Senin, 13 Maret 2017 | By: IAI TF Dumai

Sejahtera Vs Bahagia

Sejahtera dan bahagia sulit untuk dibedakan. Orang yang sejahtera seharusnya bahagia, demikian juga sebaliknya orang yang bahagia selalunya sejahtera. Kesulitan itu mengakibatkan banyak orang menyamakan diantara kesejahteran dan kebahagian. Para ilmuan selalu menyamakan kesejahteraan itu  dengan well-being, kebagian pula di nyatakan dengan subjectif well-being. Konsep ini secara implisit mencoba mengetengahkan bahwa kesejahteran itu terbagi dua, yakni kesejahteraan yang terukur (positifis) dan kesejahteraan yang tidak terukur (subjektif), sehingga dengan demikian kebahagian dapat saja dikatakan bagian dari kesejahteraan itu, yakni kesejahteraan yang subjektif atau tidak terukur.

Selain well-being, istilah lain yang digunakan untuk menyatakan kesejahteraan adalah welfare. Dimana, Well-being lebih kepada wujudnya kesejahteraan baik dari sisi ekonomi maupun non ekonomi. Sementara welfare menunjukan kepada pensejahtraan yang dilakukan terutama dalam menjelaskan peran negara yang harus berpihak kepada terbentuknya kesejahteraan, sebagaimana yang ditegaskan dalam konsep welfare state. 

Sejahtera juga dapat didekatkan dengan Falah dalam konteks Syariah. Falah adalah destinasi akhir dari transpormasi syariah. Maqasyid Syariah juga mengenal  istilah maslahah sebagai destinasi antara menuju falah. Falah didefenisikan dengan keselamatan, kemenangan atau kesejahteraan di dunia dan diakhirat, sementara mahslahah adalah segala sesuatu yang menunjukan kepada kemanfaatan dan menolak kepada kerusakan.

Kesejahteraan adalah tujuan dari proses pembangunan.Sehebat apapun peforma politik kekuasaan yang ditampilkan, baik tentang kekuatan politik, sumberdaya maupun moralitas, jika tidak mampu mewujudkan kesejahteraan, maka itu sama saja dengan pencitraan. Wacana politik kekuasaan acap kali menjadikan isu kesejahteraan sebagai jargon perjuangan. Namun tiap kali rezim berganti, kesejahteraan semakin jauh dari harapan, dan bahkan semakin sirna ditelan kemelaratan hidup yang nyaris sudah tak tertolong lagi

Kesejahteraan adalah tentang sebuah rasionalitas empiris dari sebuah proses pembangunan. Nampaknya itu semakin sulit untuk kita raih. Bahkan penurunan tingkat kesejahteraan sudah semakin didepan mata. Lapangan kerja yang semakin sempit, inflasi yang terus meningkat, kemiskinan yang semakin melebar, ketimpangan ekonomi yang semakin dalam dan banyak lagi fenomena yang mengantarkan kita pada kesimpulan itu.  Bila pembangunan sudah tidak lagi mensejahterakan, apakah pembangunan pun harus merebut senyum dari wajah rakayatnya?

Adalah banyak kajian yang membuktikan bahwa kebahagiaan tidak berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan secara positif, terutama pendapatan. Karena kebahagian itu sangat unik dan rumit karena dia "tentang rasa" , banyak setatus pada media sosial yang menuliskan bahwa "sejahtera itu sederhana"tapi tak jarang yang menuliskannya itu sedang dalam susana hati yang tidak berbahagia, atau paling tidak punya ganjalan dengan rasa kebahagiaannya.

Bila pembangunan tidak lagi mensejahterakan, maka akan lebih baik digeser sedikit menjadi pembangunan yang membahagiakan. Konsepnya tidak terlalu rumit, "bahagiakan mereka yang dulu membahgiakan mu dan bahagiakan pula mereka yang belum sempat membahagiakan mu pada masa yang lalu karena boleh jadi nanti mereka semua akan membahagiakan mu".

0 komentar:

Posting Komentar