Running Text - Dr. Rizal Akbar
Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil adalah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai dan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Beliau juga merupakan Doktor Ekonomi Islam terbaik Universitas Trisakti Jakarta tahun 2016 dan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Komite Organisasi, Wilayah dan Komisariat. Anak bungsu dari pasangan H. Akbar Ali (Alm) dan Hj. Aisyah (Almh) ini lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974. Memulai pendidikan di SD Negeri 61 Sungai Alam, SMPN 3 Bengkalis dan SMAN 2 Bengkalis. Sarjan S1 Diselesaikannya di Universitas Riau, Pada Jurusan Matematika FMIPA, Tahun 1998. Menyelesaikan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada tahun 2007 dengan gelar Master Of Philosopy (M. Phil) yang selanjutnya mengantarkan beliau pada program Doktor di Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 2016 dengan kelulusan Cumlaude, dan Doktor Ekonomi terbaik I.

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa tahun 2025

Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara

Rizal Akbar Terima Anugrah Hang Tuah DMDI

Anugrah diserahkan langsung oleh TYT Tun Seri Setia Dr. Hj Mohd Ali Bin Rustam

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat.

Rizal Akbar Ikut Dilantik Menjadi Pengurus DPP IAEI 2025-2030

Ketum IAEI Pusat yang Juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA: Sinergi Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Rizal Akbar Pembicara Pada Seminar Internasional Pesisir Selat Melaka

Bentangkan Rekonstruksi Sejarah Ekonomi Maritim Selat Melaka Pada Forum Seminar Internasional di UiTM Shah Alam Malaysia

Rizal Akbar Terima Anuggrah Darjah Mahkota Muda

Kesultanan Pagaruyung Darur Qarar

Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2016

PARADIGMA BARU SEJARAH KOTA DUMAI

Penyerahan Naskah  Orasi Paradigma Baru Sejarah Kota
Dumai Kepada Wali Kota Dumai
Pendahuluan                                                      
Putri Tujuh merupakan catatan yang selalu diketengahkan tatkala mengawali sejarah Kota Dumai. Legenda ini telah memberikan banyak inspirasi dalam kehidupan masyarakat di kota Dumai. Namun sampai saat ini, belum ditemukan sejarah yang terang tentang kawasan Dumai. Legenda Putri Tujuh, jelas bukan merupakan sebuah rentetan sejarah tentang kawasan Dumai. Karena legenda itu selain tidak dapat dibuktikan secara outentik, memiliki objek yang bersifat mistik serta tidak memiliki priodeisasi yang jelas.

Penuturan sejarah satu kawasan, hendaklah memenuhi kaidah dalam konteks ilmu kesejarahan. Dalam bahasa Inggris, kata Sejarah berasal dari kata historia yang berarti masa lampau; masa lampau umat Manusia. Dalam bahasa Arab sejarah disebut dengan sajaratun (syajaroh) yang berarti pohon dan keturunan, maksudnya disaat kita membaca silsilah raja-raja akan tampak pohon dari yang terkecil sampai berkembang menjadi besar, maka hal tersebut sejarah diartikan sebagai silsilah keturunan raja-raja yang berarti peristiwa pemerintahan keluarga raja di masa lampau. Dapat dikatakan, bahwa sejarah bukanlah hanya sebuah cerita tentang masa lalu. Namun cerita itu harus dapat dibuktikan secara ilmiah, serta memiliki ketersambungan dengan kisah-kisah lainnya.

Sejarah kota Dumai masih misteri hingga saat ini. Legenda Putri Tujuh, selalu dianggap sebagai sejarah kota Dumai. Padahal, tidak terdapat benang mereh diantara legeda tersebut dengan sejarah kerajaan mana pun dikawasan ini, Sumatera apalagi nusantara. Kerajaan yang paling mungkin di hubungkan dengan kawasan ini adalah kerajaan Siak Sri Indra Pura yang bermula diabat ke 18 M, di Sungai Jantan Siak dan berakhir di Kota Siak sekarang pada abad 20 M. Namun dalam catatan sejarah kerajaan Siak, tidak terdapat satu pun bukti sejarah tentang legenda Putri Tujuh maupun kawasan ini kecuali menyangkut pemberian gran tanah kepada Datuk Laksemana Bukit Batu untuk perkebunan ubi dan industri tapioka di kawasan Bukit Datuk, dan itu pun terjadi pada abad ke 19M.
Pengurus Persekutuan Masyarakat Dumai Melakukan Kunjungan Makam Datuk Kedondong pada acara Ekpedisi dari Makam Datuk  Kedondong Menuju Paradiga  Baru Sejarah Dumai terlihat Dr. H. M. Rizal Akbar, Achtar Ewo dan Agoes S. Alam, 17/04/2016

Bertutur tentang legenda Putri Tujuh, maka akan tersebutlah kerajaan Aceh kedalam cerita tersebut. Diceritakan bahwa seorang putra Raja Aceh yang ingin mempersunting putri tujuh serta hadirnya sosok“Umai” dari bangsa Jin yang menjadi ending cerita telah membunuh putra kerajaan Aceh tersebut dengan senjata buah bakau, maka tersebutlah kawasan itu dengan “Dumai”. Alur cerita ini tidak jauh berbeda dengan penuturan legenda Kerajaan Gasib, di Kota Gasib Siak dengan Putrinya yang bernama Putri Kaca Mayang. Legenda itu juga menceritakan prihal yang sama tentang lamaran Putra Mahkota Kerajaan Aceh, yang berakhir dengan konflik dan perperangan.

Wallah hua’lam, kedua kisah ini belum mampu terintegrasi dalam bingkai sejarah yang ada sampai dengan saat ini. Akan tetapi apa yang menarik adalah bahwa kedua legenda telah menuturkan tentang wujudnya kerajaan Aceh. Artinya secara ilmiah dapat disimpulkan bahwa pembawa kisah telah mendengar akan wujudnya sebuah kerajaan besar yang bernama Aceh. Ini membuktikan bahwa ada pengaruh Kerajaan Aceh dalam kesejarahan di kawasan Dumai.

Makam Datuk Kedondong & Sejarah Kota Dumai

Situs makam Datuk Kedondong terletak di kawasan pelabuhan Dock Yard Kelurahan Pangkalan Sesai Kota Dumai. Konon disebut makam Datuk Kedondong, karena didekat makam ini pernah tumbuh sebuah pohon kedondong besar. Tidak banyak catatan yang membahas tentang situs ini. Namun makam Datuk Kedondong sudah sangat lama dikenali oleh masyarakat sebagai makam keramat.


