Sabtu, 12 Maret 2016 | By: RA #Admin#

Ekonomi Kebahagiaan

Dalam banyak faktor yang berpotensi mempengaruhi kesejahteraan manusia, pendapatan merupakan variabel paling menonjol dalam penelitian kebahagiaan ekonomi. Hal ini mungkin tidak mengejutkan sebab pendapatan atau standar hidup layak seseorang, biasanya sudah terserap oleh GDP atau GNP, yang merupakan indikator empiris utama kesejahteraan individu di bidang ekonomi. 
Berangkat dari mazhab Easterlin paradoks (1974 & 2010), menyatakan bahwa banyak tes empiris yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang cukup besar diantara pendapatan dengan kesejahteraan subjektif (kebahagiaan). Namun hal ini terjadi hanya pada keluarga dengan pendapatan yang tinggi dan/atau para buruh/ tenaga kerja dengan pendapatan yang tinggi. Serta hal itu juga berbeda untuk  negara kaya dan negara miskin. 
Kontroversi diantara keduanya muncul, bilamana hubungan antara pertumbuhan pendapatan dan tingkat kebahagiaan dari waktu ke waktu. Pendukung Easterlin paradoks menegaskan bahwa tidak terdapat hubungan diantar pendapatan per kapita rata-rata dan kebahagiaan di sebuah negara. Dan mereka membantah bahwa pertumbuhan pendapatan menghasilkan lebih tinggi rata-rata kebahagiaan. Berbeda dengan pengikut Easterlin, Stevenson dan Wolfers (2008). Clark et al. (2008) mereka menemukan bahwa pendapatan mutlak berkontribusi terhadap tingkat kebahagiaan.
Teori ekonomi kebahagiaan pertama kali di kemukakan oleh Easterlin (1974) dalam penelitiannya yang berjudul “Does Economic Growth Improve the Human Lot”. Kajian ini menyimpulkan bahwa negara dengan pendapatan per kapita tinggi memiliki alasan untuk masyarakatnya menyatakan berbahagia. Namun kebahagiaan yang dinyatakan oleh masyarakat itu tidak berbeda jauh dengan negara-negara lainnya bahkan dengan negara dengan pendapatan per kapita yang hanya memenuhi kebutuhan dasar sekalipun. Demikian pula halnya, meskipun pendapatan per kapita meningkat terus di Amerika Serikat antara tahun 1946 dan 1970, rata-rata melaporkan kebahagiaan tidak menunjukkan tren jangka panjang dan menurun antara tahun 1960 dan 1970.
Easterli paradoks mendapat sanggahan untuk pertama kalinya oleh Ruut Veenhoven dan Michael Hagerty (2003), analisis yang mereka lakukan dari berbagai sumber data baru , memperoleh  kesimpulan bahwa tidak ada paradoks diantara pendapatan dengan kebahagiaan. Dan argumen yang sama juga dilontarkan oleh Betsey Stevenson dan Justin Wolfers (2008) yang menilai kembali paradoks Easterlin menggunakan data Time series baru. Hagerty ad el (2003) menyimpulkan bahwa, kenaikan pendapatan mutlak jelas terkait dengan peningkatan kebahagiaan baik untuk kedua orang individu maupun seluruh negara.
Kritikan terhadap Eastelin paradoks ini akhirnya dijawab sendiri oleh Easterlin (2010), yang mempertegas kebali teorinya dengan melakukan analisis terhadap sampel 37 negara. Namun hasil kajian Eastelin (2010) itu, kembali mendapat bantahan dari Wolfers (2010) dan oleh Richard Layard, Andrew Clark dan Claudia Senik (2013). Mereka membuktikan melalui variabel lain termasuk kepercayaan, PDB per kapita memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan.
William Nordhaus dan James Tobin (1973) memberikan pertanyaan yang radikal tentang pertumbuhan sebagai mesin kesejahteraan, yang akhirnya membuat kesimpulan negatif diantara pertumbuhan dengan kesejahteraan. Banyak ekonom dan ilmuwan sosial telah sampai pada kesimpulan bahwa, di negara-negara maju, pertumbuhan ekonomi memiliki dampak kecil pada kesejahteraan dan karena itu tidak menjadi tujuan utama dari kebijakan ekonomi (lihat Oswald, 1997). Meskipun hal ini masih dapat dipercayai sebagaimana proposisi Inglehart et al. (2008) bahwa pertumbuhan material, yang diukur dengan PDB per kapita, dapat meningkatkan kesejahteraan di negara-negara berkembang. Namun kesimpulan ini bersifat sangat sementara karena bagi orang-orang miskin standar kesejahteraan itu sangatlah sederhana, sehingga variabel ekonomi menjadi satu satunya tumpuan dalam kepuasan.
Dalam sebuah artikel yang terkenal, Easterlin (1974) pertanyaan ironis yang muncul adalah: apakah "meningkatnya pendapatan semua akan meningkatkan kebahagiaan semua?" Ini didasarkan pada pengamatan bahwa tindakan kebahagiaan rata-rata tetap datar selama jangka panjang di negara-negara yang telah mengalami tingkat tinggi pertumbuhan PDB. Diantara Pendapatan dan kebahagiaan telah menjadi perdebatan selama dua dekade terakhir oleh para ekonom, psikolog dan ilmuwan politik. Namun, sebagian besar bukti sampai saat ini tentang hubungan antara pendapatan dan kesejahteraan subjektif hanya mengamati negara-negara maju.
