Running Text - Dr. Rizal Akbar
Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, S.Si, M.Phil adalah Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai dan Sekjen Perhimpunan Ilmuwan Pesisir Selat Melaka (PIPSM). Beliau juga merupakan Doktor Ekonomi Islam terbaik Universitas Trisakti Jakarta tahun 2016 dan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Komite Organisasi, Wilayah dan Komisariat. Anak bungsu dari pasangan H. Akbar Ali (Alm) dan Hj. Aisyah (Almh) ini lahir di Sungai Alam, Bengkalis 12 September 1974. Memulai pendidikan di SD Negeri 61 Sungai Alam, SMPN 3 Bengkalis dan SMAN 2 Bengkalis. Sarjan S1 Diselesaikannya di Universitas Riau, Pada Jurusan Matematika FMIPA, Tahun 1998. Menyelesaikan S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Pada tahun 2007 dengan gelar Master Of Philosopy (M. Phil) yang selanjutnya mengantarkan beliau pada program Doktor di Islamic Economic and Finance (IEF) Universitas Trisakti Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 2016 dengan kelulusan Cumlaude, dan Doktor Ekonomi terbaik I.

Rizal Akbar Terima Anugrah Satria Pujangga Bangsa tahun 2025

Assoc Prof Dr.H.M. Rizal Akbar, M.Phil terpilih sebagai penerima Anugrah "Tokoh Adat Dan Budaya Nusabtara

Rizal Akbar Terima Anugrah Hang Tuah DMDI

Anugrah diserahkan langsung oleh TYT Tun Seri Setia Dr. Hj Mohd Ali Bin Rustam

Rizal Akbar Terima Anugrah KRH Dari Kraton Surakarta Hadininggrat Solo

Assoc Prof Dr. H. M. Rizal Akbar, M.Phil mendapat gelar Kanjeng Raden Haryo (KRH) Dwijobaroto Dipura dalam sebuah helat yang digelar Kraton Surakarta Hadiningrat.

Rizal Akbar Ikut Dilantik Menjadi Pengurus DPP IAEI 2025-2030

Ketum IAEI Pusat yang Juga Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nazaruddim Umar MA: Sinergi Wujudkan Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia

Rizal Akbar Pembicara Pada Seminar Internasional Pesisir Selat Melaka

Bentangkan Rekonstruksi Sejarah Ekonomi Maritim Selat Melaka Pada Forum Seminar Internasional di UiTM Shah Alam Malaysia

Rizal Akbar Terima Anuggrah Darjah Mahkota Muda

Kesultanan Pagaruyung Darur Qarar

Senin, 28 November 2016

Bandar Bakau (bagian 1)

Berada diujung jalan Nelayan Laut kelurahan Pangkalan Sesai Kota Dumai. Kawasan seluas 12 Hetar itu ditumbuhi oleh berbagai jenis Mangrov. Istilah Mangrov sepertinya baru dekade belekangan in dikenal oleh masyarakat dikawasan ini. Karena dulu mereka lebih akrab menyebutnya dengan Bakau, Perepat, Kedabu, Nipah dan sebagainya. Dan kawasan tempat tumbuhnya tubuhan-tumbuhan itu selalu di sebut dengan Baghan. Tempat itu sekarang bernama Bandar Bakau.

Bandar Bakau dikelola oleh sebuah kelompok  Pecinta Alam Bahari (PAB). Kelompok ini dinakhodai oleh seorang figur pejuang lingkungan yang juga pernah berkeliling Indonesia dengan berjalan kaki, yakni Darwis Mohamad Saleh. Sosok sederhana yang selalu mengenakan kaos itu, seakan menyatu dengan kawasan Badar Bakau ini, karene keseharian beliau berada disini dan bermastautin di tempat ini.

Darwis telah merubah kawasan yang dulunya menakutkan, kini menjadi kawasan kunjungan. Sebelumnya, tidak banyak masyarakat  bersahabat dengan hutan Bakau, kecuali para nelayan dan suku-suku terbelakang seperti akit, orang utan dan suku laut. Bagi mereka hutan bakau adalah sumber kehidupan mereka. Namun bagi masyarakat sekitar yang sudah maju hutan bakau jarang dikunjungi karena memang sukar untuk memasuki kawasan ini sebab terdiri dari hamparan lumpur yang ditumbuhi oleh akar-akar kayu yang menonjol, sehingga sangat tidak mungkin untuk memasukinya jika tidak dengan tujuan-tujuan tertentu yang sangat penting. Ditambah lagi biasanya kawasan ini dipersepsikan angker, tempat bermukimnya segala makhluk-makhluk halus, serta yang lebih menakutkan lagi bahwa ditempat ini terdapat sejenis ular dengan ukuran yang kecil dan pendek, yang sangat ditakuti karena bisa nya dapat menyebabkan kematian, ular ini dinamakan "ular bakau".

Pada pertengahan oktober 2016, Tim LP2M IAI Tafaqquh Fiddin Dumai, berkesempatan mewawancarai Saudara Darwis Mohamad Saleh di kediamaannya di kawasan Bandar Bakau. Wawancara seputar PAB dan Bandar Bakau itu juga dihadiri oleh Pak Udin yang juga salah seorang pengurus PAB. Pada kesempatan itu dengan ekspresi yang berat bang Wes, panggilan akrab untuk Darwis Mohammad Saleh. banyak menjelaskan tetang konsidi PAB dan pengelolaan Bandar Bakau saat ini.

Dalam setiap doa, saya selalu berharap kiranya datangkanlah orang-orang yang punya kemampuan untuk mengurus kawasan ini, yakni ikut berfikir.  Saya juga berfikir  namun lebih kepada magrov dan hal-hal lainnya. Sementara bagaimana memodernkan kawasan ini dengan segala manajerialnya memerlukan orang-orang  yang memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT, tutur bang Wes. Kesimpulan bang Wes bahwa ketaqwaan menjadi ukuran utama bagi personil pengelola yang dia harapkan untuk Bandar Bakau tentu menarik perhatian.

Sangat beralasan mengapa bang Wes menuturkan persoalan ini. Dengan nada yang meninggi dia sempat menyatakan, "di PAB pengurus tidak semestinya hanya mengambil jabatan. Kalau orientasinya hanya itu, masih banyak  jabatan-jabantan ditempat yang lain memiliki potensi dan bergengsi. Sementara disini kita perlu pengabdian dan kecintaan kepada lingkungan terutama Bandar Bakau ini", tegasnya sambil memandang kearah hamparan pepohonan bakau yang tubuh tersusun rapi.

Bang Wes menegaskan bahwa PAB memiliki arah langkah yang jelas untuk mengembangkan kawasan Bandar Bakau. Namun menurutnya, kelemahan utama PAB ada pada faktor menejerial. selain itu dia juga mengaku memang saat ini ada masaalah dengan penataan personil di kepengurusan PAB. "Saat ini saya mulai tegas dalam penataan personil di PAB", ungkap bang Wes. Dia juga mengakui bahwa manajemen yang berjalan saat ini sangat lemah. Tidak ada standar oprasional pengelolaan, sehingga Dia menyebutnya dengan "manajemen sorang-sorang, atau standar kampung".

Darwis mengharapkan kawasan ini mendapat hibah dari pemerintah pusat menjadi kawasan pengembangan budaya dan konservasi mangrov. Dia menuturkan bahwa menteri kehutanan pada waktu itu Zulkifli Hasan, pernah menyampaikan kepada mereka suapaya pemerintah kota Dumai dapat mengusulkan hibah kawasan ini kepada pemerintah pusat untuk tujuan tersebut.

Secara legalitas dalam pengelolaan Bandar Bakau, Darwis menjelaskan bahwa sampai saat ini mereka telah mengantongi akte notaris dan surat terdaftar dari Kesbangpol kota Dumai. Selain itu mereka juga memiliki dokumen-dokumen penghargaan atas kerja-kerja pengelolaan kawasan Bandar Bakau ini baik dari pemerintah Kota Dumai, provinsi sampailah tingkat nasional.

Bersambung.....






Sabtu, 19 November 2016

"Kota Industri itu bernama Dumai"

Dumai, demikianlah kota itu bernama. Tidak ada cerita yang pasti mengapa nama itu diberikan pada kota ini. Namun konon itu disebabkan ada sosok makhluk Jin yang bernama Umai yang membunuh siangkaramurka putra raja Aceh yang ingin mengambil paksa salah satu dari tujuh putri jelita, dengan senjata yang fenomenal yakni buah bakau belukap.

Namun terdapat pula cerita lainnya,  yang menceritakan bahwa penamaan itu berawal dari sebuah pangkalan atau pelabuhan kecil yang berada di Sungai Sembilan. Dimana pelabuhan itu, pemiliknya bernama Umai. Umai selalu dipanggil masyarakat disana dengan De Umai. De adalah panggilan Melayu, yang awalnya adalah Ude atau Abang. Sehingga sangking seringnya pangkalan itu disebut De Umai maka lambat laun berubah menjadi Dumai.

Namun yang meraik adalah ketika memperkenalkan Dumai kepada orang yang belum pernah berkunjung ke kota ini. Biasanya, mereka selalu memplesetkan Dumai dengan "Dunia Maya" dan ada pula yang menyamakannya dengan "Dubai". Tidak ada masalah dengan plesetan tersebut karena bernilai positif . Ketika Dumai diplesetkan dengan dunia maya, ada harapan akan peningkatan kiranya kota ini disuatu masa nanti menjadi  cyber city. Begitu juga ketika dia diplesetkan dengan Dubai, diharapkan dimasa depan kota ini akan berkembang peset setara dengan perkembangan kota Dubai yang berada di Timur Tengah saat ini.

Sebagai sebuah kota yang berada di bagian pinggang pulau Sumatera, posisi kota ini sangat strategis berhadapan langsung dengan selat Melaka. Dimana Selat ini merupakan selat dengan kepadatan pelayaran perniagaan dunia. Dengan letaknya yang strategis itu, Dumai berkembang sebagai kawasan pelabuhan, industri dan perdagangan. Terdapat banyak pelabuhan di kota ini baik yang dikelola oleh PT. Pelindo, pelabuhan khusus serta pelabuhan rakyat. Demikian juga dengan industri, telah berdiri industri pengolahan  seperti bahan bakar minyak oleh PT Pertamina, pengolahan crude palm oil (CPO) serta pengolahan lainnya.

Kehadiran industri-industri itu telah merubah kota ini. Berawal dari sebuah kampung nelayan dengan penduduk asli Melayu yang beragama Islam, kini Dumai menjadi sebuah kota yang heterogen. terdapat berbagai suku dan agama yang hidup di kota ini. Selain suku Melayu, di kota ini juga terdapat suku Minang, Batak, Jawa, Bugis, Banjar, Madura serta suku-suku lainnya, serta juga tidak sedikit terdapat masyarakat China. Demikian pula dengan agama, selain Islam sebagai agama mayoritas, di kota ini juga terdapat agama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Kepelbagain itu disebabkan oleh proses migrasi penduduk akibat daya tarik industri yang berkembang di kota ini.

Kehadiran industri di kota Dumai bukan saja berdampak pada heterogenitas penduk. Namun lebih jauh dari itu, industri di kota Duma juga menyebabkan pergeseran-pergesran dalam sosio budaya masyarakatnya. Struktur masyarak buruh pabrik, pelabuhan dan pengangkutan, merupakan struktur dominan masyarakat. Sementara para pemilik modal serta petinggi perusahaan berada di Jakarta, Medan bahkan Singapura, Malaysia dan kota-kota besar lainnya.  Dengan demikian kota ini lebih dominan diwarnai oleh budaya dan psikologi buruh.

Dengan struktur sosial semacam itu menyebabkan perkembangan kota ini menjadi lamban dari sisi kebudayaan dan peradaban. Kemajuan peradaban dan budaya selalu diplopori oleh masyarakat lokal, dengan identitas budaya Melayu dan Tamaddun Islam. Namun malangnya pada kesempatan yang sama masyarakat lokal selalu kalah dengan persaingan ekonomi, sehingga sumberdaya ekonomi tidak dapat mereka kuasai, bahkan akibat keterpaksaan hidup, kini banyak aset-aset masyarakat lokal yang sudah berpindah tangan terutama pada pemilikan tanah dan properti.

Bagi masyarakat lokal perkembangan ekonomi kota Dumai tidak membahagiakan. Keadaan itu direspon secara sadar oleh masyarakat,  bahkan pemerintah kota Dumai  melalui perda kota Dumai nomor 10 tahun 2004 tentang porsi tenaga kerja lokal dan luar yakni berbanding 70 : 30, tujuh puluh persen untuk tempatan dan tiga puluh persen untuk tenaga kerja luar yang bekerja di kota Dumai. Perda itu tidak pernah terrealisasi. Namun ia menjadi saksi  bahwa ekonomi kota ini tidak berada ditangan masyarakatnya. Sehingga untuk menjadi pekerja pada industri yang ada ditempat mereka harus mengemis dan perlu dorongan politis lokal melalui perda tersebut.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Negara Bangsa : Sebuah Kontemplasi 71 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (Bagian2)

Bagian 2 

Sejarah negara bagsa selalu mencatat tentang gerakan-gerakan heroic yang dilakukan menjelang kelahiran satu negara bangsa, hal ini didefinisikan dengan perjuangan kemerdekaan. Konsep perjuangan  selanjutnya berkonstribusi pula pada apa yang disebut dengan “pahlawan”. Seorang pahlawan selalu dikaitkan dengan segala upaya yang mereka lakukan untuk tegaknya perubahan menuju kepada tatanan baru yakni “negara bangsa”. Artinya para pahlawan kemerdekaan itu adalah orang-orang yang berbeda dengan zamannya. Mereka bukanlah orang yang hidup nyaman dengan keadaan dimasa mereka, meskipun merka memiliki kemungkinan untuk dapat menikmati kehidupan yang nyaman dimasa itu. Seorang pahlawan seharusnya merupakan orang yang aneh dimasanya, yakni orang-orang yang tidak berdamai dengan relitas.

Indonesia adalah sebuah negara bangsa yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada17 Agustus 1945. Negara bangsa ini sangat sempurna, dengan tanah air yang satu, bangsa yang satu dan bahasa yang satu. Inilah yang membedakan dengan bangsa-bangsa lainya di dunia. Ada negara dengan banyak bangsa, ada bangsa yang tidak memiliki negara. Indonesia telah digagas oleh para founding father kita pada tahun 1945 sebagi negara dengan konsep kesatuan dan penyatuan. Dalam konteks kepelbagaian budaya maka muncul semangat “bhinneka tunggal ika”.

Tegaknya Indonesia sebgai sebuah negara bangsa, setelah melalui sejarah panjang penjajahan. Selama tiga ratus lima puluh tahun Indonesia dijajah oleh Belanda. Bila Ibnu Khaldun membuat pengalan satu generasi itu adalah 40 tahun, maka dapat dikatakan penjajahan itu terjadi selama sembilan generasi. Sangat masuk akal bila kondisi keterjajahan itu dianggap sebagai sebuah suratan takdir, namun tidak bagi mereka yang selalu menginginkan perubahan maka sepantasnyalah mereka disebut sebagai “pahlawan”. 

Kamis, 18 Agustus 2016

Negara Bangsa : Sebuah Kontemplasi 71 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

(Bagian 1)

Perubahsan sosial merupakan sebuah teori dalam sisiologi yang untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Ibnu Khaldun. Konsep ini menjelaskan hasil pengamatannya terhadap bangsa Badui yang hidup di gurun pasir secara berpindah-pindah di jazirah Arab. Menurutnya, perubahan social pada masyarakat Badui itu melalui empat pase yakni pase perjuangan merebut kekuasan, pase mempertahankan kekuasaan. Pase kejayaan dan terakhir pase kejatuhan kekuasaan.

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa pase-pase perubahan sosial itu akan ditentukan oleh variabel ruang dan waktu, namun perubahan itu bersifat terus, kontinu dan siklus. Dengan paradigma inilah agaknya Kita dapat mengatakan bahwa "sejarah pasti berulang". Pengulangan sejarah menurut Ibnu Khaldun dapat terjadi dengan ciri dan karakter sosiologi yang sama. Paradigma ini mengantarkan kepada teori sejarahnya Ibnu Khaldun yang lebih melihat sejarah sebagi sebuah proses transmisi kerifan atas sebuah tamaddun manusia, pada tiap-tiap priodeisasi sejarah. Sementara Karl Marx, dengan pendekatan sosiologi konfliknya melihat sejarah sebagai pertentangan antar kelas.  

