Minggu, 05 Februari 2017 | By: IAI TF Dumai

Sederhanakah bahagia?

Bagian 1

Banyak status pada medsos yang diawali dengan kalimat " bahagia itu sederhana" yang selanjutnya disambung dengan beragam kalimat lainnya. Fenomena itu menarik untuk diamati, paling tidak memunculkan dua pertanyaan. Pertama, betulkah bahagia itu sederhana. Kedua, Suasana apa yang mengilhami kalimat tersebut dituliskan.

Bahagia, adalah apa yang selalu diharapak oleh semua orang. Kebahagian itu adalah tentang rasa, sehingga dia bersifat subjektif. Bahagia sering pula disebut dengan well-being. Dalam konsep Islam, kebahagian dinyatakan dengan istilah assyaadah, al-falah, hasanaah atau istilah lainnya yang penulis belum sempat memahaminya.

Kebahagian tersimpan rapat diruang hati, sehingga  sang pemilik hati sajalah yang dapat mendefenisikan apakah ia sedang bahagia atau tidak, inilah yang disebut dengan subjektif. Pengamatan tentang kebahagiaan, lebih subjektif lagi bila dibandingkan dengan kebahagian itu, karena sang peneliti yang terbatas dengan alat ukur penelitiannya yang positifis, membuat kesimpulan tentang kebahagian. Padahal apa yang mereka simpulkan hanya bersandar pada kesan-kesan objektif (terukur) dari apa yang diekspresikan oleh sang responden, menyangkut menyangkut rasa. Pertanyaannya, dapatkah kita simpulkan bahwa mereka yang menuliskan di metsos, "bahagia itu sederhan", adalah orang yang sedang bahagia?

Mengukur sesuatu yang tidak pasti, boleh juga diistilahkan dengan "mendulang angin". Suasana kebagian memang memunculkan gejala lahiriah yang bersifat objektif. Sehingga akan sangat mungkin mengapresiasikan bahwa sesorang itu bahagia ketika melihat dari tampilan luarnya. Ketika ada orang yang berwajah murung kita pasti mengatakan dia kurang bahagia, atau ketika melihat orang dengan wajah yang ceria, maka sangat masuk akan untuk menyatakan bahwa dia sedang bahagia.

Tapi apakah kesimpulan itu benar, hanya orang itulah yang tahu. Barang kali inilah yang menyebabkan penelitian kebahgaian kini dilakukan dengan menanyakan langsung, apa yang ditanyakan adalah tentang kepuasan. Misalnya, apakah anda puas dengan pekerjaan yang sedang anda tekuni, serta pertanyaan lainnya. Pertanyaannya, Samakah puas dengan bahagia, atau samakah bahagia dengan senang, adalah wacana menarik untuk diperbincangkan. 

Maka mudahkah bahagia itu, yang pasti mengukurnya sulit. Jika mengukurnya sulit, bagaimana pula dengan menciptakannya? ....bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar