Senin, 07 Maret 2016 | By: IAI TF Dumai

Alumni PTAI Dimata Masyarakat Pengguna

Oleh : Dr. Mastuki, HS

Ketika ada pertanyaan kepada alumni yang baru diwisuda, di mana alumni PTAI itu bekerja, jawaban spontan yang muncul adalah ‘di mana-mana’. Pengertian ‘di mana-mana’ itu minimal ada dua pengertian. Pertama, ketidakjelasan dari pengguna PTAI. Selama ini pengguna utama dari alumni itu orang tua dan Departemen Agama. Untuk pengguna orang tua itu bersifat umum, tidak bisa dibedakan antara PTAI dengan PTU. Sedangkan Departemen Agama yang selama ini menjadi pengguna utama dari PTAI sepertinya sudah jenuh. Departemen Agama itu seperti ‘hanya lubang’ kecil bagi alumni PTAI. Lalu ke mana alumni PTAI? Inilah kekurang-jelasan dari apa yang dikatakan oleh masyarakat dengan ‘di mana-mana’.
Kedua, ‘di mana-mana’ berarti sangat luas. Realitas menunjukkan bahwa alumni PTAI bukan hanya bekerja di lembaga di Departemen agama saja, tetapi juga bisa ditemukan di Departemen non-depag, misalnya Pemkot/ Pemkab, Pemprov, Dinas, BKKBN, dan sebagainya. Meskipun harus diakui bahwa di depag sangat dominan. Lembaga di bawah naungan depag seperti Kanwil Depag, Kandepag,  madrasah, PA, PTA, KUA, mayoritas pegawainya berasal dari PTAI. Di samping itu, alumni PTAI juga banyak dijumpai di pesanten, takmir masjid, ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, TPQ/TPA, madrasah diniyah, madrasah swasta dan sebagainya. Bisa dibayangkan siapa yang akan mengurus TPQ/TPA, Madrasah dan sebagainya jika tidak ada alumni PTAI. Hal tersebut disebabkan karena substansi materi yang diajarkan di PTAI tersebut adalah Islamic Studies (kajian Islam). Maka wajar kalau lembaga sosial-keagamaan itu membutuhkan alumni PTAI.
Seperti disebut pada bagian terdahulu, alumni PTAI mulai merambah ruang mobilitas yang relatif ‘meluas’ dan bahkan ‘menyempal’, tidak ada hubungan secara langsung dengan ilmu agama Islam sebagai core curriculum PTAI. Penilaian secara jujur juga sering dikemukakan oleh dosen dari perguruan tinggi umum bahwa IAIN sekarang semakin menunjukkan potensinya untuk berperan di masyarakat.
Meskipun PTAI bisa bekerja ‘di mana-mana’, pertanyaan kuantitatif yang menggoda adalah berapa persen dari total alumni yang bekerja di tempat ‘agama’ dan berapa persen yang bekerja di ‘non-agama’. Berapa daya serap dari institusi itu dalam menampung alumni PTAI. Hal ini penting untuk dilakukan, sebaik apapun kompetensinya jika hanya menampung sebagian kecil saja, maka yang diciptakan oleh PTAI bukan lagi ‘sarjana kompeten’, tetapi ‘sarjana pengangguran’. Berapa sarjana yang hasilkan oleh PTAI dalam 5 tahun, dan berapa persen dari alumni itu yang telah mendapatkan tempat oleh masyarakat pengguna, baik institusi agama maupun non-agama, berapa di antara mereka yang bekerja di luar bidangnya, misalnya di pabrik kayu, garment, asuransi, mebel, berdagang sendiri, sebagai makelar, distributor MLM, penerbitan, jurnalis, penulis buku dan sebagai, dan berapa dari mereka yang belum bekerja. Data mengenai hal ini susah sekali dilacak, tetapi yang jelas di tempat itu ada juga alumni PTAI.
Penelusuran alumni IAIN sudah pernah dilakukan oleh Prof. Mastuhu dengan mengambil sampel tiga IAIN, yakni IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN), IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN), serta IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hasil temuannya yang paling utama adalah bahwa ternyata profil alumni IAIN sangat didominasi dengan profesi pendidikan yang melebihi 73.3% responden menyatakan profesi ini, kemudian disusul pegawai baik negeri maupun swasta dan pedagang-wiraswasta (Mastuhu 1999). Hasil survei Prof. Mastuhu telah memberikan gambaran umum tentang profil alumni IAIN – alumni IAIN itu ke mana dan seperti apa. Hanya saja, kompetensi alumni IAIN yang sungguh-sungguh diharapkan oleh masyarakat berada di luar jangkauan penelitiannya.