Adalah negara bangsa (nation state) yang merupakan proses perubahan sosial dari imprialisme dan kolonialisme. Negara bangsa lahir dari sebuah gagasan  “kemerdekaan”.  Gagasan ini merupakan negasi dari “penjajahan”. Penguasaan satu bangsa terhadap bangsa lain adalah bentuk dari penjajahan. Imprialisme dan kolonialisme dalam konteks negara bangsa adalah penjajahan. Maka negara-negara bangsa harus keluar dari kedua kondisi tersebut jika ingin menjadi merdeka. Namun sudah sejauh mana negara-negara bangsa yang telah mendeklarasikan kemerdekaannya itu telah terbebas dari kedua penguasaan tersebut adalah sebuah kenyataan pahit bagi banyak negara-negara bangsa di dunia.

Tidak sedikit negara bangsa yang lahir hanya sebagai proses salin baju menuju kepada penjajahan baru. Ini sebuah keniscayaan, ketika negara bangsa lahir bukan berarti imprialisme mati. Imprialisme terus hidup dalam berbagai bentuk baru. Memanglah dia tidak mungkin lagi berwujud seperti empayer Romawi dan Persia. Tapi kehadirannya masuk dalam sendi kehidupan masyarakat dunia baik pada sektor ekonomi, sosial maupun budaya.  

Kita merdeka secara toritorial, namun terjajah dari sisi ekonomi, disaat negara nyaris tidak memiliki kewenangan sedikitpun mengatur ekonomi guna menyelamatkan masyarakat kecil. Sebagaiman tujuan awalnya mensejahterakan kehidupan rakyat. Bahkan negara terpaksa menguras keringat rakyatnya melalu pajak, serta pungutan lain seperti BPJS hanya sebuah alasan fiscal. Dan dengan alasan fiscal juga negara dipaksa menerima kejahatan dari pemilik modal besar yang bertahun-tahun tidak mau membayar pajak, namun terlindungi oleh oknum-oknum atas nama negara juga dengan melakukan pengampunan pajak.

Belum lagi banyak negara bangsa yang harus menerima kenyataan bergantung harap dengan mata uang yang tidak pernah berhenti dengan inflasi. Kenyataannya bahwa defisa negara, perdagangan luar negri, hutang luar negeri serta transaksi internasional lainnya harus mengunakan Dolar Amerika. maka wajar saja bila inflasi di Zimbabwe mencapai 500 milliar persen pada tahun 2008.


Selain itu, negara bangsa juga sangat rentan dengan pergeseran sosial budaya akibat penetrasi budaya luar yang dikomunikasikan secara masal serta disosialisasikan dengan segala kecanggihan teknologi informasi. Sistem pendidikan sebagai benteng penetrasi kebudayaan di bayak negara bangsa  seperti tidak cukup ampuh untuk menangkal perubahan tersebut. Akibatnya tidak sedikit negara-nagara bangsa yang gagal dalam menanamkan semangat kebangsaanya. 


Minggu, 07 Agustus 2016

Ontologi Diklat Penelitian

Gagasan yang melimpah dan cara pandang yang beragam, itulah suasana yang melingkupi Diklat Penelitian angkatan III Pusdiklat Tenaga Pendidikan dan Keagamaan Kemenag RI tahun 2016 pada kali ini. Dengan tiga puluh peserta dari institusi perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang berbeda dari seluruh wilayah Indonesia, tergambar beragam pemikiran yang melatarbelakangi basis keilmuannya masing-masing.

Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar
Gagasan baru serta metode penelitian yang beragam diperkenalkan oleh para narasumber yang memang handal dalam bidangnya masing-masing. Berawal dari materi yang dibawakan oleh Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar yang membahas tentang Pengembangan Teori dan Kritik Methodologi dalam Penelitian Agama. sebagai ilmuan senior dalam bidang metodologi penelitian agama, beliau sangat piawai  menyampaikan materinya.

