Kamis, 10 Maret 2016 | By: IAI TF Dumai

Wacana Akademik "terdepan di Kawasan Pesisir Pantai Timur Sumatera"


Kawasan Pesisir Pantai  Timur Sumatera yang berada disepanjang  selat Melaka merupakan kawasan dengan segudang peristiwa dan sejarah yang mengilhami nusantara. Selat Malaka, yang merupakan kawasan perdagangan tersibuk dan tertua di dunia. Daerah ini pada mulanya dihuni oleh para pendatang dari India Selatan dan kemudian menjadi pusat pelayaran wilayah laut Kepulauan Indonesia, Laut Cina dan Samudera India. Pelayaran yang membawa serta masyarakat Melayu tersebut dapat dijumpai dibeberapa daerah bahagian barat dan tengah Kepulauan Indonesia dan daratan Malaysia. Budaya Melayu ini juga dapat ditemukan di selatan Filipina dan Madagaskar. Bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Malaysia dan Indonesia serta merupakan bahasa resmi yang digunakan di Singapura. Masyarakat etnik Melayu dalam jumlah yang besar menetap di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan daerah pesisir Sumatera Utara dan sejumlah kecil masyarakat Melayu dapat dijumpai dibahagian barat dan tengah Indonesia, khasnya di beberapa kota pesisir.

Selain pesatnya perdagangan antar pulau, kawasan ini juga memiliki sejarah tentang penyebaran agama yang tidak kalah pentingnya. Pada abad ke 5 masehi pengaruh Hindu dan Budha sangat mewarnai kawasan ini, namun pada abad-abad berikutnya kawasan ini mengambil peran penting dalam proses penyebaran Agama Islam di dinusantara, yang tentunya mencatat begitu banyak rentetan ulama yang pernah berkiprah di kawasan ini. Selari dengan itu, perkembangan bahasa Melayu juga memiliki hubungan yang erat dengan proses islamisasi di kawasan ini. Pada akhir abad ke 13 masehi– sejak Islam disebarkan di kawasan ini, sehingga secara berangsur-angsur bahasa Melayu berperan juga sebagai salah satu wahana pengantar Agama Islam.
Selat Melaka yang merupakan basis dari pergerakan ekonomi kawasan pantai timur Sumatera akan semakin berkembang pesat selari dengan perkembangan ASEAN Community pada tahun 2015. Adalah pada Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN (Association of South East Asian Nations) ke-9 di Bali tahun 2003 telah mencanangkan pembangunan ASEAN Community yang terdiri dari tiga pilar, yaitu ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community. Dalam konteks Economic Community ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN) ingin dicapai ASEAN 2015, yang akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana akan ada aliran barang jasa dan investasi yang bebas dan aliran modal lebih bebas sehingga menjadi lebih kuat, dinamis, dan kompetitif secara ekonomi dalam pasar global.
      Sebagai sebuah kawasan yang berada di jalur penting perekonomian dunia, kawasan pesisir pantai timur Sumatera sudah selayaknya mendapatkan perhatian khusus dalam kebijakan pembangunan nasional. Kawasan ini sudah semestinya menjadi kawasan utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional, menjadi pasar yang dapat menjamin produk-produk nasional untuk masuk ke dunia internasional. Disamping itu, kejayaan kawasan ini sebagai enteri point pengembangan peradaban di kawasan nusantara sebagaimana catatan sejarah di atas harus dapat dikembalikan lagi perannya sehingga kegalauan peradaban yang kita hadapi saat ini dapat teratasi.
Secara ekonomi harapan terhadap program MP3I (Master Plant Percepatan Peluasan Ekonomi Indonesia) yang telah dicanangkan pemerintah dalam mencapai visi Indonesia 2025 sangat besar dalam upaya mempotensikan kembali kawasan ini. Dimana program  MP3I  adalah sebuah program yang menyeting semua aspek perekonomian Indonesia yang diharapkan dapat mengubah perekonomian Indonesia menjadi lebih maju dan berkembang. Kawasan pantai timur sumatera merupakan salah satu koridor pengembangan ekonomi nasional dengan tema pembangunan ekonomi sebagai “Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional”.


0 komentar:

Posting Komentar