Doa dipusara Marhum Mempura dengan mengharap kepada Allah SWT kiranya perjuangan untuk menjadikan marhum Mempura sebagai Pahlawan Nasional dimudahkan oleh Allah SWT, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan kuliner dipinggir sungai siak dikawasan Istana. Disini kami ditemani rekan Iskandar. Seorang pengiat kebudayaan dan kesejarahan Siak. 

Dalam bualan santai Iskandar menyampaikan berbagai hal terkait  kesejarahan dan perjuangannya dalam mengali sejarah dan kebudayaan di Siak. Banyak hal dalam kesejarahan siak yang beliau kemukakan namun yang menarik dari apa yang disampaikannya adalah terkait dengan Kerjaan "Gasib". Iskandar mengungkapkan bahwa kerajaan ininpunya sangkut paut yang erat dengan kisah Sultan Mahmud Mangkat di Julang yang dibunuh oleh Megat Sri Rama. Dia mengaitkan Megat Sri Rama dengan Megat Kudu yang dikisahlan sebagai Raja terakhir Kerajaan Gasib. Bahkan menurutnya kerajaan Perak Memiliki silsilah dekat dengan kerajaan Gasib ini. Wallohu a'lam bissawab. 

Ditulis Oleh : Dr. H. M. Rizal Akbar, M. Phil



```

Galeri Kegiatan Rektor IAITF

Dokumentasi kegiatan Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai

Memuat galeri kegiatan...
```