Senin, 07 Maret 2016 | By: RA #Admin#

STAI jadi Institut Bagai Gayung Bersambut

Keinginan STAI Tafaqquh Fiddin Dumai untuk berubah menjadi Institut pada tahun 2020 seperti gayung bersambut. Untuk menuju kearah tersebut, langkah paling awal yang harus dilakukan STAI Tafaqquh Fiddin Dumai adalah mempersiapkan pembukaan program studi (prodi) baru. Demikian disampaikan oleh DR. H. Mastuki HS, M.Ag Kasubdit Akademik dan Kemahasiswaan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI pada temu ramah bersama sivitas akademika STAI Tafaqquh Fiddin Dumai pada tanggal 15 Juli 2010 di hotel Grand Zuri Dumai.
Menurutnya, Pembangunan Masyarakat Islam Pesisir (PMIP) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) adalah dua prodi yang layak dikembangkan di STAI Tafaqquh Fiddin Dumai ke depan. Untuk mengembangkan prodi tersebut beliau menganjurkan supaya banyak belajar dari pengalaman beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam lainnya di pulau Jawa.
Cita-cita untuk STAI Tafaqquh Fiddin Dumai berubah menjadi institut ini tidak lain adalah dalam rangka merespon perkembangan kota Dumai yang semakin hari semakin berkembang dan menjadi lokomotif pembangunan, terutama untuk kawasan Riau pesisir.  Perkembangan pembangunan kota yang begitu pesat tentu harus sejalan dengan peningkatan sumberdaya manusia masyarakat terutama pada aspek sosial keagamaan. Untuk itu, hanya institusi STAI lah yang diharapkan dapat membekalkan para intelektual yang dapat menyelaraskan diantara kebutuhan akan materialisme dan mental spritual. Fenomena bahwa pembangunan industri dan perdagangan yang meningkat pesat namun disatu sisi moralitas agama masih terhenti pada institusi-institusi ustadz dan ustadzah yang pendidikan agamanya didapat dari kampung, mengakibatkan perkembangan kedua sisi ini tidak singkron. Pemikiran inilah yang menjadi pondasi mengapa STAI perlu mengembangkan diri untuk menjadi institut. Demikian dinyatakan Rizal Akbar  Ketua Yayasan Tafaqquh Fiddin.
Selain untuk merespon pembangunan, pengembangan STAI menjadi Institut diharapkan untuk dapat menangkap peluang strategis daerah dimana letak Kota Dumai yang sangat strategis baik dipandang dari sudut pesisir sumatera maupun dari perbatasan antar negara. “Kami bermaksud dengan perubahan ini dapat merekrut mahasiswa bukan saja dari kota Dumai namun dari pesisir timur Sumatera dan kawasan Semenanjung Malaysia, kata Rozai Akbar Ketua STAI Tafaqquh Fididin Dumai.
  Namun cita-cita itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diraih oleh STAI Tafaqquh Fiddin Dumai. Untuk sampai ketujuan tersebut,   STAI perlu memiliki minimal 3 (tiga) fakultas dan masing masing fakultas memiliki masing-masing dua jurusan dan masing-masing jurusan memiliki paling tidak dua program studi. Dan tentu juga harus didukung oleh fasilitas yang memadai, hal tersebut dinyatakan oleh Drs. Abu Bakar Sekretaris Kopertais Wilayah XII Riau dan kepulauan Riau. Namun pihaknya tetap mendukung cita-cita STAI Tafaqquh Fiddin Dumai tersebut. (Bf)

0 komentar:

Posting Komentar