Apa yang menarik dari situs makam Datuk Kedondong adalah batu nisan pada makam tersebut. Batu nisan makam Datuk Kedondong setelah diteliti dari sisi bentuknya merupakan batu nisan Aceh. Dalam kajian tentang batu nisan Aceh, dijelaskan bahwa batu ini berkembang pada abad 15 sd 18 M. Dan batu tersebut merupakan tradisi kesenian yang telah tersebar dari wilayah Pattani (selatan Thailand), ke Malaysia, Indonesia, dan Brunei. Di Indonesia, jumlah “batu Aceh” mungkin lebih dari lima ribu buah. Di Semenanjung Melayu sendiri, sekitar 400 makam orang Islam yang ditandai dengan “batu Aceh” dapat ditemukan hingga sekarang. Diselatan Thailand dan di Brunei, jumlahnya beberapa puluhan buah (Otman Moh Yatim, 2009).

Adat kematian orang biasa tidak disebut dalam sumber-sumber lokal. Terdapat informasi ringkas dalam beberapa sumber Cina seperti Hai yü (1537), di mana tentang Melaka disebut bahwa orang miskin membakar mayat, juga demikian orang kaya tetapi sebelumnya jenazahnya diletakkan di dalam sebuah peti bersama kapur Barus (Groeneveldt, 1880: 128). Satu lagi sumber Cina, dari akhir abad ke-16 atau awal ke-17, juga mencatat bahwa semua mayat dibakar (ibid.: 135; Han Wai Toon, 1948: 31). John Davis, seorang pelaut yang berada di Aceh pada tahun 1599 mencatatkan bahwa orang biasa dikebumikan (Purchas (ed.), 1905: 321-322).

Teks Bustan al-Salatin juga memberikan beberapa perincian menarik tentang adat pemakaman raja dan tercatat di dalamnya bahwa sewaktu memerintah di Aceh, Sultan Iskandar Thani memutuskan mengirim batu nisan ke Pahang untuk makam-makam kerabat baginda. Selain itu, terdapat juga beberapa informasi mengenai batu nisan sesudah kemangkatan Sultan Iskandar Thani di Aceh pada tahun 1641, termasuk perhiasan berbentuk lapisan emas dan batu permata (Nuruddin al-Raniri, 1992: 45-46). Bustan al-Salatin siap tertulis oleh Nuruddin al-Raniri pada tahun 1640 (1050 H.)( ibid.: xiv) yaitu 139 tahun sebelum teks Adat Raja-raja Melayu.

Dari catatan sejarah nisan aceh diatas, menyangkut makam Datuk Kedondong bila terbukti bahwa nisan pada makam tersebyt  adalah batu Aceh, sebagaimana bentuknya, maka paling tidak dapat ditarik dua kesimpulan. Pertama, bahwa orang yang ada didalam makam tersebut adalah orang-orang besar baik dari kalangan raja-raja, alim ulama, keluarga dan keturunannya. Kedua, bahwa makam tersebut ada pada rentang abad ke 15 sd 18 M.

Kerajaan Aceh dan Sejarah Kota Dumai
Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si M.Phil Menyampaikan Orasi
Paradigma Baru Sejarah Kota Dumai
Bila kita kaitkan diantara legenda Putri Tujuh dan Situs Makam Datuk Kedondong sebagaimana diatas, maka sebuah kesimpulan yang yang dapat ditarik adalah adanya pengaruh kerajaan Aceh, dalam kedua kisah tersebut. Pertanyaannya adalah, ada apa dengan kerajaan Aceh dan sejauh mana iyanya memberikan akar sejarah untuk kawasan di Kota Dumai.

Sejarah menyangkut kerajaan Aceh sangat panjang, karena kerajaan ini merupakan salah satu epayer terbesar di nusantara. Tidak ada catatan yang membuktikan bahwa Aceh pernah berkuasa pada kawasan-kawasan di pantai timur Sumatera, karena dikawasan ini terdapat sebuah kerajaan besar yakni kerajaan Haru di Sumatera utara, serta sejarah juga mencatat bahwa kawasan pantai timur Sumatera dikawal oleh empayer Johor.

Namun hubungannya dengan keberadaan kawasan Dumai akan sangat masuk akal bila dikaitkan dengan gencarnya Aceh Menyerang Malaka pada (tahun 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606). Penyerangan Aceh terhadap Melaka pada tahun tersebut berawal dari jatuhnya kerajaan Melaka ke tangan Portugis pada tahun 1511. Banyak sejarawan yang menyimpulkan gigihnya Aceh dalam menyerang Melaka hanya disebabkan oleh penguasaan perdagangan di kawasan Selat Melaka.
Namun mengapa perang tersebut terjadi setelah Portugis meguasai Melaka. Sehingga menarik untuk diamati, boleh jadi ada dorongan lain yang menyebabkan Aceh begitu gencar melakukan penyerangan terhadap Malaka yang dikuasai oleh Portugis tersebut. Hipotesa sejarah yang boleh dimunculkan bahwa perang tersebut dilatarbelakangi oleh fahaman agama. Dimana Aceh dengan Islam yang kental mencoba menghambat gerakan misionaris Kristen oleh Portugis pada waktu itu. Hipotesa ini memerlukan banyak kajian sejarah untuk membuktikannya.

Terlepas dari itu, apa yang menarik adalah bahwa serangan Aceh terhadap Portugis di Malaka dilakukan dalam jarak waktu yang sangat rapat. Dengan jarak georafis Aceh ke Malaka yang sangat jauh, sudah banyak tentu Tentara-tentara Laut Aceh memerlukan kawasan berdekatan untuk membuat pangkalan-pangkalan sementara atau bangsal. Jika dilihat dari sisi geografis maka kawasan yang paling mungkin dan tidak berhadapan langsung dengan kawasan Malaka itu adalah kawasan Dumai. Jika hipotesis ini benar, maka sangat memungkinkan untuk mengaitkan kejadian sejarah ini dengan penamaan beberapa kawasan di kota Dumai, seperti Pangkalan Sesai dan Bangsal Aceh.

Artinya boleh jadi kawasan-kawasan ini pada waktu itu dijadikan sebagai pangkalan sementara oleh Pasukan Aceh ketika mereka dipukul mundur oleh Portugis. Sangat masuk akal, dengan jarak waktu penyerangan yang sempit seperti itu dan dengan jarak tempuh Aceh-Malaka yang cukup jauh dengan kondisi sarana transportasi laut saat itu, mereka tidak kembali kenegerinya di Aceh, namun melakukan persiapan-persiapan dan pemulihan kekuatan tentaranya di kawasan Dumai. Sejarah memang belum pernah melakukan pencatatan tentang ini namun wujudnya nama kawasan Bangsal Aceh, Pangkalan Sesai serta Makam Datuk Kedondong merupakan bukti-bukti awal yang sangat berkonstribusi dalam menyingkap sejarah kawasan Dumai diabad 15 sd 18 M yang lalu.

Kesimpulan

 Legenda Putri Tujuh telah banyak mengilhami sejarah dan peradaban di Kota Dumai. Legenda tersebut memiliki makna tersendiri, namun tidak dapat beralih menjadi sejarah kota Dumai. Akan tetapi, penurunan legenda itu memberikan pesan sejarah bahwa terdapat pengaruh Kerajaan Aceh dalam Akar sejarah di Kawasan ini.

2.           
Batu Nisan pada situs makam Datuk Kedondong dapat dikesankan bahwa merupakan batu nisan yang berasal dari Kerajaan Aceh. Bila ini terbukti, maka paling tidak dapat ditarik dua kesimpulan. Pertama, bahwa orang yang ada didalam makam tersebut adalah orang-orang besar baik dari kalangan raja-raja, alim ulama, keluarga dan keturunannya. Kedua, bahwa makam tersebut ada pada rentang abad ke 15 sd 18 M.

3.  Terdapat banyak bukti yang dapat dikemukakan bahwa keberadaan kawasan Dumai memiliki hubungan dengan peristiwa penyerangan Aceh terhadap Malaka pada (tahun 1537, 1547, 1568, 1573, 1575, 1582, 1587, 1606). Karena sangat masuk akal, dengan jarak waktu penyerangan yang sempit seperti itu dan dengan jarak tempuh Aceh-Malaka yang cukup jauh dengan kondisi sarana transportasi laut saat itu, mereka tidak kembali kenegerinya di Aceh, namun melakukan persiapan-persiapan dan pemulihan kekuatan tentaranya di kawasan Dumai. Sejarah memang belum pernah melakukan pencatatan tentang kenyataan ini, namun wujudnya nama kawasan Bangsal Aceh, Pangkalan Sesai serta Makam Datuk Kedondong merupakan bukti-bukti awal yang sangat berkonstribusi dalam menyingkap sejarah kawasan Dumai diabad 15 sd 18 M yang lalu.

Dicuri Sang Kapitalis

Gambar: animasi diambil dari http://indoprogress.com/
Semua sistem ekonomi menawarkan kesejahteraan dan kebahagian. Sistem ekonomi sosialis memandang kebahagian itu adalah kebersamaan dengan selogan "satu untuk semua semua untuk satu", sehingga tidak perlu ada kepemilikan pribadi dan kebesaan pasar, karena hal itu hanya akan melahirkan ketidak adilan dalam berekonomi. Berbeda dengan itu, kebahgian atau kepuasan hanya dapat terlahir dari kebebasan dengan memberikan kedaulatan yang penuh kepada pasar, hak-hak individu harus diutamakan, merupakan argumentasi dari sistem ekonomi kapitalis.

Kedua sistem itu merupakan arus besar dalam pertentangan idiologi Dunia, meskipun pada akhirnya pertentangan itu dimenangkan oleh kapitalis. Kapitalis telah merubah corak dunia melalu berbagai intrumen pendukungnya. Berawal dari sistem moneter yang berbasis bunga dan ilusi dengan Bank sebagai institusinya, kapitalis mencuri semua sisi kehidupan baik yang bersifat kolektif maupun individual.

Awalnya, kapitalis mencuri ayah dari anak-anak mereka, suami dari istri-istri mereka. Hal itu terjadi karena motivasi pertumbuhan yang tinggi dan budaya konsumsi yang besar, memaksa buruh untuk mengalokasikan waktu yang lebih ditempat kerja untuk meningkatkan petumbuhan dan pendapatan bagi sang buruh. Dengan demikian tentulah para buruh-buruh tersebut harus mengorbankan waktu untuk keluarga.

Ternyata itu saja belum cukup, kapitalis memaksa pula para wanita juga harus keluar bekerja guna kepentingan pertumbuhan itu dan memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin hari semakin bergeser akibat tawaran kepuasan yang ditawarkan oleh sang kapitalis (hedonism). Pada kondisi ini dapat dikatakan bahwa keluarga sebaga entitas terkecil suatu bangsa sudah pula dicuri oleh kapitalis, sehingga wajar terjadi fenomena yang linier diantara tingkat pertumbuhan ekonomi dan perceraian rumah tangga.

Pencurian itu terjadi secara sistimik, meresap bagaikan api dalam sekam. Dia bergerak sangat cepat dan sangat lembut, meluluh lantakkan semua tatanan. Dengan tawaran kepuasan (utility) dia bergerak menghancurkan tatanan yang selama ini menyangga institusi sosial seperti keluarga, masyarakat dan agama.  Dia memang tidak mempersoalkan agama sebagai candu masyarakat sebagaimana sosialis komunis. "Namun dia pelan-pelan mencuri banyak orang dari agamanya, dan bahkan mencuri agama dari pemeluknya".

Sang pencuri itu sedang beroprasi terus disaat kita sedang tidur dan terjaga. Tinggal kini, kita yang harus menyadari apakah bagi kita Dia adalah pencuri atau, bagi sebagian orang merupakan motivasi meskipun dalam waktu yang panjang pada gilirannya bereka yang diuntungkan secara materi dari system itu akhirnya tersentak bahwa ternyata mereka kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari materi yang mereka kumpulkan itu yakni “kebahagiaan”. (@RA.16/04/2016)

Kamis, 14 April 2016

Kusut Masai

Orang Melayu memiliki padanan kata yang banyak untuk mendefenisikan berbagai peristiwa. Peritilahan yang digunakan memiliki ruh tersendiri yang cukup kuat untuk menyentak rasa. Tidak jarang  ungkapan-ungkapan itu terkesan hiperbola, atau penekanan bunyi dengan ekspresi tertentu.

Citarasa kata dalam ungkapan melayu akan bergeser, sesuai dengan bagaimana iayanya diungkapkan, sebagi contoh kata anjing hanya menunjukan seekor binatang yang bernama anjing namun bila diungkapkan dengan “hanjing”, maka ini menandakan bahwa sang penutur sedang dalam emosi kemarahan yang memuncak.

Begitu pula halnya dengan ungkapan kusut. Jika ungkapan ini ditambah dengan masai, “kusut masai”, maka iya merupakan personifikasi atas satu kesulitan yang nyaris tak dapat diungkai lagi. Tidak mungkin menemukan punca dan pangkal persoalan, itulah “kusut masai”. Orang Melayu menggunakan ungkapan ini pada kondisi yang teramat sukar. Awalnya ungkapan ini dikenakan pada rambut yang berantakan. Namun berkembang menjadi ungkapan yang bersifat umum untuk menggambarkan berbagai fenomena sosial.

“Kusut masai” sangat kontrofersial dengan ungkapan “ bagaikan menarik rambut di dalam tepung”. Karena tidak mungkin lagi mengharapkan rambut yang  tidak putus dan tepung yang tidak berserakan dalam kondisi yang kusut masai. Sehingga ungkapan lain yang sepadan dengannya adalah “bercelaru, lintang pukang atau carut marut.

Dalam konteks sosiologi kusut masai dalam filologi Melayu itu, dapat juga disandingkan dengan kata “krisis”. Karena krisis merupakan bagian dari konflik atau pertentangan diantara das sain and das sollen.  Namun krisis merupakan bentuk konflik tertinggi setelah problematik dan dilemmatik. Pendekatan sosiologi menyangkut krisis, hanya menganjurkan upaya yang bersifat radikal dalam mengatasi krisis. Karena krisis dianalogikan seperti  kangker ganas yang menyerang organ tubuh sehingga  penanganannya perlu dengan amputasi.

Barangkali kita sedang berada ditengah kusut masi itu. Ketika sangat sukar untuk merasionalisasikan kehidupan, yang seharusnya rasional.  Banyak pristiwa yang kadang-kadang diluar akal sehat kita terjadi. Banyak keputusan yang tidak masuk akal, diputuskan. Rasionalitas kini harus digeser kepada doktrinitas. Maka kini bermunculanlah dokrit politik, doktrin ekonomi dan dokrin pendidikan.

Agama yang seyokyanya menjadi agen doktrin kini mulai ditinggalkan. Karena sosialisasi doktrin agama kalah hebat dengan doktrin-doktrin diatas. Mereka mengunakan segala sarana komunikasi untuk mengumandangkan doktrin-doktrin itu. Dan yang sangat menarik adalah bahwa masyarakat percaya dengan doktrin itu, terbukti dengan begitu banyak keputusan masyarakat melalui keputusan demokrasi, secara mayoritas dimenangkan oleh sesuatu yang tidak rasional, meskipun pada akhirnya mereka sendiri yang menerima akibat atas keputusan itu.

Kusut masai itu adalah ketika berkali-kali kesalahan itu terjadi, namun berkali-kali pula masyarakat tidak dapat memahami apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga terjadilah kesalahan yang berulang-ulang, dan pada gilirannya keslahan-kesalahan bergeser pula menjadi suatu kewajaran karena tanpa disadari akhirnya masyarakat memaklumi kesalahan itu dan telah beradaptasi dengan kesalahan-keslahan tersebut.


“kusut masai”…. Maka benarlah sebuah ungkapan yang menyatakan “ Kesalahan yang dibiarkan, suatu saat akan berubah menjadi kejahatan”. 14/04/2016

Sabtu, 09 April 2016

“Menoho” : Kemunduran Pendidikan Agama

Terminologi lama yang mengganggu pikiran belakangan ini adalah “ menoho”. Orang Melayu kaya dengan ungkapan. Karena ungkapan itu memiliki citarasa tersendiri, meskipun dia punya padanan dengan istilah lain. Namun sebuah istilah selalu tepat untuk satu keadaan atau suasana.

“Menoho”, adalah ungkapan yang sepadan dengan pembiaran, tidak peduli atau tidak acuh dengan satu keadaan. Istilah ini lebih dari hanya sikap apatis, karena apatis bersifat proaktif sementara “menoho” bersifat proaktif karena selalunya dibelakangnya selalu ada ungkapan, “kan dah aku cakap dah”.

“Menoho” merupakan ungkapan yang sarat dengan beban phisikologi. Ada beban kemarahan, kedengkian atau hasat buruk. Namun istilah ini selalu tersembunyi dibalik hati seseorang yang sesungguhnya dia memiliki potensi untuk terlibat dan berkonstribusi terhadap sebuah persoalan yang sedang dihadapi.

Banyak persoalan yang sedangan “ditoho” saat ini. Masalah pendidikan agama sedang “ditoho”. Seolah-olah para “penoho” mengungkapkan bahwa: “mike hendak, mike tanggong sorang lah”. Apakah mereka tidak risau dengan  persoalan tersebut? Saya sangat yakin mereka juga berfikir dengan masalah ketika pendidikan agama semakin menunjukan sisi gelap baik dasar menengah dan tinggi, yang ditandai dengan banyangya fenomena sosial yang mencemaskan saat ini seperti moralitas remaja, pergaulan bebas, narkoba, criminal dan sebagainya. Nnamun bagi mereka para “penoho”. Permasalahan itu sudah ada yang ngurus, dan urusan mereka lebih penting dari hanya urusan tersebut.

Mereka yang menoho itu bukan hanya dari kalangan rendahan, namun mereka yang berada dipuncak-puncak kejayaan, Para politisi, birokrat, pengusaha dan teknokrat. Mereka memiliki banyak kesempatan sesungguhnya berkonstribusi nyata dalam kemajuan agama, namun bagi kalangan ini, tema yang menarik bagi mereka adalah mempersoalkan ketidak becusan institusi dan orang-orang yang bekerja disektor pendidikan agama, selalunya mereka memandang rendah dengan anggapan bahwa yang bekerja disektor itu adalah dari kalangan scand class, yang tidak punya pilihan pekerjaan lainnya.

Pandangan itu saja sudah cukup membuat pendidikan agama menjadi lemah lunglai. Belum lagi pada sebuah kenyataan bahwa disana memang tidak tersedia kesejahteraan yang layak apalagi dibandingkan dengan kehidupan mereka para penoho itu. Maka sangat wajar jika saat ini tidak banyak pilihan masyarakat kepada pendidikan agama.

Para "penoho" memilik pena kekuasan, pedang kekuasan, memiliki banyak sumberdaya politik dan ekonomi, namun tetap saja bagi mereka, diskursus kesalahan yang menyerang titik lemah institusi dan orang-orang yang bergerak disektor itu menjadi kostribusi tersbesar mereka. Padahal jauh lebih baik bagi mereka mengalokasikan sumberdaya yang ada pada mereka  untuk kemajuan pendidikan agama.

Sepertinya para penggiat agama dan yang bekerja disektor agama harus dapat menyadari persoalan ini. Akan tetapi ini merupakan cambuk buat kita semua, jangan gentar dan gagap dengan para penoho itu. Biarlah mereka dengan kebanggaan mereka, dan keperkarsaan mereka sehingga tidak pernah percaya dengan kita. Tapi yakinlah bahwa mereka pasti memiliki kesamaan dengan kita percaya bahwa dunia bukanlah akhir dari segalanya. Dan cukuplah Allah sebagai penolong kita, jangan pernah gentar, teruslah berjuang dengan kempuan yang tersisa, jadikan ikhlas sebagai bahan bakarnya dan kesabaran sebagai senjata kita. Karena kejayaan itu, harus direncanakan dengan pengetahuan, digerakan dengan keikhlasan dan dimenangkan dengan keberanian.


Ini bukan persoalan Surga atau Neraka, karena itu adalah urusan Allah SWT. Namun ini menyangkut dialegtik tentang ada apa dengan kebuntuan pendidikan agama kita. Apakah pendidikan agama di kota ini bisa tumbuh berkembang tanpa dukungan masyarakat dan pemerintah? Sudah cukupkah bagi kita agama hanya dalam sprit-prit doa bersama istiqosyah, pawai-pawai atau mengirimkan jamaah umrah? Atau kita sesungguhnya tidak berpotensi apa-apa untuk agama, karena tidak memiliki kemapuan apa-pun, kecuali hanya untuk melayani diri dan keluarga. 

Senin, 07 Maret 2016

Alumni PTAI Dimata Masyarakat Pengguna

Oleh : Dr. Mastuki, HS

Ketika ada pertanyaan kepada alumni yang baru diwisuda, di mana alumni PTAI itu bekerja, jawaban spontan yang muncul adalah ‘di mana-mana’. Pengertian ‘di mana-mana’ itu minimal ada dua pengertian. Pertama, ketidakjelasan dari pengguna PTAI. Selama ini pengguna utama dari alumni itu orang tua dan Departemen Agama. Untuk pengguna orang tua itu bersifat umum, tidak bisa dibedakan antara PTAI dengan PTU. Sedangkan Departemen Agama yang selama ini menjadi pengguna utama dari PTAI sepertinya sudah jenuh. Departemen Agama itu seperti ‘hanya lubang’ kecil bagi alumni PTAI. Lalu ke mana alumni PTAI? Inilah kekurang-jelasan dari apa yang dikatakan oleh masyarakat dengan ‘di mana-mana’.
Kedua, ‘di mana-mana’ berarti sangat luas. Realitas menunjukkan bahwa alumni PTAI bukan hanya bekerja di lembaga di Departemen agama saja, tetapi juga bisa ditemukan di Departemen non-depag, misalnya Pemkot/ Pemkab, Pemprov, Dinas, BKKBN, dan sebagainya. Meskipun harus diakui bahwa di depag sangat dominan. Lembaga di bawah naungan depag seperti Kanwil Depag, Kandepag,  madrasah, PA, PTA, KUA, mayoritas pegawainya berasal dari PTAI. Di samping itu, alumni PTAI juga banyak dijumpai di pesanten, takmir masjid, ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, TPQ/TPA, madrasah diniyah, madrasah swasta dan sebagainya. Bisa dibayangkan siapa yang akan mengurus TPQ/TPA, Madrasah dan sebagainya jika tidak ada alumni PTAI. Hal tersebut disebabkan karena substansi materi yang diajarkan di PTAI tersebut adalah Islamic Studies (kajian Islam). Maka wajar kalau lembaga sosial-keagamaan itu membutuhkan alumni PTAI.
Seperti disebut pada bagian terdahulu, alumni PTAI mulai merambah ruang mobilitas yang relatif ‘meluas’ dan bahkan ‘menyempal’, tidak ada hubungan secara langsung dengan ilmu agama Islam sebagai core curriculum PTAI. Penilaian secara jujur juga sering dikemukakan oleh dosen dari perguruan tinggi umum bahwa IAIN sekarang semakin menunjukkan potensinya untuk berperan di masyarakat.
Meskipun PTAI bisa bekerja ‘di mana-mana’, pertanyaan kuantitatif yang menggoda adalah berapa persen dari total alumni yang bekerja di tempat ‘agama’ dan berapa persen yang bekerja di ‘non-agama’. Berapa daya serap dari institusi itu dalam menampung alumni PTAI. Hal ini penting untuk dilakukan, sebaik apapun kompetensinya jika hanya menampung sebagian kecil saja, maka yang diciptakan oleh PTAI bukan lagi ‘sarjana kompeten’, tetapi ‘sarjana pengangguran’. Berapa sarjana yang hasilkan oleh PTAI dalam 5 tahun, dan berapa persen dari alumni itu yang telah mendapatkan tempat oleh masyarakat pengguna, baik institusi agama maupun non-agama, berapa di antara mereka yang bekerja di luar bidangnya, misalnya di pabrik kayu, garment, asuransi, mebel, berdagang sendiri, sebagai makelar, distributor MLM, penerbitan, jurnalis, penulis buku dan sebagai, dan berapa dari mereka yang belum bekerja. Data mengenai hal ini susah sekali dilacak, tetapi yang jelas di tempat itu ada juga alumni PTAI.
Penelusuran alumni IAIN sudah pernah dilakukan oleh Prof. Mastuhu dengan mengambil sampel tiga IAIN, yakni IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN), IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN), serta IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hasil temuannya yang paling utama adalah bahwa ternyata profil alumni IAIN sangat didominasi dengan profesi pendidikan yang melebihi 73.3% responden menyatakan profesi ini, kemudian disusul pegawai baik negeri maupun swasta dan pedagang-wiraswasta (Mastuhu 1999). Hasil survei Prof. Mastuhu telah memberikan gambaran umum tentang profil alumni IAIN – alumni IAIN itu ke mana dan seperti apa. Hanya saja, kompetensi alumni IAIN yang sungguh-sungguh diharapkan oleh masyarakat berada di luar jangkauan penelitiannya.

Kompetensi Lulusan PTAI
Secara umum masyarakat pengguna menyatakan bahwa alumni PTAI masih memiliki kompetensi profesional pengetahuan agama Islam. Hal ini bisa dilihat dari persoalan agama di banyak kantor masih diserahkan kepada alumni PTAI. Hal yang sama juga terjadi di masyarakat bahwa alumni PTAI pasti menjadi motor kegiatan keagamaan seperti khutbah jum’at, pengelolaan zakat, pengurusan jenazah, menjadi pemimpin tahlil dan sebagainya. Sebagian sangat ‘substantif-kontekstual’ di dalam menjelaskan agama Islam. Hal ini merupakan kelebihan yang dimiliki oleh PTAI – model pengkajian Islam yang moderat. Namun jumlah yang seperti ini masih terbatas, dan mereka yang dapat memerankan profil ini biasanya tinggal di perkotaan.
Tidak semua alumni PTAI memiliki pengetahuan yang ‘matang’ soal agama. Kritik masyarakat terhadap alumni PTAI misalnya sok ilmiah, sombong, bahasanya sulit dimengerti dan sebagainya adalah penanda bahwa masih ada problem dengan kompetensi alumni PTAI. Hal ini bisa didengarkan dari khutbah yang dilakukan oleh alumni PTAI yang masih baru. Orang sering memberikan label kepada alumni ini dengan ‘intelektual tanggung’.
Kalangan pesantren menganggap bahwa alumni PTAI tidak bisa disejajarkan dengan pesantren. Mereka hanya tahu kulit saja, kemampuan untuk mendalami agama masih kurang atau minimal. Hal ini bisa dibuktikan dari lemahnya alumni PTAI yang tidak memilik basis pendidikan pesantren. Mereka tidak banyak tahu tentang agama, tetapi mereka sok tahu bicara agama Islam. Sementara orang pesantren memiliki bekal yang cukup untuk mengetahui persoalan agama, meskipun secara metodologis tidak mampu menyampaikannya.
Penelitian Abdurrahman Mas’ud (2003) di Semarang menyebut beberapa indikasi kompetensi yang dimiliki alumni PTAI baik secara personal dan sosial. Menurut Mas’ud, pengetahuan selain agama yang paling menonjol dari alumni PTAI adalah pengetahuan sosial. Beberapa kalangan mempertanyakan kurikulum yang diajarkan kepada mahasiswa PTAI karena dinilai memiliki kelebihan di dalam masalah sosial, komitmen, kepekaan dan advokasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya civitas akademika IAIN yang menulis di koran, menjadi aktivis sosial, atau melakukan pendampingan terhadap masyarakat, dan kegiatan sosial lainnya.
Beberapa hidden curriculum memang bisa diperoleh mahasiswa selama kuliah di PTAI, misalnya kepemimpinan, karena mahasiswa dikelompokkan ke dalam banyak kegiatan, baik intra kampus maupun ekstra kampus sehingga mereka memiliki kesempatan besar untuk menjadi pemimpin suatu organisasi sesuai dengan levelnya. Mereka juga banyak diajarkan kegiatan menulis. Semua fakultas memiliki majalah yang dikelola mahasiswa, dan di tingkat institut juga ada koran yang terbit secara berkala.
Skill lain yang bisa diperoleh di PTAI adalah kemampuan berbicara. Kuliah sudah banyak yang menggunakan model tutorial, siapa yang aktif berbicara di kelas juga akan mendapatkan perhatian khusus dari dosen. Di samping itu kegiatan seminar juga banyak ditemukan di kampus. Oleh karena itu bagi aktifis mahasiswa mereka sebagian besar bisa menulis, mengemukakan gagasan, khutbah, dan juga skill kepemimpinan. Ketiga skill tersebut tidak ditemukan di dalam kurikulum pengajaran, tetapi bisa diperoleh di dalam kegiatan mahasiswa. Oleh karena itu tidak aneh kalau kemudian alumni PTAI banyak yang terjun ke dunia politik, ke jurnalis menjadi wartawan, menjadi mubaligh karena mereka telah terbiasa di kegiatan kampus. Mereka mendapatkan itu mungkin di organisasi, atau kemauan pribadi, atau dari tempat lain. Namun mereka sebagian besar lemah dalam ilmu penunjang di bidang komputer, akuntansi dan sebagainya.
Kompetensi personal misalnya sikap jujur, amanah, disiplin, atau bertanggung jawab sulit diukur apakah hal ini sebagai akibat pendidikan di PTAI atau hasil pendidikan sebelumnya. Kompetensi ini berkaitan dengan model pendidikan yang diterapkan di PTAI apakah kejujuran akademik, misalnya terbangun sehingga tampak pada semua civitas  akademika. Amanah dan tanggung jawab apakah menjadi ‘kebiasaan’ yang riil atau tidak. Ketika ujian berapa orang yang cenderung melanggar, ketika membuat makalah berapa yang cenderung melakukan plagiasi, ketika laporan SPJ berapa di antara mereka yang cenderung fiktif dan sebagainya. Kondisi demikian ini bisa menjadi ukuran meskipun tidak sepenuhnya sama dan valid.
Pengajaran agama di PTAI bukan semata mengajarkan akhlaq atau meningkatkan kualitas iman, tetapi menggunakan pendekatan rasional, menganalisis pemikiran ulama, menganalisis fenomena sosial. Keluaran PTAI adalah sarjana agama diajarkan untuk mendalami pengetahuan agama dengan pendekatan rasional, bukan menjadi kyai yang bertugas mengembangkan risalah Islamiyah, pelayan umat, dan berperilaku serta menjunjung tinggi nilai ajaran agama. Sebagian besar mereka mengatakan bahwa ethos kerja mereka professional dibidangnya masing-masing. Mereka kerja bukan sekedar untuk mendapatkan uang, tetapi kerja yang bisa bernilai ibadah.


STAI jadi Institut Bagai Gayung Bersambut

Keinginan STAI Tafaqquh Fiddin Dumai untuk berubah menjadi Institut pada tahun 2020 seperti gayung bersambut. Untuk menuju kearah tersebut, langkah paling awal yang harus dilakukan STAI Tafaqquh Fiddin Dumai adalah mempersiapkan pembukaan program studi (prodi) baru. Demikian disampaikan oleh DR. H. Mastuki HS, M.Ag Kasubdit Akademik dan Kemahasiswaan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI pada temu ramah bersama sivitas akademika STAI Tafaqquh Fiddin Dumai pada tanggal 15 Juli 2010 di hotel Grand Zuri Dumai.
Menurutnya, Pembangunan Masyarakat Islam Pesisir (PMIP) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) adalah dua prodi yang layak dikembangkan di STAI Tafaqquh Fiddin Dumai ke depan. Untuk mengembangkan prodi tersebut beliau menganjurkan supaya banyak belajar dari pengalaman beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam lainnya di pulau Jawa.
Cita-cita untuk STAI Tafaqquh Fiddin Dumai berubah menjadi institut ini tidak lain adalah dalam rangka merespon perkembangan kota Dumai yang semakin hari semakin berkembang dan menjadi lokomotif pembangunan, terutama untuk kawasan Riau pesisir.  Perkembangan pembangunan kota yang begitu pesat tentu harus sejalan dengan peningkatan sumberdaya manusia masyarakat terutama pada aspek sosial keagamaan. Untuk itu, hanya institusi STAI lah yang diharapkan dapat membekalkan para intelektual yang dapat menyelaraskan diantara kebutuhan akan materialisme dan mental spritual. Fenomena bahwa pembangunan industri dan perdagangan yang meningkat pesat namun disatu sisi moralitas agama masih terhenti pada institusi-institusi ustadz dan ustadzah yang pendidikan agamanya didapat dari kampung, mengakibatkan perkembangan kedua sisi ini tidak singkron. Pemikiran inilah yang menjadi pondasi mengapa STAI perlu mengembangkan diri untuk menjadi institut. Demikian dinyatakan Rizal Akbar  Ketua Yayasan Tafaqquh Fiddin.
Selain untuk merespon pembangunan, pengembangan STAI menjadi Institut diharapkan untuk dapat menangkap peluang strategis daerah dimana letak Kota Dumai yang sangat strategis baik dipandang dari sudut pesisir sumatera maupun dari perbatasan antar negara. “Kami bermaksud dengan perubahan ini dapat merekrut mahasiswa bukan saja dari kota Dumai namun dari pesisir timur Sumatera dan kawasan Semenanjung Malaysia, kata Rozai Akbar Ketua STAI Tafaqquh Fididin Dumai.
  Namun cita-cita itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diraih oleh STAI Tafaqquh Fiddin Dumai. Untuk sampai ketujuan tersebut,   STAI perlu memiliki minimal 3 (tiga) fakultas dan masing masing fakultas memiliki masing-masing dua jurusan dan masing-masing jurusan memiliki paling tidak dua program studi. Dan tentu juga harus didukung oleh fasilitas yang memadai, hal tersebut dinyatakan oleh Drs. Abu Bakar Sekretaris Kopertais Wilayah XII Riau dan kepulauan Riau. Namun pihaknya tetap mendukung cita-cita STAI Tafaqquh Fiddin Dumai tersebut. (Bf)

Selayang Pandang STAI Tafaqquh Fiddin Dumai

Pentingnya Pendidikan Tinggi Islam di kota Dumai mendorong pembentukan Sekolah Tinggi Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai di bawah naungan Yayasan Tafaqquh Fiddin pada tahun 1999. Dengan dipertegas oleh Surat Keputusan Koordinator KOPERTASI Wilayah XII Nomor : 05/XII/K/2000 Tentang IZIN OPERASIONAL, Tanggal 1 April 2000. Setelah berjalan dua tahun, STAI Tafaqquh Fiddin memperoleh Status Terdaftar dengan SK Menteri Agama Nomor : DJ.II/264/2002, 12 Juli 2002.
Kemauan besar para pendiri sekolah ini untuk merealisasikan suatu pendidikan agama yang profesional di kota Dumai, menyebabkan segala upaya dilakukan. Pada priode pertama. pihak yayasan bersama pengurus STAI berjuang bertungkuslumus untuk mendapatkan izin serta membangun kampus. Dalam usaha mendapatkan perizinan, perjuangan panjang yang dilakukan sejak tahun 1999, baru membuahkan hasil yakni dengan dikeluarkannya izin operasional oleh KOPERTAIS Wilayah XII pada tahun 2000. Izin operasional itu ternyata belum cukup untuk menunjukan eksistensi STAI, sehingga pada tahun 2002 pihak yayasan kembali melakukan usaha-usaha untuk mendapatkan izin terdaftar. Akhirnya pada tahun tersebut izin terdaftar dari Menteri Agama Republik Indonesia dapat dikantongi STAI Tafaqquh Fiddin.
Keluarnya izin terdaftar tersebut belum dapat menenangkan hati dan perasaan baik pihak yayasan mahupun pengurus STAI. Keadaan perkuliahan yang selalu berpindah-pindah mulai dari Asrama haji Jalan Pattimura, ke Rumah Toko Pak T. Said Rahman di Jalan Sukajadi sampailah ke MDA Al-Bahri Kompleks PELINDO, sangat memilukan dan sulit untuk terlupakan. Keadaan itu menjadi sedikit terobati manakala akhirnya yayasan berhasil meloloskan bantuan pembangunan gedung kampus STAI Tafaqquh Fiddin pada APBD Provinsi Riau tahun 2003. Sementara itu pihak pengurus berhasil pula  mendapatkan hibah lahan kampus dari Pemerintah Kota Dumai seluas 10.000 m2.
Keadaan yang sangat melegakan hati para pendiri sekolah ini adalah manakala pada tanggal 20 Juli 2004 bertempat di Hotel Patra Dumai STAI Tafaqquh Fiddin melaksanakan wisuda perdana yang diikuti 40 orang wisudawan. Dimana sebelumnya pihak pengurus telah melakukan dua kali munaqasyah yakni kali pertama di Wisma Mella Pekanbaru pada 8 April 2003 dan kali kedua di Hotel Tasia Ratu Dumai pada 8 Januari 2004.
Kini Sekolah Tinggi Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai akan terus berkembang dan melanjutkan perjuangan baik membenahi kualitas pelayanan kepada mahasiswa, melakukan inovasi-inovasi guna keperluan pembangunan dan kemasyarakatan. Karena STAI Tafaqquh Fiddin Hadir sebagai jawaban atas kebutuhan keberagamaan ditengah masyarakat plural transisi dan metropolis.


Ekonomi Islam Sebuah Solusi

WACANA tentang Ekonomi Islam kini sedang marak diperbincangkan. Wacana itu didukung oleh fenomena wujudnya praktek perbankan syariah yang semakin hari semakin berkembang. Praktek perbankan syariah yang pada awalnya hanya dijalankan oleh Bank Muamalah, kini sudah menyebar kesemua bank konvensional di Indonesia. Bank-bank konvensional itupun kini telah membuka layanan-layanan syariah.
              Selain perbankan, praktek Ekonomi Islam juga dijalankan pada sektor asuransi, dan penjaminan. Selain itu, Ekonomi Islam hanya bergulat pada masalah zakat, infaq, waqaf dan sedekah yang dikelola oleh Badan Amil Zakat (BAZ), Lembaga Amil Zakat (LAZ) serta Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) yang tersebar baik di masjid maupun mushala dan instansi-instansi pemerintah maupun swasta.
Permasalahannya adalah apakah Ekonomi Islam hanya terhenti pada sektor keuangan saja, berikut ini disajikan wawancara khusus dengan Bapak H. M. Rizal Akbar, M.Phil pengamat Ekonomi Islam, Dosen Muamalah  dan Ketua Yayasan STAI Tafaqquh Fiddin Dumai, tentang seputar masalah Ekonomi Islam.

Assalamu’alaikum Bapak...! Menurut Bapak  apa yang membedakan antara Ekonomi Islam dengan ekonomi yang kita jalankan saat ini.

Wa’alaikumsalam, Wr. Wb. Baik, ekonomi yang kita jalankan saat ini dapat disebut dengan ekonomi konvensional, nah dalam konteks perbedaan diantara Ekonomi Islam dengan Ekonomi konvensional itu, saya sependapat dengan beberapa pakar Ekonomi Islam yang menyatakan bahwa perbedaannya terletak pada masalah falsafah ekonominya, meskipun ada sebahagian yang lain menyebutkan perbedaannya terletak pada praktek dalam berekonomi. Ekonomi Islam secara philosofi berorientasi pada falah (kebahagian) sementara Ekonomi konvensional berorientasi pada materi (kebendaan). Selain itu, dari aspek keadilan dalam berekonomi juga terjadi perbedaan. Bila kita simak Surat Al-Baqarah ayat 275, di sana Allah SWT Menyatakan bahwa, ” Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Bila kita pahami ayat ini, maka dalam peraktek Ekonomi Islam secara philosofi tidak boleh adanya ketidak adilan ekonomi (pengzholiman) dan falah sebagai orientasi Ekonomi Islam hanya dapat diraih dengan jalan ”diusahakan” atau dengan kata lain tidak boleh ada prinsip ”uang mencari uang tanpa kerja ”. Bila dalam konteks jual-beli, nilai lebih atau yang disebut keuntungan adalah hasil dari  usaha. Beberapa ulama terdahulu mendefenisikan keuntungan ini dengan ”konpensasi”. Sementara riba’, juga berorientasi pada nilai lebih namun bedanya adalah nilai lebih itu lazim disebut dengan ”bunga”. Bunga, tidak dapat disamakan dengan konpensasi, karena ianya dihutung pada masa awal dan sang kreditur tidak memiliki resiko atas kerugian usaha yang diderita oleh sang peminjam. Sementara dalam Ekonomi Islam harus berlaku prinsip profit-loss Sharing atau bagi hasil (Mudharobah)

Tadi Bapak menyebutkan tentang falah (kebahagian) bisa dijelaskan lebih rinci tentang hal tersebut?