Kompetensi Lulusan PTAI
Secara umum masyarakat pengguna menyatakan bahwa alumni PTAI masih memiliki kompetensi profesional pengetahuan agama Islam. Hal ini bisa dilihat dari persoalan agama di banyak kantor masih diserahkan kepada alumni PTAI. Hal yang sama juga terjadi di masyarakat bahwa alumni PTAI pasti menjadi motor kegiatan keagamaan seperti khutbah jum’at, pengelolaan zakat, pengurusan jenazah, menjadi pemimpin tahlil dan sebagainya. Sebagian sangat ‘substantif-kontekstual’ di dalam menjelaskan agama Islam. Hal ini merupakan kelebihan yang dimiliki oleh PTAI – model pengkajian Islam yang moderat. Namun jumlah yang seperti ini masih terbatas, dan mereka yang dapat memerankan profil ini biasanya tinggal di perkotaan.
Tidak semua alumni PTAI memiliki pengetahuan yang ‘matang’ soal agama. Kritik masyarakat terhadap alumni PTAI misalnya sok ilmiah, sombong, bahasanya sulit dimengerti dan sebagainya adalah penanda bahwa masih ada problem dengan kompetensi alumni PTAI. Hal ini bisa didengarkan dari khutbah yang dilakukan oleh alumni PTAI yang masih baru. Orang sering memberikan label kepada alumni ini dengan ‘intelektual tanggung’.
Kalangan pesantren menganggap bahwa alumni PTAI tidak bisa disejajarkan dengan pesantren. Mereka hanya tahu kulit saja, kemampuan untuk mendalami agama masih kurang atau minimal. Hal ini bisa dibuktikan dari lemahnya alumni PTAI yang tidak memilik basis pendidikan pesantren. Mereka tidak banyak tahu tentang agama, tetapi mereka sok tahu bicara agama Islam. Sementara orang pesantren memiliki bekal yang cukup untuk mengetahui persoalan agama, meskipun secara metodologis tidak mampu menyampaikannya.
Penelitian Abdurrahman Mas’ud (2003) di Semarang menyebut beberapa indikasi kompetensi yang dimiliki alumni PTAI baik secara personal dan sosial. Menurut Mas’ud, pengetahuan selain agama yang paling menonjol dari alumni PTAI adalah pengetahuan sosial. Beberapa kalangan mempertanyakan kurikulum yang diajarkan kepada mahasiswa PTAI karena dinilai memiliki kelebihan di dalam masalah sosial, komitmen, kepekaan dan advokasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya civitas akademika IAIN yang menulis di koran, menjadi aktivis sosial, atau melakukan pendampingan terhadap masyarakat, dan kegiatan sosial lainnya.
Beberapa hidden curriculum memang bisa diperoleh mahasiswa selama kuliah di PTAI, misalnya kepemimpinan, karena mahasiswa dikelompokkan ke dalam banyak kegiatan, baik intra kampus maupun ekstra kampus sehingga mereka memiliki kesempatan besar untuk menjadi pemimpin suatu organisasi sesuai dengan levelnya. Mereka juga banyak diajarkan kegiatan menulis. Semua fakultas memiliki majalah yang dikelola mahasiswa, dan di tingkat institut juga ada koran yang terbit secara berkala.
Skill lain yang bisa diperoleh di PTAI adalah kemampuan berbicara. Kuliah sudah banyak yang menggunakan model tutorial, siapa yang aktif berbicara di kelas juga akan mendapatkan perhatian khusus dari dosen. Di samping itu kegiatan seminar juga banyak ditemukan di kampus. Oleh karena itu bagi aktifis mahasiswa mereka sebagian besar bisa menulis, mengemukakan gagasan, khutbah, dan juga skill kepemimpinan. Ketiga skill tersebut tidak ditemukan di dalam kurikulum pengajaran, tetapi bisa diperoleh di dalam kegiatan mahasiswa. Oleh karena itu tidak aneh kalau kemudian alumni PTAI banyak yang terjun ke dunia politik, ke jurnalis menjadi wartawan, menjadi mubaligh karena mereka telah terbiasa di kegiatan kampus. Mereka mendapatkan itu mungkin di organisasi, atau kemauan pribadi, atau dari tempat lain. Namun mereka sebagian besar lemah dalam ilmu penunjang di bidang komputer, akuntansi dan sebagainya.
Kompetensi personal misalnya sikap jujur, amanah, disiplin, atau bertanggung jawab sulit diukur apakah hal ini sebagai akibat pendidikan di PTAI atau hasil pendidikan sebelumnya. Kompetensi ini berkaitan dengan model pendidikan yang diterapkan di PTAI apakah kejujuran akademik, misalnya terbangun sehingga tampak pada semua civitas  akademika. Amanah dan tanggung jawab apakah menjadi ‘kebiasaan’ yang riil atau tidak. Ketika ujian berapa orang yang cenderung melanggar, ketika membuat makalah berapa yang cenderung melakukan plagiasi, ketika laporan SPJ berapa di antara mereka yang cenderung fiktif dan sebagainya. Kondisi demikian ini bisa menjadi ukuran meskipun tidak sepenuhnya sama dan valid.
Pengajaran agama di PTAI bukan semata mengajarkan akhlaq atau meningkatkan kualitas iman, tetapi menggunakan pendekatan rasional, menganalisis pemikiran ulama, menganalisis fenomena sosial. Keluaran PTAI adalah sarjana agama diajarkan untuk mendalami pengetahuan agama dengan pendekatan rasional, bukan menjadi kyai yang bertugas mengembangkan risalah Islamiyah, pelayan umat, dan berperilaku serta menjunjung tinggi nilai ajaran agama. Sebagian besar mereka mengatakan bahwa ethos kerja mereka professional dibidangnya masing-masing. Mereka kerja bukan sekedar untuk mendapatkan uang, tetapi kerja yang bisa bernilai ibadah.


0 komentar:

Posting Komentar