Kajian Easterlin (2009) menemukan bahwa  tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peningkatan kebahagiaan dan tingkat jangka panjang pertumbuhan PDB per kapita. Hal ini berlaku untuk tiga kelompok negara yang dianalisis secara terpisah, 17  negara membangun, 9 negara sedang membangun dan 11 negara kurang membangun.  Analisis juga dilakukan untuk 37 negara secara bersama-sama. Dengan pendektan analisis time series ditemukan hubungan positif jangka pendek antara pertumbuhan kebahagiaan dan pendapatan, yang timbul dari fluktuasi kondisi ekonomi makro, dimana dengan hubungan jangka panjang, hubungan tersebut tidak signifikan.
Bandura (2008) memberikan gambaran tentang literatur yang tumbuh di kesejahteraan subjektif atau lebih dikenal sebagai "kebahagiaan". Secara tradisional, kesejahteraan telah diidentifikasi dengan tujuan dimensi tunggal: kemajuan material diukur dengan pendapatan atau PDB. Namun, sekarang diterima secara luas bahwa konsep kesejahteraan tidak dapat ditangkap sendiri oleh GDP: kesejahteraan bersifat multidimensi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu pendekatan untuk mengukur kesejahteraan multidimensi adalah dengan menggunakan indikator objektif untuk melengkapi, suplemen atau mengganti PDB. Pendekatan lain adalah melalui langkah-langkah subjektif: meminta orang untuk melaporkan kebahagiaan dan kepuasan hidup. Makalah ini menyajikan temuan-temuan utama dari literatur tentang faktor-faktor penentu ekonomi dan non-ekonomi kebahagiaan.
Meskipun kebahagiaan adalah penting dalam hal teori ekonomi dan kebijakan, dia juga menunjukkan bahwa indikator kebahagiaan memiliki beberapa keterbatasan.  Dimana dia mengemukakan dua pertanyan. Pertama, haruskah kebahagiaan menjadi tujuan utama manusia? Kedua, apakah indikator kebahagiaan dapat dijadikan panduan yang baik untuk pembuatan kebijakan?
Andrew E. Clark & Claudia Senik (2011), coba menjawab apa negara-negara berpenghasilan rendah dapat diharapkan dari pertumbuhan dalam hal kebahagiaan. Dengan menggunakan kumpulan data set Internasional yang telah tersedia yang  berkaitan dengan hubungan antara pertumbuhan pendapatan dan kesejahteraan subjektif ditemukan hasil yang konsisten dengan paradoks Easterlin, pendapatan yang lebih tinggi selalu dikaitkan dengan skor kebahagiaan yang lebih tinggi, kecuali dalam satu kasus: apakah ketika pertumbuhan pendapatan nasional yang lebih tinggi akan menyebabkan kesejahteraan yang tinggi pula, adalah wacana yang masih hangat diperdebatkan. Kajian ini menemukan bukti yang berisi dua pelajaran penting: perbandingan pendapatan tampaknya mempengaruhi kesejahteraan subjektif, bahkan di negara-negara yang sangat miskin, sehingga kajian ini mendapati bahwa gagasan pertumbuhan akan meningkatkan kebahagiaan di negara-negara berpenghasilan rendah tidak dapat ditolak atas dasar bukti yang tersedia. 
Antal (2011) Alternatif yang diusulkan terhadap PDB sebagai ukuran kesejahteraan sosial atau kemajuan manusia dievaluasi secara singkat. Empat kategori utama yang dipertimbangkan, yaitu Index of Sustainable Economic Welfare (ISEW) dan Genuine progress indicator (GPI) berdasarkan koreksi dari PDB, berkelanjutan atau green GDP, tabungan asli / investasi dan indeks komposit. Semua alternatif ini ternyata memiliki berbagai kekurangan. Namun demikian, beberapa dari mereka merupakan peningkatan yang cukup atas informasi PDB mendekati kesejahteraan sosial. Hal ini memberikan dukungan gagasan bahwa PDB (per kapita), meskipun belum seluruhnya sempurna namun sudah dapat dijadikan informasi dalam pengambilan keputusan publik hingga indikator alternatif yang sempurna tersedia.

Oswald (2014) Kajiannya membahas teka-teki yang terkenal dalam ilmu sosial. Mengapa beberapa negara melaporkan kebahagiaan yang tinggi seperti itu? Denmark, misalnya, secara teratur puncak tabel liga bangsa-bangsa yang kaya kesejahteraan, sementara Inggris dan Amerika Serikat tertinggal di bawahnya. Prancis dan Italia malah melaporkan relatif buruk. Meskipun telah banyak dilakukan pembahasan dengan menggunakan pendekatan GDP dan variabel sosial ekonomi serta budaya, namun punca penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti. Berbeda dengan itu kajian ini  mengeksplorasi jalan baru. Yakni dengan menggunakan data pada 131 negara, dimana dilakukan dokumentasi dari berbagai bukti yang konsisten dengan hipotesis bahwa negara-negara tertentu mungkin memiliki keunggulan genetik dalam kesejahteraan.

0 komentar:

Posting Komentar