Sabtu, 19 November 2016 | By: RA #Admin#

"Kota Industri itu bernama Dumai"

Dumai, demikianlah kota itu bernama. Tidak ada cerita yang pasti mengapa nama itu diberikan pada kota ini. Namun konon itu disebabkan ada sosok makhluk Jin yang bernama Umai yang membunuh siangkaramurka putra raja Aceh yang ingin mengambil paksa salah satu dari tujuh putri jelita, dengan senjata yang fenomenal yakni buah bakau belukap.

Namun terdapat pula cerita lainnya,  yang menceritakan bahwa penamaan itu berawal dari sebuah pangkalan atau pelabuhan kecil yang berada di Sungai Sembilan. Dimana pelabuhan itu, pemiliknya bernama Umai. Umai selalu dipanggil masyarakat disana dengan De Umai. De adalah panggilan Melayu, yang awalnya adalah Ude atau Abang. Sehingga sangking seringnya pangkalan itu disebut De Umai maka lambat laun berubah menjadi Dumai.

Namun yang meraik adalah ketika memperkenalkan Dumai kepada orang yang belum pernah berkunjung ke kota ini. Biasanya, mereka selalu memplesetkan Dumai dengan "Dunia Maya" dan ada pula yang menyamakannya dengan "Dubai". Tidak ada masalah dengan plesetan tersebut karena bernilai positif . Ketika Dumai diplesetkan dengan dunia maya, ada harapan akan peningkatan kiranya kota ini disuatu masa nanti menjadi  cyber city. Begitu juga ketika dia diplesetkan dengan Dubai, diharapkan dimasa depan kota ini akan berkembang peset setara dengan perkembangan kota Dubai yang berada di Timur Tengah saat ini.

Sebagai sebuah kota yang berada di bagian pinggang pulau Sumatera, posisi kota ini sangat strategis berhadapan langsung dengan selat Melaka. Dimana Selat ini merupakan selat dengan kepadatan pelayaran perniagaan dunia. Dengan letaknya yang strategis itu, Dumai berkembang sebagai kawasan pelabuhan, industri dan perdagangan. Terdapat banyak pelabuhan di kota ini baik yang dikelola oleh PT. Pelindo, pelabuhan khusus serta pelabuhan rakyat. Demikian juga dengan industri, telah berdiri industri pengolahan  seperti bahan bakar minyak oleh PT Pertamina, pengolahan crude palm oil (CPO) serta pengolahan lainnya.

Kehadiran industri-industri itu telah merubah kota ini. Berawal dari sebuah kampung nelayan dengan penduduk asli Melayu yang beragama Islam, kini Dumai menjadi sebuah kota yang heterogen. terdapat berbagai suku dan agama yang hidup di kota ini. Selain suku Melayu, di kota ini juga terdapat suku Minang, Batak, Jawa, Bugis, Banjar, Madura serta suku-suku lainnya, serta juga tidak sedikit terdapat masyarakat China. Demikian pula dengan agama, selain Islam sebagai agama mayoritas, di kota ini juga terdapat agama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Kepelbagain itu disebabkan oleh proses migrasi penduduk akibat daya tarik industri yang berkembang di kota ini.

Kehadiran industri di kota Dumai bukan saja berdampak pada heterogenitas penduk. Namun lebih jauh dari itu, industri di kota Duma juga menyebabkan pergeseran-pergesran dalam sosio budaya masyarakatnya. Struktur masyarak buruh pabrik, pelabuhan dan pengangkutan, merupakan struktur dominan masyarakat. Sementara para pemilik modal serta petinggi perusahaan berada di Jakarta, Medan bahkan Singapura, Malaysia dan kota-kota besar lainnya.  Dengan demikian kota ini lebih dominan diwarnai oleh budaya dan psikologi buruh.

Dengan struktur sosial semacam itu menyebabkan perkembangan kota ini menjadi lamban dari sisi kebudayaan dan peradaban. Kemajuan peradaban dan budaya selalu diplopori oleh masyarakat lokal, dengan identitas budaya Melayu dan Tamaddun Islam. Namun malangnya pada kesempatan yang sama masyarakat lokal selalu kalah dengan persaingan ekonomi, sehingga sumberdaya ekonomi tidak dapat mereka kuasai, bahkan akibat keterpaksaan hidup, kini banyak aset-aset masyarakat lokal yang sudah berpindah tangan terutama pada pemilikan tanah dan properti.

Bagi masyarakat lokal perkembangan ekonomi kota Dumai tidak membahagiakan. Keadaan itu direspon secara sadar oleh masyarakat,  bahkan pemerintah kota Dumai  melalui perda kota Dumai nomor 10 tahun 2004 tentang porsi tenaga kerja lokal dan luar yakni berbanding 70 : 30, tujuh puluh persen untuk tempatan dan tiga puluh persen untuk tenaga kerja luar yang bekerja di kota Dumai. Perda itu tidak pernah terrealisasi. Namun ia menjadi saksi  bahwa ekonomi kota ini tidak berada ditangan masyarakatnya. Sehingga untuk menjadi pekerja pada industri yang ada ditempat mereka harus mengemis dan perlu dorongan politis lokal melalui perda tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar