Rabu, 22 Maret 2017 | By: 120974

Perspektif Tentang Konflik

Foto: diskusi dengan kanit intel Pores Dumai, seputar
Kamtibmas dan isu sosial, politik dan keagamaan
Kampus IAI Tafidu, 22 Maret 2017
Pengetahuan bersifat mengarahkan. Anggapan sepantasnyalah memerlukan pembuktian dan atau kepahaman. Pemahaman yang mendalam pada sesuatu mengantarkan kepada kebenaran dalam bersikap. Namun begitu pula sebaliknya. Salah dalam memahami sesuatu sering kali membawa kepada sikap yang salah dan membahayakan.

Ada banyak konflik dan pertentangan. Perbedaan dalam warna, wacana, citarasa, gagasan bahkan idiologi yang terjadi saat ini, seakan memenuhi jagat raya kita. Sentimen agama, ras dan suku kini seakan mengeliat dan mengemuka seolah ada sesuatu yang salah dengan rekatan kebinekaan kita.

Bukan itu saja, jatah ekonomi tak jarang menjadi punca bahkan selalu jadi penyebab utama. Distribusi yang timpang dengan sistem penjatahan kapitalis yang hanya berpihak kepada pemilik modal, menyebabkan jurang yang semakin dalam. Politik sebagai transformasi kekuasaan yang diharapkan menengahi ketimpangan itu tiba-tiba malah membela sang kapitalis untuk semakin memeras keringat golongan the have not. Sehingga kondisi kemiskinan semakin terpuruk dalam kenyataan yang memprihatinkan.

Tidak terlalu jauh dari wacana diatas, persoalan itu pulalah yang dihadapi oleh kota Dumai saat ini. Dengan berbasis industri, jasa dan perdagangan sebagai struktur utama ekonominya, kota ini menjadi sangat terdepan di provinsi Riau. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi terbukti tidak berpengaruh positif kepada peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.  Bahkan kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan bagi banyak warganya, mengingatkan pada bidal Melayu " Ayam mati di lumbung padi".

Nyaris tidak ada agenda yang tegas dapat meleraikan masalah tersebut. Industri terus berkembang dan produksi meningkat laju, penderitaan masyarakat tidak ada yang peduli. Pekerja datang silih berganti, para profesional dan buruh kasar diangkut sekali, sehinga nak jadi kuli dikampung sendiri harus pula jumpa pungli.

Agaknya inilah puncanya kegaduhan itu. Meminjam pendapat Karl Mark dan Hegel yang hanya percaya bahwa materi adalah segalanya, maka gaduh ini berpunca dari itu. Ketika distribusi ekonomi yang timpang, ketika sumber ekonomi yang sulit diakses dan ketika semuanya hanya untuk tumbuh dan tumbuh. ***
Senin, 13 Maret 2017 | By: 120974

Sejahtera Vs Bahagia

Sejahtera dan bahagia sulit untuk dibedakan. Orang yang sejahtera seharusnya bahagia, demikian juga sebaliknya orang yang bahagia selalunya sejahtera. Kesulitan itu mengakibatkan banyak orang menyamakan diantara kesejahteran dan kebahagian. Para ilmuan selalu menyamakan kesejahteraan itu  dengan well-being, kebagian pula di nyatakan dengan subjectif well-being. Konsep ini secara implisit mencoba mengetengahkan bahwa kesejahteran itu terbagi dua, yakni kesejahteraan yang terukur (positifis) dan kesejahteraan yang tidak terukur (subjektif), sehingga dengan demikian kebahagian dapat saja dikatakan bagian dari kesejahteraan itu, yakni kesejahteraan yang subjektif atau tidak terukur.

Selain well-being, istilah lain yang digunakan untuk menyatakan kesejahteraan adalah welfare. Dimana, Well-being lebih kepada wujudnya kesejahteraan baik dari sisi ekonomi maupun non ekonomi. Sementara welfare menunjukan kepada pensejahtraan yang dilakukan terutama dalam menjelaskan peran negara yang harus berpihak kepada terbentuknya kesejahteraan, sebagaimana yang ditegaskan dalam konsep welfare state. 

Sejahtera juga dapat didekatkan dengan Falah dalam konteks Syariah. Falah adalah destinasi akhir dari transpormasi syariah. Maqasyid Syariah juga mengenal  istilah maslahah sebagai destinasi antara menuju falah. Falah didefenisikan dengan keselamatan, kemenangan atau kesejahteraan di dunia dan diakhirat, sementara mahslahah adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada kemanfaatan dan menolak kepada kerusakan.

Kesejahteraan adalah tujuan dari proses pembangunan.Sehebat apapun peforma politik kekuasaan yang ditampilkan, baik tentang kekuatan politik, sumberdaya maupun moralitas, jika tidak mampu mewujudkan kesejahteraan, maka itu sama saja dengan pencitraan. Wacana politik kekuasaan acap kali menjadikan isu kesejahteraan sebagai jargon perjuangan. Namun tiap kali rezim berganti, kesejahteraan semakin jauh dari harapan, dan bahkan semakin sirna ditelan kemelaratan hidup yang nyaris sudah tak tertolong lagi

Kesejahteraan adalah tentang sebuah rasionalitas empiris dari sebuah proses pembangunan. Nampaknya itu semakin sulit untuk kita raih. Bahkan penurunan tingkat kesejahteraan sudah semakin didepan mata. Lapangan kerja yang semakin sempit, inflasi yang terus meningkat, kemiskinan yang semakin melebar, ketimpangan ekonomi yang semakin dalam dan banyak lagi fenomena yang mengantarkan kita pada kesimpulan itu.  Bila pembangunan sudah tidak lagi mensejahterakan, apakah pembangunan pun harus merebut senyum dari wajah rakayatnya?

Adalah banyak kajian yang membuktikan bahwa kebahagiaan tidak berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan secara positif, terutama pendapatan. Karena kebahagian itu sangat unik dan rumit karena dia "tentang rasa" , banyak setatus pada media sosial yang menuliskan bahwa "sejahtera itu sederhana"tapi tak jarang yang menuliskannya itu sedang dalam susana hati yang tidak berbahagia, atau paling tidak punya ganjalan dengan rasa kebahagiaannya.

Bila pembangunan tidak lagi mensejahterakan, maka akan lebih baik digeser sedikit menjadi pembangunan yang membahagiakan. Konsepnya tidak terlalu rumit, "bahagiakan mereka yang dulu membahgiakan mu dan bahagiakan pula mereka yang belum sempat membahagiakan mu pada masa yang lalu karena boleh jadi nanti mereka semua akan membahagiakan mu".
Minggu, 12 Maret 2017 | By: 120974

Bercengkrama dengan rasa

Hari berlalu bak air yang mengalir deras. Setiap detik selaras dengan denyutan nadi, dia meninggalkan setiap jengkal kehidupan. Banyak yang direncanakan dan tidak sedikit yang terabaikan. Sadar dalam kelupaan dan nyata dalam impian yang tidak kunjung berhenti.

Melukis semua pernik kehidupan, bagai melukis diatas awan. Semua keindahan, carut-marut, suka dan duka menyatu dan berbaur dalam rasa yang terolah oleh fikiran dan kematangan jiwa. Watak terkesima dibias oleh rasa itu dalam kegaduhan diantara dua pojok yang saling berhadapan dan silih berganti.

Memposisikan hati pada jiwa yang selalu sama adalah sebuah kesulitan yang tiada tara. Semua tampak biasa dalam gejolak yang tiada bertepi. Keinginan, godaan dan keterpaksaan bak anasir yang bergelayut dalam dekapan dahan kokoh keimanan. Bersembunyi dibalik tirai kecerian dan senyuman mungkin tidak akan bertahan lama, meski terkadang sudah cukup buat sementara menjinakan suwasana.

Apalah yang digaduhkan oleh jiwa, bila semuanya sudah sesuai rencana. Menabur duka dalam cinta, atau bercumbu pada sang waktu yang tak kunjung kembali. Mengundang duka pada suka, membelai rindu pada benci. Semua akan terhenti. Cukupkanlah iya dalam takarannya. Dalam keseimbangan jiwa yang dilumur rasa. Suka dan duka ada tempatnya ,menjadi pilihan yang sepadan.

Tak satupun yang berbekas dalam aliran deras kehidupan itu, kecuali kenangan. Dia menganga bagai palung besar yang siap menelan rasa. Menghanyutkannya dan bahkan memporak porandakan kesdaran dan cita. Banyak yang tak tahan dengan godaannya, hingga bersuluh didalam terang dan mengigau didalam jaga.

Entah suka yang mengundang duka, entah cinta yang menabur sengsara. Hati lah tempatnya, tempat duka dilerai, tempat nestapa ditawarkan. Tempat segudang rasa berkecamuk, diantara asa dan kecewa, diantara benci dan cinta. Maka biarlah rasa itu. Karena selagi aliran itu masih mengalir, maka tidak akan pernah hanya ada satu rasa, karena rasa itu seperti warna. Perpaduan warna pasti akan menghasilkan citarasa yang sempurna.