Falah (Kebahagiaan) merupakan orientasi dari Ekonomi Islam, jadi sesungguhnya kita masyarakat Muslim ini adalah orang-orang yang berbahagia. Bayangkan saja setiap kali adzan dikumandangkan, maka muadzin pasti  melantunkan ”hay ya’alal falah” (mari menuju kebahagiaan). Namun kebahagiaan yang telah digariskan di dalam ajaran kita adalah kebahagian di dunia untuk menuju kebahagiaan di akhirat. Sehingga untuk mencapai kebahagiaan itu, kita tidak boleh hanya terhenti pada materi (kebendaan) semata. Nah, disinilah letak perbedaannya, bila ekonomi konvesional hanya terbatas pada materi sementara Ekonomi Islam jauh melampauinya dengan falah (kebahagian). Artinya dalam konsep Ekonomi Islam materi yang diperoleh harus dapat menyelamatkan dan materi yang dapat menimbulkan kemudharatan dan menyengsarakan harus dijauhi dan dihindari. 

Kembali pada pokok masalahnya, Bagaimana menurut bapak tentang praktek Ekonomi Islam saat ini?

Ya, praktek Ekonomi Islam sampai saat ini masih berkutat pada sektor keuangan. Perbankan, Asuransi, Penjaminan dan sektor klasik, zakat, sedekah, infaq dan waqaf. Sementara ruang-ruang ekonomi lainnya masih dalam konteks wacana keilmuan seperti : Ekonomi Pembangunan Islam, Ekonomi Makro dan Mikro Islam, Akuntansi Syari’ah dan sebagainya. Pada hal bila wacana ilmu ini dapat dipraktekkan saya yakin bahwa ianya dapat merubah corak perekonomian dunia saat ini. Saat ini kita dapat melihat perekonomian dunia semakin hari semakin parah. Kapitalisme ternyata gagal memakmurkan penduduk bumi, malah sebaliknya melahirkan bencana yang berkepanjangan. Namun sayangnya disaat orang hampir sepakat bahwa kapitalisme gagal, ilmuan Islam belum sepenuhnya dapat menampilkan konsep Ekonomi Islam sebagai solusi, disebabkan kurang diminatinya bidang ilmu ini pada masa-masa lalu.

Selanjutnya menurut Bapak, apakah praktek perbankan syari’ah saat ini sudah sesuai dengan prinsip-prinsipnya?

Menyangkut sudah sesuai atau tidaknya praktek perbankan dengan prinsip-prinsip syari’ah sesungguhnya secara formal sudah diatur oleh Dewan Syari’ah. Selagi praktek perbankan syari’ah itu mengikuti fatwa-fatwa Dewan Syari’ah tersebut secara formal ya sudah sesuai. Namun saya berharap masyarakat juga harus cerdas dalam bermuamalah. Sesunggunya benar-tidaknya praktek muamalah itu, masyarakat sendirilah  yang menilainya. Untuk itu memahami ilmu muamalah adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Mungkin sedikit perlu Bapak jalaskan perbedaan diantara Ekonomi Islam dengan Muamalah?

Diantara Muamalah dan Ekonomi Islam sebenarnya sama saja. Muamalah ya ekonomi Islam. Tapi karena saat ini terjadi pengelompokan Ilmu, akhirnya ada Ekonomi Islam dan ada Muamalah (Hukum Ekonomi Islam). Padahal prinsip Ekonomi Islam itu adalah tidak memisahkan diantara positif ekonomi (praktek ekonomi) dengan normatif ekonomi (hukum berekonomi).

Terakhir, Apa yang menjadi harapan Bapak terhadap pengembangan Ekonomi Islam dimasa dapan?

Harapan saya Ekonomi Islam harus dikembangkan oleh semua kalangan. Hari ini Ekonomi Islam lebih terkonsentrasi di Lembaga Pendidikan Tinggi Islam. Dan Sarjana Ekonomi Islam di Indonesia hari ini, lebih banyak yang berlatar belakang pendidikan agama. Padahal pemahaman Ekonomi Islam harus didukung oleh pengetahuan-pengetahuan umum lainnya seperti matematika, ekonometrika, statistik dan ekonomi konvensional.
Di samping itu, saya berharap pemerintah harus memberikan dukungan terutama dalam pengembangan program studi ini ke depan, yaitu dengan  memberikan porsi kepada para Sarjana Muamalah ini pada jabatan-jabatan yang ada di pemerintahan. Mereka para Sarjana Muamalah sesungguhnya bukan hanya menguasai Ekonomi Islam tapi juga memahami Ekonomi Konvensional dan Hukum Bisnis sekaligus. Sehingga tidak ada salahnya pemerintah memberikan kesempatan kepada mereka baik di bidang perencanaan, administrasi, ekonomi, pembangunan dan bahkan dengan kompetensi dasar sebagai ulama mereka juga mampu menyangga persoalan sosial dan keagamaan. (frd)


Manhaj


Cara, pandangan atau alur pikir, tertuang pada kata manhaj. Manhaj  menunjukan sebuah terminologi yang bersifat umum namun bernuansa religius.
Ketika kegalauan dan pergeseran terjadi disemua lini kehidupan, orang mulai kebingungan mencari jalan untuk mengatasinya.
Sistem nilai yang berlarian kesana kemari tidak berjumpa dengan kondisi yang diharapkan menyebabkan terjadinya kejenuhan-kejenuhan disana-sini.
Semuanya hampir sepakat bahwa dunia memang begitu, berjalan sediri dengan arah yang sulit untuk diarahkan. Namun tetap saja ianya memiliki arah, namun selalu berbeda dengan apa yang diharapkan.
Manhaj adalah kata yang dipilih untuk menjawab kegalauan itu. Dia tidak sesederhana istilah “cara”, “jalan” atau menjelimet seperti “methodology”. Manhaj merangkupi semuanya dan awal dari semuanya.
Manhaj adalah titik awal bagi muslim dalam memakni hidup dan memposisikan dia dalam kehidupan itu.
Manhaj menyebakan manusia menjadi manusia, tanpa harus selalu menukar wajah dan terpesona dengan pakaian.
Semoga tabloid ini menjadi bacaan yang menghantarkan pembaca kepada manhaj yang benar dalam memakni hidup.