Metodologi penelitian menurut Prof Atho merupakan integrasi dari teori dan pengukuran realitas. Teori sosial menurutnya tidak ajek seperti pada pengetahuan kealaman. Sehingga beliau tidak terlalu menguatkan pada feodalitas teori yang mendefenisikan adanya grant, midle dan small teori. Menurutnya teori itu dapat saja berubah-rubah akibat dari perkembangan penelitian yang dilakukan dalam bidang kajian tersebut.

Kualitatif jadi gini ya....."Mahal"
Materi berikutnya disajikan oleh Dr. Farida Hanum dari Balai Puslitbang Kehidupan Keberagamaan Kemenag RI. Beliau menyajikan materi tentang teknik pengumpulan dan analisis data. Secara detil beliau menjelaskan bagaimana langkah-langkah penelitian kuantitatif serta teknik analisisnya. Dia menekankan sebuah kajian kuantitatif itu "mahalnya" ada pada analisis dari pembacaan akngka-angka kuantitatif yang dihasilkan dari prangkat analisisnya. Selain itu penelitian kuantitatif itu harus benar-benar memperhatikan bagaimana istrumen penelitian itu di rumuskan.

Bersama Dr. Molyamin Aini
Sesi kuantitatif selanjutnya disambung oleh narasumber  Dr Molyamin. Beliau sangat terpesona dengan metode kuantitatif, sehingga hampir sebahagian besar penelitiannya mengunakan metode tersebut. Beliau mencontohkan tema kajiannya tentang nikah beda agama serta isu-isu tentang radikalisme. Beliau memang spesial sekali pada tema tersebut. Sehingga, gagasan-gagasan libralnya meluncur bagaikan beselancar di atas gelombang dahsyat paradigma keilmuan yang beragam. Namun tidak sedikit dari peserta yang renyah dengan hidangan akademik ilmuan ini. Tapi ada juga  peserta yang resah dan bahkan menyanggah.

Dr. Adlin Sila, MA
Suasana kuantitatif yang ruet dengan angka-angka, model persamaan dan sebagainya, berubah menjadi humanis tatkala Dr. Adlin Sila, MA, mengawal materi pelatihan dengan membawakan bahasan metode etnografi. Dia, seolah-olah mengajak peserta bercengkrama dalam dialog-dialog longgar penuh perisa yang memeriksa. Meskipu sederhana dan datar, tidak terasa pelan-pelan dia masuk dalam perbincangan yang mendalam menyoal selidik segalanya. Itulah etnografi, kata kata nya. Materi ini memunculkan perbicangan yang sangat ramai, nyaris setiap kesempatan ada saja yang menyela. Ada yang menyoal tetang akurasi data, adapula yang bersikukuh dengan letak teori dalam kajian, bahkan tak pelak ada yang membahas akhir dari penelitian ini untuk apa, jika hanya mengungkap fenomena tanpa ada model yang ditawarkan oleh sang peneliti terhadap fenomena itu.

Dr. Fahriati
Keterpesonaan akan etnografi bergeser kepada nisan dan manuskrip. Dr. Fahriati, dengan senyuman khas Aceh nya, mampu memukau peserta dengan penjelasan-penjelasan serta menampilkan dokumen-dokumen purbanya (maaaf, bukan pura-pura baik sebagaimana istilah yang berkembang dalam arena pelatihan). Penjelasanya mengenai manuskrip menarik perhatian peserta. Bahkan suasan pelatihan berubah drastis dari pemahaman makna pada simbol dan sistem nilai sebagaiman anjuran antropolog pada kajian etnografi menjadi tekun mengamati goresan-goresan kuno layaknya pakar peneliti purba, yang memang sudah dari sananya "purba". Manuskrip itu, lembar demi lembar di perkenalkan, cara merawatnya, menyalin semula serta membaca  dan menganalisisnya semua dijelaskan dalam sesi ini.

Bersambung......


```

Galeri Kegiatan Rektor IAITF

Dokumentasi kegiatan Rektor Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai

Memuat galeri kegiatan...
```